Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Senin, September 10, 2012

Melayu Patani di Selatan Thailand


 By: Faruq Junaidi
(Telah edit oleh Patani Fakta dan Opini)

Pemerintah kolonial Siam-Thailad melakukan berbagai program asimilasi yang bertujuan menggantikan identity agama dan cultural orang Melayu Muslim dengan idiologi nasional yaitu “Bangsa, Agama dan Raja
Thailand merupakan salah satu negara diantara negara negara di kawasan asia tenggara. Secara geografis, kawasan asia tenggara merupakan kawasan antara benua Australia dan daratan China, daratan India sampai laut China. dengan begitu, Thailand cukup mudah untuk dijangkau para pelancong dari zaman ke zaman untuk mencari penghidupan maupun penyebaran agama.

Majority penduduk Thailand beragama Budha, hanya sedikit yang beragama Islam dan Konghucu. Akan tetapi umat Islam di Thailand merupakan minority yang berkembang cepat dan merupakan minority terbesar setelah China, The Muslims are a significant minority group in Thailand. They are the second largest minority next to the Chinese.[1] Seperti halnya kaum minority di negara-negara yang lain, kawasan Thailand bagian selatan yang merupakan basis masyarakat Melayu-Muslim adalah daerah konflik agama dan persengketaan wilayah dengan latar belakang ras dan agama yang berkepanjangan. Lebih lebih ketika kerajaan Melayu dihapuskan pada tahun 1909, masyarakat melayu Patani dalam keadaan sangat tertekan. Khususnya pada pemerintahan Pibul Songgram (1939-44), orang Melayu telah menjadi mangsa dasar asimilasi kebudayaan.[2] Bahkan sampai saat inipun masyarakat muslim minority Patani Thailand menghadapi diskriminasi komplek dan teror yang berlarut-larut. Sehingga kehidupan sosial maupun politik menjadi sangat terbatas. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Nik Anuar,

“Sengketa di perbatasan negeri berlaku di merata dunia sepanjang masa. Bukan sedikit tentera dan orang awam terkorban sebelum Bukit Golan jatuh ke tangan Israel, India dan Pakistan berbalah hingga ke saat ini bagi mengesahkan hak ke atas Kashmir. Demikian juga halnya dengan isu Patani, Mindanao, Aceh, Timor Timur, Pulau Batu Putih, Pulau Layang-layang dan Spratly yang turut dituntut oleh Malaysia. Bukit Golan yang subur, Kashmir yang indah kepada pelancong, Spratly yang strategik bagi dan dikatakan sarat dengan petroleum di perut buminya, tapak Masjid Babri kerana sentimen agama terdahulu – semua ini menjadi alasan bagi sengketa, perbalahan dan perebutan.”

Konflik berkepanjangan di ‘PATANI’ tak ada bedanya dengan konflik minority muslim di pulau Moro Philipina dengan organisasi MILF. Keadaan tertekan seperti ini perlu adanya atensi yang lebih dari semua umat Islam dan membantu secara materi maupun moral demi mewujudkan komuniti muslim yang berdampingan damai dengan komuniti yang lainnya. Maka dari itu, penulis lewat artikel ini akan membahas secara singkat dan padat tentang sejarah panjang masuknya Patani di Sealatan Thailand serta keadaan sosial dan politik minoriti muslim di daerah konflik, yaitu Thailand bagian selatan.

Sejarah masuknya Islam di Thailand selatan
Karena studi ini merupakan studi agama dalam cakupan kawasan, maka Sebelum memasuki ranah antropologi-dalam hal ini keadaan sosial-politik masyarakat Melayu muslim minority di Thailand selatan-diperlukan pendekatan dan penelitian dari ranah sejarah. Pasalnya, studi kawasan-keagamaan mempunyai cakupan yang komplek dari sebuah kultur politik, ekonomi, bahasa, adat, sosial dll.[3]

Islam tidak serta merta ada di negeri Siam (sekarang Thailand). Meskipun Islam merupakan agama majoriti di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, akan tetapi Islam merupakan agama minority di daratan utama asia tenggara yang telah huni oleh Hindu dan Budha jauh sebelum Islam datang ke daerah tersebut sekitar abad ke-9, In mainland Southeast Asia, however, Islam has been a minority religion and Buddhism is a national religion. Historically the region had been dominated by Hinduism and Buddhism for centuries before the arrival of Islam around the ninth century.[4]
 
Hal ini sedikit bertentangan dengan apa yang dikemukakan Azyumardi Azra dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Asia Tenggara, bahwa Islam masuk di Thailand diperkirakan pada Abad ke-10 atau ke-11.[5] di kawasan Thailand selatan atau tepatnya di Kerajaan Patani. Islampun masuk ke daerah kerajaan Patani melalui pedagang-pedagang muslim dari Arab dan India[6] karena daerah Patani merupakan daerah yang maju dan strategis untuk disinggahi.[7] yang mana mereka disebut sebagai khek Islam atau orang muslim sebelum kerajaan Siam (Thailand) dibentuk. Karena pada awalnya, Pattani merupakan daerah yang terpisah dari Siam (saat ini Thailand), Muslims have been in Thailand since before the formation of the Thai kingdoms in the ninth century. [8]

Pada mulanya, Patani sendiri merupakan kerajaan yang terletak di sebelah Selatan Thailand dengan majority penduduk melayu yang dipimpin oleh penguasa muslim yang bernama Sulaiman. [9] dan Siam pada waktu itu berusaha untuk menguasai Patani dengan mengirimkan pasukannya berkali kali akan tetapi selalu gagal. Hingga pada pemerintahan Sultan Muzhaffar, Pattani menuju zaman keemasannya[10] sehinnga menarik ketamakan Siam untuk kembali meguasai Patani dan akhirnya dapat menguasainya setelah perang bertahun tahun.

Dari sinilah permulaan pemberontakan kaum Melayu Patani untuk melepaskan diri dari penjajahThailand yang telah menguasainya. Pasalnya, Siam bersikap keras dan menekan kaum minority Melayu dengan menyuruh mengganti nama nama mereka dengan nama Thailand serta mengambi adat istiadatnya.[11]

Kehidupan Sosio-Politik Minority Melayu Patani.
Pada tahun 1982 diadakan pertemuan di Malaka yang diikuti oleh utusan beberapa negara Asia tenggara termasuk Thailand. Pada kesempatan itu, hadir 800 Melayu muslim Thailand dan terdapat bebrapa lulusan Al Azhar mesir. Mereka berceramah tentang kehidupan minority Muslim di Thailand. Secara geografis, umat Melayu Muslim di Thailand bertempat di empat wilayah selatan Thailand yaitu;
  1. Patani
  2. Yala
  3. Narathiwat
  4. Songkhla
Dengan jumlah penduduk Melayu keseluruhan di Patani lebih dari 3 juta jiwa. Sedangkan di Thailand majority penduduknya beragama Budha.[12] Kaum muslim di Thailand sendiri terbagi menjadi 2 bagian. Muslim Melayu dan muslim non Melayu. Dengan persentase 80% : 20%.[13]

Dalam tatanan sosial, Melayu di Selatan Thailand mendapatkan julukan yang kurang enak untuk didengar. Yaitu khaek yang berarti orang luar, pendatang atau tamu. Meskipun pada mulanya khaek merupakan term untuk makro-etnis bagi orang selain Thai tapi lama kelamaan term tersebut dipakai pemerintah untuk mendeskripsikan kaum melayu-muslim diselatan Thailand.[14]

Hingga istilah Thai-Islam dibuat pada 1940-an. Akan tetapi istilah ini menimblkan kontradiksi karena istilah “Thai” merupakan sinonim dari kata “Budha” sedangkan “Islam” identik dengan kaum muslim melayu pada waktu itu. Jadi bagaimana mungkin seseorang menjadi budha dan muslim pada satu waktu? Maka dari itu kaum melayu Patani lebih suka dipanggil Malay-Islam,
‘The problem is that, while the word “Thai” is synonymous with “Buddhism”, for the Malay-Muslims the word “Muslim” also means “Malay.” So how can they be both “Thai” and “Islam”? The category of “Thai-Islam”, therefore, has been regarded as insensitive, if not an insult, on the part of the Thai government by the Muslims, especially those in the South. They prefer to be called by the historically and politically correct term Malay-Muslims’ [15]

Dari problem rasial seperti di atas, timbullah pengelompokan kaum muslim di thailand menjadi 2 golongan.

Pertama, assimilated group. Atau golongan yang terasimilasi atau berbaur dengan kaum majority yaitu agama masyarakat Thai-Budha pada segala bidang tatanan kehidupan hanya saja tidak sampai pada masalah keagamaan.

Kedua, unassimilated group. Atau golongan yang tidak berbaur namun menyendiri di Thailand bagian Selatan. Yang masih menunjukkan kultur melayu-Islam pada nama, bahasa dan adat. Golongan ini bertempat tinggal di daerah Yala, Narathiwat dan Pattani. Kecuali sebagian daerah Songkhla yang sudah terasimilasi dengan kelompok majority Thai.[16]

Dalam kaca mata historis, kehidpan sosio-politik kaum Melayu Patani di Thailand selatan khususnya bisa dibagi menjadi tiga fase.

Fase Kerajaan Melayu Patani.
Menurut A.Teeuw dan Wyatt kerajaan ini berdiri sendiri tanpa aturan dari kerajaan Siam atau Thailand. Fase ini dimulai sekitar abad ke-14. dimana kerajaan melayu Patani telah dibentuk,
“A.Teeuw dan Wyatt berpendapat bahawa Patani telah ditubuhkan sekitar pertengahan abad ke-14 dan ke-15. Pendapat mereka berasaskan kepada tulisan Tomes Pires dan lawatan Laksamana Cheng Ho ke rantau ini dalam tahun 1404-1433 T.M. (Teeuw & Wyatt 1970,3). Mengikut Hikayat Patani pula, Kerajaan Melayu Patani berasal dari kerajaan Melayu yang berpusat di Kota Mahligai yang diperintah oleh Phya Tu Kerab Mahayana (Teeuw & Wyatt 1970,68).”[17]

Kehidupan Patani di semenanjung Siam yang strategis menjadi tujuan pedagang pedagang dari berbagai penjuru dunia, sehingga menjadikan Patani daratan yang ramai dan sibuk. Sehingga dalam waktu yang singkat Patani telah menjadi kerajaan yang kuat dan ramai dari segi ekonomi maupun politik. Hubungan Patani dengan luar negeri yang baik menjadikannya selamat dari penjajahan negara Siam, Portugis dan Belanda.

Islam masuk di kerajaan Melayu-Patani sekitar abad ke-13. historically, the muslim presence in traditional thai polity is traceable to the 13th century in the Sukhothai era. It was, however, during the Ayutthayant period that muslim asserted their dominan position.[18] Nik Anuar Nik Mahmud menambahkan bahwa Islam masuk ke kerajaan Patani pada abad ke-13 dan lebih awal dari malaka, Islam telah bertapak di Patani lebih awal daripada Melaka (Mills 1930). Dalam hal ini, Teeuw danWyatt berkeyakinan bahawa Islam telah bertapak di Kuala Berang, Terengganu, iaitupada sekitar 1386- 87 T.M. (Teeuw & Wyatt 1970, 4).[19]

Keadaan yang seperti ini menjadikan kerjaan melayu Patani menjadi tujuan para pedagang pedagang muslim maupun non muslim dari belahan bumi barat dan menancapkan ajaran agama Islam pada sekitar abad ke-13.

Fase Kerajaan Melayu-Pattani dalam Kekuasaan Kerajaan Siam
Fase ini dibagi menjadi beberapa bagian dimana Kerajaan Melayu Patani mendapatkan hak otonomi dari kerajaan Siam sebelum tahun 1808 M. Dan lambat laun mendapat pengaruh dari Sukhotai. Penjelasan struktur melayu patani di bawah kekuasan Thailand ada pada tabel berikut ini,

Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa muslim Patani menjadi minority yang sepenuhnya diatur dibawah kekuasaan Siam-Thailand. Hingga pada akhirnya Kerajaan Melayu Patani yang berada di wilayah selatan Thailand dibagi dalam empat propinsi, Pattani, Yala, Narathiwat dan Songkhla.[20]

Fase Modern Melayu di Thailand Selatan.
Dimana masuknya pengaruh pengaruh barat pada awal abad ke-19 telah merubah Siam menjadi modern pada berbagai bidang, ekonomi, politik dan pendidikan. After years under colonial rule-both direct and indirect in the case of Siam or Thailand-the society and politics of the region had been shaped largely by modernization, including an invention of a centralized administrative government, a modern education system and a modern economy. [21]

Hal serupa telah memberi pengaruh pada generasi muda Melayu Patani di Thailand Selatan yang selama ini dalam kekuasaan Thailand dan menumbuhkan semangat nasionalisme dalam diri mereka untuk menjadi merdeka dan berdiri sendiri dari kekangan Thailand, Thus, it can be said that the Western impact that drove Siam to secure its independence and modernization also gave the Malay-Muslim states an opportunity to assert its own autonomous state and religion vis-à-vis the modernized Thai nation-state [22]
 
Pibul Songgram
Dimulailah perjuangan utuk menuntut kemerdekaan bagi wilayah Melayu Thailand Patani dari tiga wilayah dan sebagian daerah Songkhla di Thailand selatan. Kesempatan untuk merdeka semakin terbuka lebar ketika terjadi terjadi perang pasifik dengan Thailand dan Jepang melawan Britain dan Amerika. Setelah kekalahan Britain di Melayu dan kekalahan Amerika di Hawai, pada 21 Disember 1941, Pibul Songgram berpihak kepada Jepang. Sebagai imbalan, Jepang berjanji akan menyerahkan wilayah melayu utara, Kelantan, Kedah, Trengganu dan Perlis Kepada Thailand.

Pada 25 januari 1941, Thailand mengobarkan perang melawan Britain, akan tetapi berbeda dengan Amerika yang membiarkan kedua negara tersebut bertikai. Hal ini dimanfaatkan oleh Patani dan wilayah melayu muslim Thailand selatan untuk memanfaatkan Britain membantu mereka merdeka dari belenggu Thailand dan dipimpin oleh Tengku Muhyidin. [23]

Akan tetapi Britain mempunyai kehendak lain dibalik perseteruannya dengan Thailand sehingga tengku Muhyidin sadar bahwasanya dirinya telah menajadi mangsa percaturan politik Britain-Thailand.

Tengku Muhyidin
Kegagalan tengku Muhyidin dalam membebaskan Patani telah menggalakkan ulama Melayu Patani untuk turun berjuang di wilayah terbuka. Akan tetapi mereka sadar bahwa keadaan politik yang ada menjadikan mereka sulit untuk mendapatkan kemerdekaan. Lebih lebih ketika Britain dan Amerika mengakui kedaulatan Thailand pada 1 janurai 1941. Hal ini menyisakan satu solusi bagi umat Melayu Patani di Thailand selatan, yaitu menuntut otonomi penuh bagi empat wilayah Thailand selatan dari penguasa thailand. [24]

Perjuangan belum berakhir.
Kegagalan merebut kemerdekaan bagi wilalyah Melayu Patani di Thailand selatan telah memunculkan gerakan gerakan baru yang lebih besar. Pada tahun 1950 dan seterusnya hubungan Melayu Patani dengan penguasa Thailand diliputi ketidakpercayaan, kecurigaan dan kesalahpahaman yang berlarut larut. Hal itu dikarenakan ketidak setujuan komuniti Melayu pada aturan aturan dan proses asimilasi yang dilakukan oleh pemerintah Thailand kepada komuniti Melayu Patani,

“From the late 1950s to the present, relations between the Malay-Muslims of the South and Thai authorities have been relatively the same. Mistrust, patronizing and misunderstanding on the part of the government officials are still prevalent. Fear, resentment and disapproving of Thai rule and power are also rampant among the Malay-Muslims. Similar policies aimed at integration and assimilation of the Muslims are still being prescribed to the local offices.” [25]

Pada tahun 1970, diberlakukan operasi pembersihan gerakan anti-pemerintah diwilayah Melayu Patani Thailand selatan. Keadaan menekan tersebut menimbulkan reaksi keras dari komuniti Melayu Patani dengan bermunculannya gerakan pemberontakan dan pembebasan wilayah Melayu Patani; Barisan Nasional Pembebasan Pattani (BNPP), Barisan Revolusi Nasional (BRN), Bertubuhan perpaduan Pembebasan Pattani (PPPP) atau PULO. Yang menjadi motor pergerakan pembebasan Melayu Patani dan wilayah muslim lainnya.

Akan tetapi, Pergolakan menahun antara muslim minority dengan pemerintah, menurut Patrick Jory, sebenarnya adalah perseteruan dua etnis, Melayu-Patani dengan etnis “Thai” sebagai majority. Akan tetapi mengapa pada saat ini menggunakan label agama “Islam”? Masih menurut Patrick Jory, bahwa pada masa kolonial, pemerintah berusaha untuk menghilangkan istilah “Malay” (melayu) pada masyarakat Thailand selatan dan menggantinya menjadi “Thai-Muslim” atau “Thai-Islam”. Karena identity melayu akan memberikan kekuatan menumbuhkan semangat nasionalisme dan berusaha berpisah dari pemerintah Thailand, it feared that with the new, post-colonial logicof nation-based states, recognition of the people of the region as “malay” might give credibility to demands for the separate malay state.[26] Dan diharapkan dengan pergantian linguistik tersebut, gerakan asimilasi malay-muslim dengan thai-budha akan tercapai, the government has attempted to replace it with the religious label “Thai-Muslim” in the hope that this linguistic change would contribute to the overall goal of assimilation.[27]

Terlepas dari konflik etno-religious yang terjadi, umat Melayu Patani di Thailand selatan di masa kontemporer ini telah mengalami peningkatan yang signifikan di berbagai bidang. Meskipun tetap berada dalam tekanan dan diskriminasi dari pemerintah Thailand. Melayu Patani bukanlah komuniti baru dan juga bukan komuniti yang dipinggirkan. Maka dari itu Melayu Patani saat ini adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat Thailan secara keseluruhan dan tetap menjadi minority di berbagai bidang, sosial maupun politik. The muslims today just as the past continue to be numerically and politically significant as national minority in modern-day Thailand. [28]

Epilog.
Melayu Patani di Thailand mempunyai sejarah tersendiri yang bisa dibilang tragis dan berliku. Mulai dari abad ke-13 dimana Agama Islam menapakkan kakinya di kerajaan Patani dan kemudian menjadi majority di wilayah tersebut. Masyarakat Melayu Patani saat ini telah menjadi bagian integral dari keseluruhan pemerintahan dan komuniti Thailand dari beberapa abad yang lalu. Secara historis, kultur dan ekonomi, masyarakat minority Melayu Patani telah mengalami peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu. Akan tetapi mereka tetap berusaha menjadi bagian komuniti yang dipahami.

Hal itu berangkat dari background masyarakat Melayu Patani sendiri, yaitu komuniti Melayu Patani yang dari awalnya berdiri sendiri dan kemudian dikuasai oleh Siam atau Thailand. Dan saat ini, dimana modernisme merambah semua negara dan Thailand menjadi negara demokrasi, Melayu Patani mulai dipandang positif oleh komuniti yang lainnya. Hal ini memunculkan era baru antara muslim-pemerintah yang memberikan ruang lebih luas bagi umat Melayu Patani merambah dunia politik dan ekonomi. Hal ini tampak dari pertumbuhan masjid di Thailand yang berkembang pesat; Bangkok 159 masjid, Krabi 144 masjid, Narathiwat 447 masjid, Pattani 544 masjid, Yala 308 masjid, Songkhla 204 masjid, Satun 147 masjid.[29] Dan beberapa masjid di berbagai kota di Thailand. Biarpun begitu, minority Melayu Patani masih jauh dari kelapangan dalam hidup. Karena mereka tetap menjadi minority yang mendapatkan tekanan dan diskriminasi yang tak henti henti.
Wallahu a’lam bisshawab…


DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Al-Habib, 2001, Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, Jakarta: Lentera Basritama.
Anuar, Nik Mahmud, 2004. Sejarah Perjuangan Melayu Patani 1885-1954, Saremban.
Aphornsuvan, Thanet, 2003. History and Politics of The Muslim in Thailand, Thammasat University
Azra, Azyumardi, 2005, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Jakarta: Kencana.
Farouq, Omar Bajunid, The Muslim In Thailand: A Review, at Shouteast Asian Studies, (Volume 37. No. 2 September 1999)
Jory, Patrick, dalam Religious Labelling. From Patani Malayu To Thai Muslim, jurnal ISIM, (Volume 18, Autumn 2006)
Ma’afi, Rif’at Husnul, “Pendekatan Studi Kawasan dalam Studi Islam” dalam Kalimah: Jurnal Studi Agama-agama dan Pemikiran Islam (Volume 4 Nomor 2 September 2006, hal. 137-153).
Maryam, Siti (Eds.), Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern Yogyakarta: Lesfi

[1] Thanet Aphornsuvan, History and Politics of The Muslim in Thailand, (Thammasat University: 2003), hal. 3
[2] Lihat Nik Anuar Nik Mahmud, Sejarah Perjuangan Melayu Patani 1885-1954, (Saremban: 2004), hal. 2
[3] Drs. Rif’at Husnul Ma’afi, M.Ag, Jurnal Kalimah, (Vol. 4 No. 2 September 2006) menurut pengarang, studi kawasan merupakan studi kritis ilmiah yang mendasarkan pada penelitian suatu wilayah geografis tertentu yang memiliki ciri ciri tipologi baik bahasa, adat istiadat, budaya, ekonomi, sosial, andtropologi dan lainnya. Dan hal ini membuthkan membutuhkan pendekatan sosial keagamaan yang interdisipliner.
[4] Thanet Aphornsuvan, op.cit., hal. 7
[5] Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A, Ed, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Asia Tenggara, No. 5, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), hal. 466
[6] Siti Maryam, Eds., Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: Lesfi, 2004), hal. 332
[7] Juga ditambahkan dalam bukunya bahwa Pattani adalah sebuah kerajaan yang termaju di Semenanjung Tanah Melayu dan sebuah pelabuhan yang penting sejak kurun ke-8 Masehi kerana Teluk Langkasuka (Teluk Pattani sekarang) sangat sesuai dijadikan tempat kapal-kapal dagang berlabuh dan berlindung daripada ribut tengkujuh. Lihat Thanet Aphornsuvan, op.cit., hal. 3
[8] dan sinilah permulaan penyebaran agama Islam dimulai yang kemudian merambah daratan Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.Lihat Thanet Aphornsuvan, op.cit., hal. 7
[9] Al-Habib Alwi, Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, (Jakarta: Lentera Basritama, 2001), hal. 139-140
[10] Pada masa itu, pattani merupakan daerah yang sangat maju dalam hal perdagangan, pertanian dan kemakmuran. Bahkan membuat senjata senjata berat seperti meriam dan menjualnya. Sehingga banyak orang barat yang datang berkunjng dan mengaguminya. Lihat Al Habib Alwi, Ibid, Hal. 140
[11] Al Habib Alwi, Ibid, hal. 140
[12] Ibid. hal. 141
[13] Lihat Thanet Aphornsuvan, op.cit., hal. 7: The Malays are the majority at 80%, while the Thai, Pakistani, Indian, Chinese and others of Muslim faith constitute about 20% of the Thai-Muslim population.
[14] Thanet Aphornsuvan, op.cit., hal. 5
[15] Thanet, op.cit. hal. 5
[16] Thanet, op.cit., hal. 5
[17] Nik Anuar Nik Mahmud, op.cit., hal. 4
[18] Omar Farouq Bajunid, The Muslim In Thailand: A Review, at Shouteast Asian Studies, (Volume 37. No. 2 September 1999)
[19] Nik Anuar Nik Mahmud menambahkan bahwa Islam masuk ke kerajaan melayu-Patani melalui seorang ulama dari Pasai, Syeikh Said, telah menukar namanya kepada nama Islam iaitu Sultan Ismail Syah Zillullah Dil Alam (Teeuw &Wyatt 1970, 68-69). Semenjak itu, Patani telah menjadi tumpuan saudagar-saudagar Islam dan menjadikannya sebagai pusat perdagangan Timur-Barat yang terkenal di rantau ini. Lihat Nik Anuar Nik Mahmud, op.cit. hal. 4
[20] Table diatas diambil dari History and Politics of the Muslims in Thailand karya Thanet, op.cit., hal. 33
[21] Thanet, op.cit., hal. 14
[22] Thanet, op.cit., hal. 14
[23] Tengku Muhyidin, seorang ulama patani terpilih ntuk memikul tanggung jawab pergerakan pemebebasan mslim thailand selatan. Beliau dilahirkan di patani pada tahun 1905.begitulah tengku muhyidin besekutu dengan inggris yang saat itu berseteru dengan Thailand untuk membebaskan wilayah patani wilayah muslim lainnya di selatan Thailand. Lihat Anuar Nik Mahmud, op.cit., hal. 34
[24] Perjuangan ini diteruskan oleh Haji Abdul Kadir yang mempunyai kedekatan politik dengan penasihat muslim Thailand yang mempunyai hubungan langsung dengan perdana menteri Pridi Banamyong. Akan tetapi, belum berbuah perjuangan Abdul kadir hingga Pridi Banamyong mengundurkan diri karena dituduh terlibat dalam kematian raja Ananda Mahidol. Lihat Nik Anuar Nik Mahmud, op.cit., hal 34
[25] Thanet, op.cit., hal. 27
[26] Patrick Jory, dalam Religious Labelling. From Patani Malayu To Thai Muslim, jurnal ISIM, (Volume 18, autumn, 2006) hal. 42
[27] Ibid, Patrick Jory, hal. 42
[28] Ibid, Patrick Jory, hal. 221
[29] Ibid, Patrick Jory, hal. 231

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar