Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Kamis, September 13, 2012

ZISRA di Selatan Thailand: Rakyat Melayu Masih Berduka

Aktivis Indonesia dan Malaysia bhakti sosial di Thailand Selatan (foto: Mohd Syahiran)
Menjelang penghujung Ramadhan lalu, tepatnya 10-13 Agustus 2010, Suluh Nusantara bersama HMI mengirimkan dua orang utusannya, yaitu Dahroni Agung Prasetyo (Suluh Nusantara) dan Rausyan Fikr (HMI) untuk berkunjung ke distrik Yala, Selatan Thailand. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari acara ZISRA (Ziarah Persaudaraan Ramadhan) yang difasilitasi oleh teman aktivis dari Malaysia. Menurut salah satu pendiri Suluh Nuzantara M Chozin Amirullah, Delegasi Indonesia sempat menginap beberapa hari di sana untuk melakukan bakti sosial dan berdiskusi mengenai rencana kerja sama ke depan, terutama dalam bidang sosial dan pendidikan.

Berikut ini adalah penuturan perjalanan ke Selatan Thailand, sebagaimana ditulis oleh Rausyan Fikr.

Perjalanan ke Thailand Selatan tempuh dengan perjalanan darat dari Kuala Lumpur melewati negara bagian Kelantan dan selanjutnya memasuki perbatasan Thailand Bagian Selatan. Kami Pertama kali melangkahi perbatasan Kelantan menuju Thailand, hal yang paling berbeda dijumpai adalah banyaknya tentara (warga lokal menyebutnya "aska") yang menjaga kawasan konflik di selatan Thai ini. Hal itu terjadi karena masih banyak bom dan penembakan yang terus berlangsung di tiga kawasan "hitam" - Yala, Pattani, dan Narathiwat. Dalam bulan Ramadhan kemarin saja sudah terhitung ada bom yang meledak, penembakan warga/tentara, dan pembakaran sekolah yang terjadi di kawasan selatan. Namun berita tersebut jarang terdengar oleh masyarakat di asia tenggara khususnya Indonesia.

Masjid Raya Yala (Thailand Selatan). (Foto : Mohd Syahiran)

Penjagaan begitu terasa, ketika tim melanjutkan perjalanan untuk beribadah Sholat Jumat. Hampir setiap lima menit terdapat pos penjagaan yang dijaga oleh tentara bersenjata lengkap bersama kendaraan besinya. Sementara ketika sholat dan khutbah berlangsung, terdengar suara helikopter berseliweran diatas Masjid Raya Yala.

Pendudukan militer terjadi pada era pemerintahan Thaksin, dan mencuat setelah terjadi peristiwa pembunuhan di Melayu muslim di kawasan ini. Pendudukan tentara khusus di selatan Thai masih menimbulkan permasalahan hingga kini. Sebagai kawasan satu-satunya dimana tentara dapat dominan menguasai area diatas kerajaan, juga terdapat Undang-undang yang kerap disalahgunakan untuk penangkapan warga sipil.

UU darurat Thailand membolehkan para tentara (pihak berwenang) untuk menahan seseorang sampai dengan 111 hari di penjara, meskipun tanpa bukti. Ketika tim ZISRA berkunjung ke salah satu keluarga korban di Pattani, tepatnya di kampung Gajahmati, dalam rangka menyalurkan bantuan (11/8/2012), terdapat cerita dari pemuda-pemuda desa yang tentang bagaimana mereka ditahan kemudian dilepaskan lagi karena pihak tentara tidak mendapatkan bukti. Seorang pemuda mengisahkan dirinya bersama beberapa pemuda desa lain ditangkap oleh tentara waktu itu dengan dalih UU darurat. Ia dimasukkan ke dalam kamp. Dalam kamp tersebut banyak dari mereka yang mendapat siksaan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang tewas. Ia mengatakan, karena UU tersebut sekarang banyak pemuda di desa yang dipenjara, ataupun dilarang kembali untuk ke desa. Tidak heran bahwa dalam setiap kunjungan ZISRA maka yang dominan ditemui oleh peserta hanyalah Janda, Yatim, dan orang tua.

Benih Konflik Masih Terjadi di Selatan Thai
Kunjungan para peserta ZISRA (Ziarah Ramadhan) melawat beberapa kawasan konflik di tiga daerah selatan Thai (Yala, Narathiwat, Pattani). Salah satunya adalah tempat kedai kopi dimana terjadi penembakan kurang lebih satu minggu yang lalu. Di tempat itu sedikitnya 7 orang tertembak, 3 diantaranya tewas. Mereka sedang selesai menunaikan ibadah tarawih ketika peristiwa itu berlangsung. Tiba-tiba saja dua motor datang dengan masing-masing membawa senjata. Oknum yang menggunakan penutup muka itu seketika memberondong tembakan ke arah kedai. Warga yang duduk disitu tertembak di beberapa bagian seperti kepala, badan, dan kaki. Para pengendara motor itu langsung lari dan belum tertangkap hingga hari ini.

Sesaat setelah menyerahkan bantuan untuk janda dan anak korban penembakan (foto: Rausyan)
Warga menunjukkan satu bekas tembakan yang mengenai pohon (foto: Rausyan)

Ketika kami berkunjung ke rumah korban, peristiwa itu masih menimbulkan duka. Para korban meninggalkan janda dan beberapa anak yatim di rumahnya. Sedangkan warga disana juga tidak bisa berbuat apapun untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum. Warga bercerita bahkan ketika peristiwa berlangsung, tentara penjaga kawasan tidak berani datang hingga pagi harinya. Terdapat praduga warga tentang konspirasi yang sedang dijalankan terhadap mereka. Tragedi tersebut merupakan tragedi yang pertama kali lagi terjadi setelah pembantaian di masjid krisek Pattani 7 tahun silam yang menewaskan ratusan orang.

Sumber dari: RIMANEWS.COM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar