Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Kamis, Agustus 28, 2014

Dua Abad Bangsa Melayu Patani Menangis


Apa pun penyebab konfliknya, warga Melayu di Thailand Selatan saat ini nasibnya makin menyedihkan, bagi yang sabar, mereka tetap bermukim di tanah leluhur mereka, namun sebagian dari warga Melayu di Selatan banyak hijrah ke negara tentangga. Setiap hari dan pekan, terus saja korban berjatuhan, baik di pihak Siam maupun Melayu. Setiap hari warga tewas mengenaskan, Persoalan berikutnya siapa?
Aksi pembunuhan warga Melayu di wilayah Thailand Selatan (Provinsi Narathiwat, Pattani, Yala, dan Songkhla) tidak pernah berhenti. Dalam catatan berdarah dalam satu decade ini kita masih ingat Tragedi April 2004, yakni serangan ke Masjid Krue See menyebabkan 108 pemuda warga Melayu tewas. Selanjutnya pembantaian di Tak Bai, 79 warga Melayu tewas dan 1.000 demonstran ditahan. Ini hanya sebagian catatan kecil yang bisa meliputai pada dunia.

Dua Abad Bangsa Melayu Patani Menangis



Melayu di Asia Tenggara, yang tersebar dari wilayah Thailand Selatan sampai ke Kerajaan Sulu, Palawan (Filipina Selatan), Kerajaan Demak, Goa dan sejumlah kerajaan Melayu di Nusa Tenggara Barat (NTB), mereka umumnya mengalami tekanan dari penjajah (bangsa Eropa, khususnya Belanda, Inggris dan Spanyol).

Tetapi sebagian kerajaan Melayu (Baca: umat Islam) itu bebas dari belenggu penjajah, seperti bangsa Melayu Indonesia dan bangsa Melayu Malaysia, mereka tidak lagi harus melakukan perlawanan pada rezim kolonialisme, namun sebaliknya dialami Melayu di Thailand Selatan, mereka sampai sekarang masih terus tertindas, tidak bisa berpolitik dan berkarir dalam pendidikan dan menjadi pengusaha.

Sejarah kekejaman Siam terhadap bangsa Melayu di Thailand Selatan ini sudah lama, kalau dirunut mungkin lebih dari dua abad, tergantung masa kapan kita melihatnya. 

Kalau merujuk sejak perjanjian Melayu-Siam (1909), yakni pembagian wilayah Malaysia yang dikuasi Inggris, maka sudah 105 tahun bangsa Melayu Patani diduduki oleh panjajah Thailand. Namun, bila dihitung sejak jatuhnya kerajaan Melayu Patani (1786), maka usia penjajahan Siam telah mencapai 228 tahun. Penjajahan berlangsung lebih lama, bila dihitung sejak jatuhnya Kerajaan Melayu Tambralingga (1292) dijadikan patokan bagi keganasan Siam. Kita mungkin melihat kerajaan Melayu di Thailand itu hanya Patani, padahal ada sejumlah kerajaan Melayu lainnya yang juga melakukan perlawanan terhadap Siam. Prasasti Sukhothai menjelaskan, kerajaan Melayu Tambralingga telah ditaklukkannya pada 1292. Sasaran selanjutnya adalah Kerajaan Melayu Langkasuka (Patani) dan Kathaha (Kedah) yang amat kuat akar ke-Malayuannya. Sejak itu, Siam dipandang sebagai musuh abadi bangsa Melayu (Muslim).

Menurut Mohammad Zamberi A Malek, dosen Akademi Pengajian Melayu di Universitas Malaya (UM), tekanan Kerajaan Siam itu sudah lama berlangsung, namun intensitasnya naik turun, yakni sejak 1294 dibangun garis batas Melayu-Siam di Petchburi-Ratchburi, berdekatan dengan Kota Bangkok sekarang, tetapi ini tidak menyelesaikan masalah. Desakan Siam terus berlanjut, sampai-sampai ada sepuluh kali peperangan antara Siam- Patani yang tercatat dalam sejarah. Pertempuran pertama meletus di masa Sultan Muzaffar Syah (1530-1564). Sebanyak dua kali angkatan perang Patani mencoba menaklukkan Kerajaan Ayuthia (1563). Meski gagal, momen itu diingat sebagai keberanian untuk menyerang ibukota Kerajaan Gajah Putih.

Gambar: A 1602 Dutch engraving ( entitled “ Triumphal procession near the city of Patani ” ) of the entourage of Patani’s famed Raja Hijau (1584-1616). The Queen rides a decoratively harnessed elephant, accompanied by her maids-in-waiting (and plausibly her sisters, the future Rajas Biru and Ungu) on other elephants. Noblemen accompany the entourage, which has its full complement of Malay palace guards and soldiers in Portuguese-supplied helmets and battle gear. According to the original German and Latin text, two elephants in the vanguard carry armaments in honour of the late King and Raja Hijau’s father, Sultan Bahadur Shah @ Sultan Mansur Shah. Image: Isaac Commelin, “ Hoe de Koninginne van Patana haer gaet vermaecken ” in Begin ende Voortgang van de Vereenigde Nederlandsche Geoktrooieerde Oost-Indische Compagnie (Beginning and Ending of the Dutch East India Company), 1646, extracted from the Atlas of Mutual Heritage, Nationaal Archief, Nederland (National Archive of the Netherlands).


Kedua, pada 1603, Patani diserang, namun tentara Siam tak bisa menginjakkan kakinya dengan aman. Ketiga, pada 11 Mei 1634, Siam secara besar-besaran bertekad menghancurkan Patani yang kebetulan dipimpin seorang raja perempuan, namun sekali lagi gagal total. Sejak itu berturut-turut Siam melancarkan serangan pada 1671, 1679, dan 1709 ke wilayah Patani Rencana penyerbuan digencarkan kembali 1786 oleh Raja Muda Siam, Phra Rathcawong Bovom Satan Mongkhol. Lewat pangkalan militernya di Songkhla, serangan laut dilakukan sampai mendarat di daerah Jering. Kota Gerisik di Patani pun digempur habis, dari nama kota itu kita tahu, bahwa dakwah Islam dari Nusantara (Sunan Gresik Indonesia) pernah sampai ke Patani; Sultan Muhammad (1776-1786) pun menjadi korban kekejaman Siam, dan seluruh negeri Patani jatuh pada November 1786.

Kekalahan itu membawa penderitaan bangsa Melayu di Patani yang berpenduduk 90.000 orang. Sekitar 15.000 orang hijrah ke Perak, Kelantan, Trengganu dan Kedah. Sedikitnya 4.000 orang Patani ditawan dan dikerahkan membangun terusan secara paksa. Sebagian lain dijadikan tawanan perang yang bertugas di garis depan pasukan Siam untuk umpan lawan, dalam mengamankan Bangkok dari serangan musuh.

Bersamaan dengan penyerbuan Siam ke Patani, pasukan Inggris mendarat di Pulau Pinang, Malaysia. Raja-raja Melayu Semenanjung mengharap bantuan Sir Francis Light, namun Inggris terbukti bersekongkol dengan Siam. Pada 1832 meletus lagi peperangan akibat penyerbuan Siam ke Kedah. Pasukan Patani, Kelantan dan Trengganu ikut membantu peperangan, namun sebagian pasukan melarikan diri. Lagi-lagi penduduk Patani yang berjumlah 54.000 orang jadi korban balas dendam Siam, 6.000 orang di antaranya ditawan.

Patani towns were burned down and ruined during the conflict.

The Melay Patani they brought to Bangkok.

125 Melay Patani families were burned alive in the Belukar Samak region alone.

Setelah Inggris datang dan menguasai wilayah Malaysia, maka Patani pun tetap dibawah naungan Siam, keinginan Inggris menguasai Thailand Selatan dibatalkan karena diplomasi kerajaan Siam.

Kerberhasilan Kerajaan Siam dalam berdiplomasi seperti diungkap Bersihar Lubis dalam artikelnya di Riau Pos, yakni dalam Kisah Raja Mongkut dari Thailand yang terancam karena tetangganya, Burma dan India telah dijajah Inggris, sementara Indocina (Kamboja) dan Vietnam dijajah Prancis adalah contoh diplomasi yang bagus dari abad ke 19.

Mongkut gamang kalau-kalau tentara Inggris yang menempatkan diplomat Lord Braedley di Burma akan merambah ke negerinya. Mongkut meminta Anna Leonowens, seorang warga Inggris yang mengajari keluarga istana dengan bahasa dan kebudayaan Eropa mengadakan pesta jamuan makan dengan mengundang para petinggi Inggris.



Luar biasa. Anna mengemas seisi istana Mongkut dengan busana Barat bergaya Victorian, seperti tergambar dalam film ‘Anna and The King’, kisah nyata yang disutradarai oleh Andy Tenant itu. Anna juga mengatur acara sehingga Mongkut menggelar dansa waltz yang meriah dan membuat Lord Bradley percaya atas persahabatan yang ditawarkan oleh Thailand.

Akibatnya, Prancis batal mencaplok Thailand karena kedekatan Mongkut dengan Inggris. Tak dinyana, Thailand telah diselamatkan oleh pesta dansa. Berkat diplomasi juga, Thailand tak ikut dijajah Jepang pada Perang Dunia II lampau. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar