Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Jumat, April 17, 2015

Konflik Thailand Selatan Perlu Bahas Dalam Konferensi Asia-Afrika 2015

Peringatan 60 tahun Konfrensi Asia Afrika adalah perkuatan, stragthening, kerjasama selatan-selatan. Konfrensi Asia Afrika perlu mengusulkan adanya sesi khusus dalam Konferensi untuk membahas situasi konflik terkini di Thailand Selatan.

New Asia Africa Youth Conference 2015 yang akan diadakan di Bandung Indonesia pada 20-22 April 2015. Terdapat dari 43 negara, perwakilan pemuda dari Asia Tenggara ambil bagian Kenferensi Pemuda Asia Afrika yang akan datang. Sementara negara-negara dari Asia-Afrika hingga kini dapat 21 negara yang memastikan hadir, Selebihnya dari luar Eropa dan Amerika. 

Pada peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang ke 60 ini, akan menghasilkan dua deklarasi yaitu "Pesan Bandung" dan "Deklarasi Palestina". Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri M. Fachir di Istana Bogor. (17/02/2015)

Ada dua deklarasi yang akan dihasilkan dalam Konferensi Asia-Afrika ke-60 di Bandung, Jawa Barat, pada April mendatang. Dua deklarasi itu akan dinamakan "Pesan Bandung" dan "Deklarasi Palestina". Deklarasi soal Palestina saat ini tengah dibahas oleh para utusan masing-masing negara di New York. "Yang jelas, tentu saja dukungan politik terhadap Palestina juga dukungan-dukungan lainnya yang diberikan selama ini, termasuk capacity building, jelas M.Fachir.

Tema yang akan diangkat dalam peringatan 60 tahun Konfrensi Asia Afrika adalah perkuatan, stragthening, kerjasama selatan-selatan. Kerjasama selatan-selatan sekaligus juga ajang kampanye global akan kontribusi terhadap upaya untuk mempromosikan perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Apa bagi peran pemuda bangsa Patani ada kesempatan ikut ambil bagian dari Konferensi Pemuda Asia Afrika. Setidaknya ada perwakilan pemuda Patani bisa ada kader mengambil langkah awal membawa peranan dalam mesej kerjasama selatan-selatan bagi wakil bangsa Melayu Patani upaya mencari kedamaian di Selatan Thailand yang telah lebih sedekat konflik berdarah berkepanjangan.



Perlu melihat konflik di Selatan Thailand terus terjadinya korban sipil dalam berbagai konflik dan krisis yang berkecamuk di kawasan ini. Sikap Konfrensi Asia Afrika perlu meyakini pada persatuan Islam akan dapat berkontribusi bagi perdamaian dan kesejahteraan dunia. Juga mendorong perlunya negara-negara anggota OKI mengambil inisiatif untuk menemukan solusi damai mengatasi konflik tersebut. Memandangkan masih ada koflik di Asia Tenggara ini yang terus berlangsung hingga banyak korban manusia berjatuhan.

Konfrensi Asia Afrika perlu mengusulkan adanya sesi khusus dalam Konferensi untuk membahas situasi terkini konflik di Thailand Selatan. Perlunya mengumandangkan bahwa masyarakat Melayu Patani di Selatan Thai adalah comunity Melayu yang cinta damai serta toleran.

Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip Dasa Sila Bandung yang dilahirkan pada KAA tahun 1955 masih sangat relevan dalam menghadapi berbagai tantangan global saat ini,

Mengingatkan piagam Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan antaranya, 
a. Bangsa-bangsa Asia – Afrika memiliki persamaan nasib dan sejarah yakni samasama menjadi sasaran penjajahan bangsa-bangsa Eropa.
b. Semakin meningkatnya kesadaran bangsa-bangsa Asia-Afrika yang masih terjajah untuk memperoleh kemerdekaan misalnya, Yaman sedang berjuang membebaskan Aden dari kekuasaan Inggris, Rakyat Aljazair, Tumisia, Maroko, Sudan, dan Kongo sedang membebaskan tanah airnya dari kekuasaan bangsa Eropa, dan lain-lain.
c. Perubahan politik yang terjadi setelah Perang Dunia II berakhir yakni situasi internasional diliputi kecemasan akibat adanya perlombaan senjata antara Blok Barat dan Blok Timur.
d. Diantara bangsa-bangsa Asia yang telah merdeka masih belum terdapat kesadaran untuk bersatu, yang kemudian Rusia dan Amerika Serikat ikut melibatkan diri dalam masalah tersebut.

Tujuan Konferensi Asia-Afrika mempertimbangkan masalah-masalah mengenai kepentingan khusus dari bangsa-bangsa Asia-Afrika seperti yang menyangkut kedaulatan nasional, rasionalisme, dan kolonialisme.

Konferensi Asia-Afrika juga mengajak semua bangsa di dunia untuk hidup bersama dalam perdamaian dan menjalankan kerja sama dalam suasana persahabatan atas dasar sepuluh prinsip yang dikenal dengan “Dasasila Bandung” (Bandung Declaration). Adapun isi Dasasila Bandung selengkapnya adalah :
1) Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat dalam Piagam PBB.
2) Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
3) Mengakui persamaan ras, dan persamaan semua bangsa baik besar maupun kecil.
4) Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soal-soal besar maupun kecil.
5) Menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian atau secara kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.
6) a. Tidak menggunakan peraturan-peraturan pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus salah satu negara besar.
b. Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain.
(7) Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman agresi ataupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
(8) Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, perundingan, persetujuan, arbitrase atau penyelesaian hukum, ataupun cara damai lain lagi menurut pihak-pihak yang bersangkutan, sesuai dengan Piagam PBB.
(9) Memajukan kerja sama untuk kepentingan bersama.
(10) Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

Ditunjuknya Indonesia menjadi tuan rumah dalam peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA), tentu saja menjadi momen berharga bagi Indonesia untuk kembali memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia. Dalam sejarahnya Konferensi Asia-Afrika pertama kali digelar pada 18-24 April tahun1955.

Indonesia dan negara lainnya seperti Myanmar, Srilanka, India, dan Pakistan menjadi inisiatornya. Selain untuk mempromosikan kerja sama ekonomi dan Asia-Afrika, gerakan ini juga dianggap sebagai sikap melawan kolonialisme Amerika Serikat dan Uni Soviet serta negara imperialis lainnya. Dan discussion board ini pula yang menjadi cikal bakal terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961. Selain memperingati 60 tahun Konferensi Asia Afrika, dalam perhelatan ini juga akan diperingati 10 tahun kerja sama strategis negara-negara Asia dan Afrika, New Asia-Africa Partnership Strategic (NAPS).


Bendera negara peserta ktt asia afrika 2015 mulai terpasang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar