Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Sabtu, April 14, 2012

Warisan Kolonialisme di Tanah Melayu Asia Tenggara


Konflik berkepanjangan di tanah Malayu Patani merupakan warisan bangsa penjajah masa lalu. Ini dosa politik bangsa kolonial yang juga terjadi di Asia tenggara, ada kelompok-kelompok etnis dimasukkan ke suatu negara padahal secara culture masyarakatnya lebih pas dengan negara lain. Konflik Patani merupakan warisan bangsa kolonial setelah meninggalkan wilayah tersebut. Tidak jelinya mereka mengakibatkan ketegangan antaretnis. Namanya juga penjajah, ya terserah seleranya mau bagi-bagi wilayah. (Nurani Chandrawati, Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI).

Perjanjian Anglo Siam-Inggeris 1909


Kasus serupa juga terjadi di Thailand Selatan. Etnis Melayu Muslim Patani menuntut kemerdekaan penuh, karena ketidaksesuaian faktor sosio-kultural dengan rezim yang berkuasa. Pada tahun 1457 daerah Patani merupakan Kerajaan Melayu Patani. Kondisi Patani tersebut sama seperti daerah tetangganya Perlis dan Kelantan di daerah Malaysia Utara. Namun pada 1875 Patani diduduki Thailand. Kemudian datanglah Inggris ke semenanjung Malaka.

Dalam perjanjian ‘Anglo’ antara Inggris dengan Thailand, Patani menjadi bagian dari Thailand. Sedangkan Perlis dan lain-lain menjadi bagian dari jajahan Inggris. Muslim Patani tidak mempunyai pilihan, mereka dipaksa menjadi bagian dari kerajaan Thailand. Sejak itu terjadi pergolakan di daerah Patani hingga sekarang, karena menurut sejarah, muslim Patani dijajah oleh kerajaan Siam.

Sejarah Perjuangan Melayu Patani 

Semenjak Pemerintahan Kerajaan Melayu dihapuskan pada tahun 1902, orang Melayu Patani berada dalam keadaan tertekan dan lemah. Seperti yang diungkap oleh W.A.R. Wood, orang-orang Melayu telah menjadi mangsa sebuah pemerintahan yang buruk. Maka, tidaklah heran apabila kekacauan seringkali terjadi di wilayah selatan mulai tahun 1910 hingga 1923. Dalam masa pemerintahan Pibul Songgram (1939-1944), orang Melayu telah menjadi korban asimilasi kebudayaan atau Rathaniyom.

Tokoh Diktator, Pibul Songgra
Tindakan Pibul Songgram memihak kepada Jepang dalam Perang Dunia Kedua telah memberikan dugaan bagi orang-orang Melayu Patani untuk membetulkan ketidakadilan mereka dalam oleh Perjanjian Bangkok (1909). Tengku Mahmood Mahyideen, seorang pegawai berpangkat Major dalam pasukan Force136, pernah mengemukakan permohonan kepada pihak Pemerintah Britania di India supaya mengambil alih Patani dan wilayah sekitarnya serta digabungan dengan Tanah Melayu. Harapan mereka bertambah besar ketika dalam dalam persidangan wakil-wakil di 'San Francisco' pada bulan April 1945 telah berjanji “akan membantu untuk membebaskan negeri-negeri yang terjajah berasaskan prinsip hak menentukan nasib sendiri (self-determination)”.

Pada 1 November 1945, sekelompok pemimpin Melayu Patani dipimpin oleh Tengku Abdul Jalal, bekas wakil rakyat wilayah Narathiwat, telah mengemukakan petisi kepada Kerajaan Inggris yang isinya memohon supaya empat wilayah di Selatan Siam dibebaskan daripada penjajahan Siam.

Komitmen Ingris terhadap Siam berubah setelah usai Peperangan Pasifik. Keselamatan tanah jajahan dan kepentingan Inggris di Asia Tenggara menjadi pertimbangan utama kerajaan Inggris dalam pengakuannya terhadap Siam atau pun Patani. Kerajaan Inggris juga memerlukan kerjasama Siam guna mendapatkan pasokan beras bagi keperluan tanah jajahannya. Pertimbangan penting lainnya, kerajaan Ingggris terpaksa menyesuaikan kesepakatannya terhadap Siam dengan tuntutan Amerika Serikat yang menduduki wilayah Siam pada tahun 1941.

Kebangkitan Komunis di Asia Tenggara selepas PD II, juga menjadi faktor pertimbangan Inggris dalam menentukan kebijakannya, dimana Siam dianggap sebagai negara penahan terhadap ancaman Komunis Cina. Blok barat menginginkan Siam terus stabil dan memihak kepada mereka dalam persaingan dengan negara-negara Komunis.

Kebangkitan Komunis di Semenanjung Tanah Melayu pada bulan Juni 1948 mengakibatkan Ingggris meningkatkan lagi kerjasama dengan Siam guna menghapuskan pemberontakan Komunis di perbatasan Siam-Tanah Melayu. Oleh karana itu Isu Patani dianggap sebagai penghalang ke arah kerjasama yang harmonis antara Inggris dengan Thailand.

Tengku Mahmood Mahyideen
Tuan Guru Haji Sulung

Selepas persidangan Songkhla pada awal bulan Januari 1949, pihak penguasa Inggris di Tanah Melayu mulai mengambil tindakan ke atas kegiatan GEMPAR di Semananjung Tanah Melayu. Tengku Mahmood Mahyideen, seorang pemimpin utama Melayu Patani, telah ditekan oleh pihak berkuasa, manakala Tuan Guru Haji Sulung telah ditangkap oleh pihak berkuasa Siam atas tuduhan subversif. GEMPAR, sebuah organisasi politik masyarakat Melayu Patani di Semenanjung juga telah dibatasi aktivitasnya.

Akibat daripada tekanan tersebut, gerakan Melayu Patani mulai lemah dan goyah. Sungguhpun begitu, perjuangan Tengku Mahmood Mahyideen dan Tuan Guru Haji Sulung telah diteruskan generasi muda Patani. Sepanjang tahun 1960-an, beberapa Organisasi pembebasan telah didirikan bagi memperjuangkan kemerdekaan Patani melalui perjuangan bersenjata yang terus berlanjut hingga sekarang sampai terwujud kemenangan Umat Melayu Muslim Patani atas izin Allah.

Kamis, April 12, 2012

Isya' Berdarah, Dua Tewas Satu Luka Parah



Pada 11 April 2012, jam 8.00 malam, berlaku satu kejadian penembakan penduduk kampong Benaeperai Penarik wilayah Pattani, Thailand Selatan. Kejadian tersebut berlaku selepas peduduk tersebut selasai solat Isya' di Musolla Sabilulkhoir (Madrasah) yang sedang megobrol  seramai 5 orang. 


Sekelompok orang bersenjata menembak dan membunuhdua warga Muslim saat mereka meninggalkan masjid setelah shalat Isya di wilayah Thailand selatan. Mereka masih di dalam kompleks masjid ketika mereka ditembak setelah shala.


Menurut warga desa di tempat kejadian, setelah mereka selesai doa bersama masing-masing siap ingin pulang kerumahnya. Bahwa mangsa yang terselamat menceritakan detik kejadian ini dengan mengatakan bahwa:

Mangsa yang tewas Yali Lahea (52), seketika itu mangsa ingin  pulang kerumah dan  menutup semua lampu musolla tersebut, hanya lampu yang tidak dipadamkan tempat ambil wuduk  dan lampu paling utama Musolla di tanggalkan. 

Setelah mangsa tewas melangkah kaki untuk keluar dari halaman Musolla bersama  jiran Chesofiah Wok yang cedera parah mereka terdengar suara mengatakan "Mahu kemana?" (dalam Bahasa Thai) dan  terus lepas ditembakan kearahnya.  

Sejumlah pria bersenjata tiba-tiba menembak ke kerumunan jamaah yang baru keluar dari masjid usai melaksanakan shalat berjamaah di Masjid.

Ketika itu Ramli Hj.Doleng suami kepada Chesofiah yang masih berada dalam pagar Musolla cuba melarikan diri ke dalam Musolla tapi bertembong dengan kelompak gelap yang memakai pakaian seramgam warna hitam sedang mengacu senapang kearahnya dan akhir Ramli ditembak mati di tempat kejadian tersebut, tutur penduduk desa.


Selama konflik bersenjata, lebih dari 5.100 orang telah tewas, baik dari kalangan entis Melayu dan warga Buddha. Sejak kerusuhan meningkat pada Januari 2004, konflik di Thailand Selatan sebagian besar terjadi di wilayah Pattani, Yala dan Narathiwat. 

Wilayah Thailand Selatan yang didominasi Muslim, sejak lama melakukan perlawanan untuk meraih kemerdekan dari Thailand Utara. Ini membuat wilayah ini selalu dibayangi berbagai serangan bom dan kekerasan kepada pihak tentara, para pejuang, dan warga sipil hampir setiap harinya.

Ini diperburuk dengan penempatan puluhan ribu tentara oleh Pemerintah kolonial Thailand. Selain itu pemerintah Thailand juga menjadikan beberapa wilayah dominasi muslim beretnis Melayu ini sebagai daerah darurat militer.

Minggu, April 08, 2012

Kambing Hitam.. Empat Tersangka Ledakan Bom Ditangkap

"Apa yang terjadi di sini, tidak terlepas tokoh-tokoh Agama dan rakyat Melayu yang tidak berdosa tersebut telah menjadi Kambing Hitam. Tindakan militer jauh lebih tak bermoral. Mereka bertindak brutal, bahkan tanpa pandang bulu apakah sasarannya anak-anak atau orang-orang tua. Mereka dengan semena-mena masuk ke rumah-rumah, menangkapi orang-orang tidak berdosa secara brutal. Pemerintah melakukan aksi-aksi penangkapan massal terhadap kaum etnis Melayu Muslimin, pembekuan dan penghancuran sekolah-sekolah Agama Islam, termasuk penangkapan terhadap sejumlah Kiayi-Ulama dan para pemimpin Islam, menyusul terjadinya serangkaian kekerasan di wilayah etnis Melayu di Selatan Thailand yang berkelanjutan"
Kepolisian Thailand telah menangkap empat tersangka terkait rentetan ledakan bom di Thailand selatan yang menewaskan 15 orang. Keempat tersangka membantah terlibat serangan bom mobil tersebut.



Tiga pria ditahan pada Rabu, 4 April malam di sebuah rumah di Distrik Rueso, Provinsi Narathiwat dalam operasi yang melibatkan 50 polis dan paramiliter.

Dikatakan Kolonel Satarnfa Wamasing dari kepolisian Rueso, sebelum operasi tersebut, sebuah truk curian yang digunakan dalam serangan di Kota Yala terlihat di depan rumah salah satu tersangka.

"Mereka masih membantahnya namun kami punya bukti bahwa mereka bertemu untuk merencanakan serangan-serangan," kata Satarnfa kepada AFP, Kamis (5/4/2012).

Diimbuhkannya, kepolisian juga sedang menyelidiki catatan panggilan telepon yang mereka lakukan.

"Ada orang-orang lainnya yang terlibat namun saya tak bisa mengatakan berapa banyak," tutur Satarnfa.

Dikatakan Satarnfa, salah seorang tersangka adalah Ustaz yang telah 9 kali mendapatkan perintah penangkapan. Sementara tersangka keempat ditangkap di rumahnya di Provinsi Yala. Dia terekam kamera CCTV sedang mengendarai sebuah motor untuk menjemput sopir salah satu kendaraan yang dipakai dalam dua ledakan bom di Yala. Pria itu juga membantah keterlibatannya.


Hampir setiap hari terjadi serangan acak yang menggunakan senjata api maupun bom. Pemberlakuan keadaan darurat di wilayah itu makin membuat situasi memburuk karena memberikan kekebalan hukum dan mendorong puluhan ribu tentara yang ditempatkan di sana melakukan pelanggaran hak asasi manusia.
Bagi umat Melayu ini adalah satu kezaliman dan menambahkan lagi penderitaan warga masyarakat di Selatan Thailand. Dan ia juga melahirkan kemarahan warganya di selatan terhadap kerajaan dan ini menjadi punca keganasan di selatan yang sukar untuk dibendungkan. Impaknya amat buruk sekali terhadap warga yang beretnis Melayu. Ia melahirkan ketakutan dan keburukan kerana darurat militer ini dikuatkuasa ke atas umat Melayu Islam sahaja.   
Para pejabat keamanan Thailand merekomendasikan aturan darurat di Provinsi Yala, Pattani dan Narathiwat, serta sebagian wilayah Songkhla. Bahwa Undang-undang Darurat memperluas kekuasaan pemerintah. Yakni berwenang merazia, melarang rapat massal, menyensor berita dan publikasi rahasia, membatasi perjalanan, menahan tersangka tanpa pengadilan, menyita properti, dan meyadap telepon.



Senin, April 02, 2012

Tiga Provinsi, Hatyai - Pattani - Yala di Guncang Bom..!!


Bom diguncang tiga provinsi Thailand Selatan.  Dalam insiden tersebut di Hatyai 3 orang tewas empat ratus luka-luka,  di Yala bom juga melukai 100 lainnya dan 10 orang tewas. Terpisah, di Provinsi Pattani lagi seorang polis terluka dalam serangan bom.

Bom meledak di pusat kota Yala ketika siang hari, saat orang-orang sedang berbelanja. Sejumlah pertokoan dekat dengan lokasi bom terbakar. Motor dan mobil yang diparkir di sekitar lokasi hancur akibat ledakan yang kuat tersebut.

"Sembilan korban tewas dan 112 orang yang terluka sudah dibawa ke rumah sakit," ujar seorang perawat di unit gawat darurat rumah sakit Yala kepada AFP, Sabtu (31/3).

Kementerian Kesehatan Thailand mengatakan 10 orang dalam kondisi kritis akibat luka bakar. Juru bicara militer di wilayah tersebut Kolonel Pramote Promin sebelumnya mengatakan, tujuh orang tewas dan lebih dari 70 orang terluka.

Menurut suster di UGD rumah sakit Yala, 9 orang tewas dan 112 lagi telah dibawa ke rumah sakit, tapi polis kemudian menaikkan angka korban tewas menjadi 10.

Gubernur Yala mengatakan, saat bom meledak di kawasan bisnis, sebagian besar korban sedang berada di dalam mobil. Diduga pelaku meletakkan bom di bawah beberapa mobil yang diparkir di daerah tersebut. 

"Bom pertama adalah bom mobil. Sedangkan bom yang kedua dan ketiga adalah bom yang tersembunyi di sepeda motor," ujar Promin.

Seorang polis Yala mengatakan, masing-masing bom meledak dengan jeda waktu 10 menit. Pasukan penjinak bom terlihat memeriksa puing mobil yang hancur di lokasi kejadian. Asap terlihat memenuhi jalanan.

Sejumlah ruko di dekat lokasi ledakan terbakar dan banyak mobil dan motor yang diparkir di sekitar lokasi rusak akibat ledakan tersebut.

Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang berkobar di sekitarnya. Petugas penyelamat membantu korban yang terluka. Mereka juga mencari korban terluka lainnya.

Petugas tim gegana terlihat memeriksa reruntuhan mobil di tempat ledakan bom mobil sementara regu pemadam kebakaran mematikan api di dekatnya.

Para petugas pertolongan membantu korban yang berlumuran darah mencari orang-orang lain yang luka di tengah asap di jalan. 10 orang dalam keadaan kritis akibat luka bakar, deminikian menurut kementrian kesehatan umum.

Terpisah, di Provinsi Pattani lagi seorang polis terluka dalam serangan bom sepeda motor di depan Kantor Kepolisian distrik Mae Lan.

Di tempat yang berbeda, sebuah ledakkan juga terjadi di sebuah hotel Hat Yai, Provinsi Song Khla. Menurut laporan, Kepala polis nasional  Thailand  mengatakan dalam sebuah  pernyataan yang   disiarkan televisi, Minggu (01/4/2012) kebakaran yang  menimbulkan korban tewas  di sebuah hotel di Thailand selatan  disebabkan oleh bom mobil yang diduga ditanam oleh gerilyawan. 

Dalam  peristiwa  kebakaran yang  terjadi di hotel menurut AFP  setidaknya  menewaskan tiga orang, termasuk seorang turis Malaysia, dan melukai empat ratus lainnya, menurut  pernyataan  yang  diberikan oleh gubernur provinsi.

Ledakan  bom datang  secara  bersamaan  dengan peristiwa  ledakan bom yang  terjadi di lain tempat di wilayah  Yala  setidaknya   telah  menewaskan 10 orang .

"Ya itu adalah bom mobil dan itu terkait dengan insiden (bom) di Yala dan saya percaya bahwa itu adalah pekerjaan dari kelompok yang sama. Kendaraan yang digunakan adalah Honda, "kata Kapolri Jenderal Priewpan Damapong.

Insiden bom di Yala merupakan yang terburuk sejak serangan bom pada Januari tahun lalu yang menewaskan sembilan orang. 

Pejuang kemerdekaan Patani di Thailand selatan diduga bukan bagian dari gerakan jihad global, melainkan berjuang menuntut hak Hukum Internasional dan  pebebasan melawan diskrimisasi terhadap golongan etnik Melayu yang Muslim yang sudah lama dilakukan oleh berbagai pemerintah Thailand berturut-turut.

Untuk meredam kerusuhan, pihak berwenang telah memberlakukan keadaan darurat di wilayah itu, yang menurut para pejuang HAM pada hakekatnya memberi kekebalan hukum kepada militer.

Militer minggu lalu mengakui bahwa tentara akhir Januari lalu menembak mati empat orang Muslim warga desa yang sedang dalam perjalanan menuju pemakaman gara-gara salah paham mengira mereka akan diserang kaum geriliya.

Salah satu insiden paling banyak menelan korban jiwa di kawasan itu terjadi 25 Oktober 2004, dimana tujuh orang mati ditembak selagi aparat keamanan membubarkan protes di kota Tak Bai, dan 78 lagi tak bisa bernafas atau terhimpit sampai mati dalam truk sewaktu diangkut ke tempat penahanan.

Kelompok-kelompok HAM mengatakan, kegagalan pihak berwenang Thailand untuk meminta pertanggungjawaban aparat keamanan sehubungan dengan kematian para korban telah memicu kekerasan lebih lajut dan alienasi di wilayah selatan itu.

Jurubicara pihak berwenang lokal mengatakan kepada Kedutaan Australia di Bangkok bahwa tidak ada warga asing yang tewas atau cedera dalam ledakan bom di Thailand ini.

Wilayah selatan Thailand yang berbatasan dengan Malaysia tersebut mengalami ketidakstabilan kondisi keamanan sejak 2004.

Selama ini, lebih dari 5.000 orang tewas sejak puluhan aksi pada Januari 2004 di daerah yang didominasi penduduk etnis Melayu, seperti Provinsi Yala, Pattani dan Narathiwat. 

Rupanya, daerah yang merupakan bagian dari Kesultanan PATANI itu pernah dilanda aksi pemboman dan peledakkan setiap hari pada tahun 1909. Kemudian berhasil direda oleh militer Thailand. Dan, kini insiden masa silam itu kembali terulang.

Rabu, Maret 28, 2012

Pileng..!! Mitos Kekuatan Tentara Kolonial Thailand Mula Runtuh

"Kolonial Thailand yang selama ini menganggap bahwa merekalah yang paling kuat dan paling hebat di kawasan Asia Tenggara ini. Kini dapat lihat kekuatan tentara kolonial Thailand mula runtuh oleh kekuatan Pejuang Kemerdekaan Patani" 

Tercetus 'Obor Revolusi Bersenjata' Melayu Patani dalam serbuan di Markas tentara Thailand itu membuahkan hasil yang gemilang. Aksi personel Tentara Pembebasan Patani itu mengejutkan angkatan bersenjata kolonial Thailand yang selama ini menganggap bahwa merekalah yang paling kuat dan paling hebat di kawasan Asia Tenggara ini. 

Serangan pejuang Melayu Patani keatas tentera kerajaan gajah putih akhir ini telah mencoreng wajah para jenderal Thailand yang angkuh, karena kelemahan mereka terbongkar. Maka runtuhlah mitos rakyat bahwa pejuang Patani tak akan bisa melumpuhkan kekuatan tentara Thailand yang kaya dengan berbagai senjata canggih.

Pileng 1  
Sebuah serangan Pejuang Melayu Patani yang dilancarkan ke sebuah markas militer Pileng awal tahun (4/1/2004) yang mengakibatkan tewasnya empat tentara dan dirampoknya 414 pucuk senjata di larikan. 

BBC London melaporkan, aksi 50 personel Tentara Pembebasan Patani itu mengejutkan angkatan bersenjata kolonial Thailand. Serangan-serangan itu bisa dipandang serius dari segi keamanan pada umumnya di wilayah Thailand Selatan yang majoriti penduduknya adalah muslim. Luasnya pembakaran sekolah serta dalam serangan-serangan terhadap gudang militer memberi kesan bahwa hal itu dilakukan oleh kelompok terorganisir. Di samping itu, juga terdapat sejumlah bukti adanya latihan militer dalam aksi-aksi itu.  Apabila mengamati insiden yang terjadi dalam tahun-tahun belakangan, maka gelombang serangan terakhir ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Dari sisi itu, maka serangan terakhir ini tidaklah baru. Belum ada serangan besar lainnya di Asia Tenggara. Sejumlah kalangan mencoba menginternasionalisasikan masalah ini tanpa adanya bukti yang kuat. Memang serangan-serangan itu memiliki dimensi lokal dan internasional.

Pileng 2   
Empat tentara tewas dan tujuh orang cedara parah akibat serangan puluhan orang bersenjata di Barak Militer Thailand di Provinsi Narathiwat pada khamis (01/01/11). 

Serangan kali ini menunjukkan tingkat koordinasi yang jauh lebih besar daripada serangan-serangan sebelumnya.   

Dalam serangan ini sekira 50 anggota geriliya melakukan penyerangan ke sebuah markas militer. Insiden ini menyebabkan aksi baku tembak dengan pihak militer Thailand. 

Selain melakukan penyerangan, kelompak geriliya ini juga mengambil 50 senapan dan sekira lima ribu peluru. Mereka juga meledakan bom dan membakar dua rumah serta sebuah tenda di dalam pangkalan militer tersebut.      

Angkatan Bersenjata Thailand mengatakan, dalam serangan kali ini para geriliya menyerang basis militer itu dari depan dan belakang. 

Mengantisipasi serangan itu, pihak Angkatan Darat Thailand telah mengerahkan 60.000 pasukan di Thailand Selatan untuk memerangi kelompak geriliya ini.    

Sebagaimana dilansir BBC, kelompok-kelompok geriliya itu tidak banyak diketahui. Tetapi diperkirakan, mereka beroperasi dalam sel-sel mandiri yang terdiri dari beberapa orang tanpa hirarki kepemimpinan yang kuat.


Pileng 3 
Terbaru ini dua relawan pertahanan kolonial Thailand tewas ketika geriliya RKK (Ronda Kumpulan Kecil) bersenjata masuk ke satu pabrik pada Jumat pagi (06/01/12) di desa Jalan Bah, Resok (asal nama Jabat) , Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan, dan mulai menembak. 

Sekitar 30 penyerang masuk ke kompleks pabrik pada sekitar pukul 02.45 dan menembak para relawan pertahanan itu, yang kemudian membalas serangan tersebut. 

Dua relawan pertahanan tewas di tempat dan tiga orang lainnya terluka parah. 

Para geriliya RKK yang bersenjata itu melarikan diri, mengambil lima senjata milik relawan tersebut, satu pucuk M.16 dan 4 laras AK serta sekotak peluru. 

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa para pejuang Muslim Patani masuk kedalam pos dengan menggunting kawat listrik berduri di halaman sekitar pukul 2:30 pagi. kelompok pertama memotong kawat  listrik berduri, menembaki anggota paramiliter Thailand dan gedung, dan mengambil sebuah senapan serbu M16 dan empat AK-47 dan amunisinya. 

Kelompok kedua memotong pohon-pohon untuk menghalangi jalan saat pos tersebut diserang dan membakar ban-ban untuk mencegah pasukan pendukung mencapai tempat kejadian. 

Pihak kepolisian Thailand percaya serangan tersebut telah dipersiapkan dan direncanakan oleh gerliya RKK Patani dengan baik. 

Hampir setiap hari terjadi ledakan dan penembakan. Para penyerang menargetkan pangkalan militer. Selain itu para gerakan geriliya Patani juga menggunakan bahan peledak, Ledakan tersebut menghantam kendaraan musuh yang sedang dalam perjalanan yang diletakkan di pinggir jalan saat berpatroli. Serangan yang mematikan juga sering berlaku yang disusuli dengan bom pertama, bom kedua, dan bom ketiga. 

Sejak kebangkitan tercetus kembali 'Obor Revolusi' Patani Merdeka pada Januari 2004, lebih dari 11.000 insiden kekerasan terjadi di provinsi-provinsi selatan Yala, Pattani dan Narathiwat. 

Serangan-serangan ini memperlihatkan koordinasi yang sangat baik. Para pejuang telah menyerukan kemerdekaan bagi wilayah bersejarah yang dikenal dengan Kerajaan Patani agar terbebas dari kolonial Thailand lebih dari ratusan tahun lalu. 

Serang demi serangan  melemahkan argumen Pemerintah Thailand yang sering menyatakan bahwa serangan telah menurun di wilayah itu. 

Untuk diketahui, biasanya Pejuang Pembebasan Patani hanya melakukan serangan secara teritorial di tiga provinsi bependuduk etnis Melayu yang terletak di Thailand Selatan. Biasanya serangannya  berupa bom pinggir jalan, penembakan dari kendaraan, serang kem tentera, bom mobil, bom sepeda motor dan sniper. Serang-serangan ini melemahkan Angkatan Tentera Kerajaan Gajah Putih.

Setelah satu dekade ketegangan yang terus meningkat akibat kesewenang-wenangan pemerintah pusat terhadap Melayu Muslim di daerah Thailand Selatan, para pejuang Kemerdekaan Patani memulai kembali tercetus 'Obor Revolusi Bersenjata' di wilayah itu sejak Januari 2004. 

Thailand Selatan sebelumnya merupakan sebuah Kesultaanan Melayu Patani sampai akhirnya di rebut oleh Kerajaan kolonial Budha Thailand pada tahun 1902.

Kelompak geriliya ini menuntut kemerdekaan untuk kawasan yang secara historis disebut PATANI, yang dianeksasi oleh kerajaan Thailand sekitar seabad yang lalu.

Senin, Maret 19, 2012

Memperingati Empat Tahun Kematian Imam Yapa di Kamp Militer

"Empat Tahun Memperingati Kematian Imam Yapa di Kamp Militer tanpa keadilan. Tanpa kebenaran dan keadilan serta kebaikan dan kemaslahatan tidak mungkin tatanan kehidupan umat manusia bisa diwujudkan. Untuk bisa memperoleh kehidupan yang baik di dunia ini salah satu yg menjadi penopang utamanya adalah penegakkan hukum secara adil sehingga siapa pun yg bersalah akan dikenai hukuman sesuai dgn tingkat kesalahannya"
Mengingat keadilan begitu penting bagi upaya mewujudkan kehidupan yg baik keharusan berlaku adil tetap ditegakkan sehingga jangan sampai keadilan yang semestinya ia ni’mati tidak bisa mereka peroleh.






Memperingati pada tanggal 21 Maret 2008, Yapa Kaseng, Imam Masjid Kortor di Rueso, ditemukan tewas dalam tahanan militer.

Dua hari sebelumnya, Imam shalat berusia 56 tahun itu ditangkap pasukan yang tergabung dalam Satuan Tugas 39 Narathiwat karena diduga punya kaitan dengan kekerasan. Pihak militer menghadirkan Yapa pada konferensi pers segera setelah penangkapannya, menuduhnya jadi mata-mata para pejuang. 

Nima (Isteri Mangsa) dan salah seorang putrinya melihat sekilas Yapa di kamp militer pada 20 Maret. Tapi itu kali terakhir mereka melihatnya dalam kondisi hidup.


Sebuah pemeriksaan atas kematian Imam itu menunjukkan, dia menjadi korban penyiksaan. Pengadilan Narathiwat memutuskan bahwa otopsi menemukan bukti memar dan luka-luka di tubuh Yapa, tulang rusuknya patah, dan paru-paru kanannya bocor.

Tapi sejak itu sampai sekarang, pencarian keadilan –untuk memastikan lima prajurit dan seorang perwira polis yang diduga berperan dalam pembunuhan Imam– bergerak lambat. 

Jumat, Maret 09, 2012

Jip Tentera Thailand Dihantam Bom, Empat Tewas


Empat tentara kolonial Thailand tewas di Thailand Selatan setelah sebuah bom pinggir jalan menghantam kendaraan tentara tersebut. 

Polis setempat mengatakan bahwa serangan tersebut terjadi pada Rabu malam (7/3/2012) di Daerah Rue-soh Provinsi Narathiwat, salah satu wilayah yang sering terjadi bentrokan antara kolonial Thailand dan Pejuang Kemerdekaan Patani.

Ledakan tersebut menghantam dua kendaraan musuh yang sedang dalam perjalanan pulang setelah mengawal ritual Buddhis di wilayah tersebut. Sebanyak 12 tentara kolonial berada di truk pick-up dan jip militer.



Jip yang membawa 5 tentara Thailand dihantam bom seberat 20 kg yang dikendalikan remote-control yang diduga kuat oleh polis ditanam dibawah tanah oleh "Gerilya RKK". Tiga tentara tersebut tewas ditempat, sementara yang satunya tewas ketika tiba di rumah sakit Rue-soh, yang kelima mengalami luka serius.

Thailand Selatan adalah provinsi yang paling sering dihantam serangan bom dan penembakan sejak 2004. Bentrokan terjadi antara Pejuang Kemerdekaan Patani dan kolonial Thailand.

Para penganut Buddha Thailand menganeksasi tiga provinsi yaitu Narathiwat, Yala dan Pattani pada 1909, yang majoritinya adalah 'etnis Melayu' dan berbahasa dengan logat Melayu.

Tentera Penyebab Masalah Sosial, Gadis Melayu Usia 16 Tahun diperkosa Tentara Kerajaan Kolonial

Permasalahan isu kekerasan di Selatan Thailand dirumitkan lagi dengan tindakan pasukan pemerintah yang meninggalkan begitu saja 1.000 muslimah setelah menjalin intim atau menikah dengan mereka.

Ketua Komite Keadilan dan Hak Asasi Manusia Wilayah  Selatan Thailand, Chaiyong Maneerungsakul, mengatakan wanita Melayu Muslim  menjadi korban sosial. Mereka menjadi korban kekerasan lokal apabila menjalin hubungan dengan tentara Buddha yang dikirim bertugas di kawasan itu.


Ada tentara jatuh cinta dengan wanita tersebut dan menikahi mereka tetapi saat kembali ke rumah mereka atau pindah tugas di wilayah lain, wanita etnis Melayu tersebut tidak dapat mengatasi masalah adat istiadat tempat lain dan pulang kembali ke rumahnya di wilayah Selatan.


Oleh sebab itu, tentara yang dikirim ke Selatan juga menjadi penyebab ke banyak masalah sosial di wilayah itu, kata Chaiyong yang dikutip koran Bangkok Post, Selasa (6/3).


Isu ini terungkap  menyusul kasus rekaman menunjukkan seorang gadis berusia 16 tahun dilecehkan oleh tentara pemerintah.


Laporan menyatakan, pada 22 Januari lalu, seorang prajurit Buddha bernama Winai bertemu dengan korban,  menggoda korban lalu membawanya ke suatu tempat terpencil di sebuah rumah sakit dekat pos kontrol militer.


 

Lalu terjadilah pemerkosaan yang direkam seorang lagi tentara pemerintah bernama Yot.  

Meskipun remaja itu jelas mencoba menyembunyikan mukanya dari kamera. Prebet Winai tersenyum dan tertawa sementara Prebet Yot memberi semangat kepada rekannya.

Setelah itu, Yot mengirim vidio tersebut kepada teman-temannya yang akhirnya sampai diterima rekan korban. Vidio tersebut disampaikan ke orang tua korban yang kemudian mengadu ke pihak berwenang.


Peritiwa ini sangat memalukan keluarga mangsa tersebut. Keluarga mangsa menuntut pada pihak yang bertanggung jawab supaya dapat megadili secara adil. 

Sumber dari: Cyber Sabili

Pejuang Kemerdekaan Patani Serang 2 Pos Militer Thailand, 12 Tentara Kolonial Cedera

Dua belas tentara kolonial Thailand terluka ketika kelompok Pejuang Kemerdekaan Patani menyerang dua pos militer di Narathiwat distrik Bacho awal Jumat pagi (09/03),  laporan-laporan mengatakan.

Para penyerang menargetkan pangkalan militer Satuan Tugas Khusus ke-32 di Ban Sompoi di desa Kayu Mati Narathiwat dan pos komando operasi dari Satuan Tugas Khusu ke-32 Narathiwat di dalam kompleks bangunan kantor pekerjaan Air Bacho. Lubang-lubang peluru terlihat di dinding bangunan dan bunker di dua pos militer tersebut.

Pasukan gabungan melaporkan bahwa pohon-pohon telah ditebang untuk memblokir jalan pedesaan di Ban Bukebagong sekitar 500 meter dari pos pertama. Selain itu para gerakan geriliya Patani juga menggunakan bahan peledak untuk menjatuhkan tiang listrik untuk memblokir jalan. Butuh waktu dua jam lagi untuk membersihkan jalan dari pepohonan dan tiang listrik serta menjinakkan bom yang tidak meledak yang ditempatkan pada tiang listrik lainnya.

Saksi mengatakan kepada polis bahwa sekitar 50 orang geriliya RKK (Ronda Kumpulan Kecil)  bersenjata, dibagi menjadi tiga tim, terlibat dalam penyerangan tersebut. Dua tim menyerang dua pos dengan granat M79 dan senjata serbu. Sedang tim ketiga merobohkan pohon dan meledakkan tiang lisrtik untuk memblokir jalan menuju pos-pos tersebut untuk mencegah bala bantuan. Anggota RKK kemudian mundur setelah baku tembak selama
20 menit .

Sebelumnya pada Rabu (7/3/2012) malam bom rakitan Pejuang Patani juga menewaskan 4 prajurit kolonial Thailand dan melukai satu lainnya di juga di Narathiwat.

Setelah satu dekade ketegangan yang terus meningkat akibat kesewenang-wenangan pemerintah pusat terhadap Melayu Muslim di daerah Thailand Selatan, para pejuang Kemerdekaan Patani memulai kembali tercetus Obor Revolusi bersenjata di wilayah itu sejak Januari 2004. Thailand Selatan sebelumnya merupakan sebuah Kesultaanan Melayu Patani sampai akhirnya di rebut oleh Kerajaan kolonial Budha Thailand pada tahun 1902.

Mahasiswa dan Mahasisiwi di Selatan Thailand Memperingati ''International Women Day''

08 March 2012
Hari perempuan internasional atau sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret memiliki arti makna dalam sejarah yang panjang tersebut, tergambar atau terekam berbagai peran para Perempuan untuk melakukan sebuah perubahan yang mengubah sejarah dunia.
Perayaan hari perempuan sedunia memang masih asing di Thailand Selatan, belum begitu banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat atau Mahasiswa-siswi seperti aksi turun ke jalan saat memperingati hari-hari yang serupa ini.
Belum tuntas bangsa ini berbenah diri atas segala kemelut yang membelenggu nasib etnis Melayu Patani di negeri yang terlatak di Asia Tenggara, Malah harus melihat pemberitaan sosok yang terancam pembunuhan, rogol, penganiaan, pelanggaran HAM Berat dan sebagainya. 

Sebagian masyarakat etnis Melayu di Selatan Thailand mungkin sudah bosan dan enggan mendengar kasus yang terus-menerus menimpa warga negaranya. Mulai dari kasus pembunuhan, perkosaan, penyiksaan, pelecehan seksual, selalu ada saja kasus serupa.

Masyarakat Melayu di provinsi selatan tidak mengerti banyak tentang hukum, dan tidak mengerti bagaimana keluar dari problematika yang kini mengancam nyawanya.

Selasa, 8 Maret lalu adalah Hari Perempuan Sedunia. Semangat untuk membebaskan jeratan 'hukum rimba' di bahgian selatan menjadi momen tersendiri dan simbol keprihatinan Mahasiswa dan Mahasiswi atas penindasan dan masih besarnya sikap diskriminasi serta komodifikasi terhadap yang majoriti adalah perempuan yang beretnis Melayu di nagara gajah putih ini.

Sejumlah upaya dan penanganan yang dilakukan pemerintah Thailand sendiri pun seakan tidak menemukan jalan keluar, kehilangan akal dan bahkan badan yang berbasis pada pelayanan dan perlindungan yang aman dan damai pun tumpul dan berkarat di saat mencuatnya kasus dari diskriminasi dan penindasan yang di lakukan oleh aparat tentera kerajaan. 

Permasalahan isu kekerasan di Selatan Thailand dirumitkan lagi dengan tindakan pasukan tentera pemerintah Thailand yang meninggalkan begitu saja 1.000 wanita Melayu muslimah setelah pelecehan seksual dan  menjalin intim atau menikah dengan mereka.

Pada 22 Januari lalu, seorang prajurit Thailand yang bernama Winai bertemu dengan korban,  menggoda korban lalu membawanya ke suatu tempat terpencil di sebuah rumah sakit dekat pos kontrol militer.

Lalu terjadilah pemerkosaan yang direkam seorang lagi tentara pemerintah bernama Yot.
Meskipun remaja itu jelas mencoba menyembunyikan mukanya dari kamera. Prebet Winai tersenyum dan tertawa sementara Prebet Yot memberi semangat kepada rekannya.

Setelah itu, Yot mengirim vidio tersebut kepada teman-temannya yang akhirnya sampai diterima rekan korban. Vidio tersebut disampaikan ke orang tua korban yang kemudian mengadu ke pihak berwenang.

Keselamatan muslimah dari perkosaan, penyiksaan, pelecehan seksual oleh aparat tentera kerajaan Thailand selalu ada. Semakin hari semakin berkurang, bahkan memburuk terjadi. Sebagaimana yang telah terjadi beberapa waktu lalu di sebuah kampung di Thailand Selatan. Satu pasukan masuk ke sebuah kampung dan menuju ke sebuah rumah, kemudian menembak kepala keluarga, di dalam rumah tersebut.

Salah seorang anak perempuanya dapat menyelamatkan diri, namun yang satu lagi ditangkap dengan tidak ada perikemanusiaan lagi, dia dirogol dan di bunuh. Sedangkan si Ibu melarikan diri menuju rumah adiknya.

Dia dan adiknya pingsan ketika melihat dua anak adiknya di tembak. Kekejaman tidak berhenti sampai disitu saja, mereka ditutup dengan selimut dan dibakar.

Sebelum pasukan itu pergi dari tempat itu mereka menembak rumah-rumah secara membabi buta. Bisa kita bayangkan betapa mirisnya kejadian tersebut. Namun, itu hanya satu contoh dari sekian banyak kekejaman yang menimpa terhadap etnis Melayu Muslim di Selatan Thailand.
 







Kamis, Maret 08, 2012

Women’s Day in Southern Thailand!


"Anyone who knows anything of history knows that great social changes are impossible without feminine upheaval. Social progress can be measured exactly by the social position of the fair sex, the ugly ones included"- Karl Marx

Memperingati Hari Perempuan Internasional 08 March 2012.

Berduka dan Menggugat Kerajaan Thailand atas kegagalannya mengakhiri kekerasan terhadap Perempuan sejak tercetus Konflik di Selatan Thailand, Gadis di Perkosa oleh Tentera Kerajaan Thai, diskriminasi dan berbagai situasi ketidakadilan, persoalan penindasan terhadap Kaum Perempuan oleh pihak Tentera Kerajaan.

Dengan ini,
pada hari ini, kita menyampaikan kekaguman kepada para Perempuan Pemberani. Perempuan yang Aktif dalam Melawan Ketidakadilan serta memperjuangkan tinggi Hak Asasi Manusia dan juga menjadi inspirasi bagi perempuan semua. Kita tidak akan berhasil mengatasi tantangan yang kita hadapi yang berkaitan dengan Lingkungan Hidup, Keamanan, Kedamaian, Kesejahteraan, dan lainnya, jika Perempuan tidak dilibatkan pada setiap tingkatan masyarakat.

Bahwa kemajuan hak-hak kaum perempuan dapat dianggap sebagai salah satu 'Revolusi Sosial' paling mendalam yang terjadi di Masyarakar sekarang ini. Bukti tentang apa yang dapat diraih kaum perempuan untuk keluarga mereka dan masyarakat, walaupun sering mengalami keadaan yang paling sulit, jika mereka diberi kesempatan. Kekuatan dan kebijaksanaan kaum perempuan masih merupakan Sumber Daya terdahsyat bagi umat manusia yang belum terjamah. Kita tidak bisa menunggu 100 tahun lagi untuk membuka potensi ini. 













Dimanakah suara keadilan yang menegakan Hak Asasi Manusia khususnya Hak Asasi Perempuan dan Kanak-kanak yang terwujudnya masyarakat demokratis yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) khususnya Hak Asasi Perempuan (HAP) dan Kanak-kanak.

Dengan menjamin nilai-nilai sebuah Negara yang Demokrasi, Keadilan, Kesetaraan, Anti Kekerasan, Keterbukaan dan Anti Diskriminasi bagi Hak Asasi Perempuan (HAP) dan Kanak-kanak.

Kini dapat lihat kaum Perempuan dan Kanak-kanak yang bersuara di bahgian
Selatan Thailand  (Patani).

Selasa, Maret 06, 2012

Bom..! Dua Tentera Patroli Luka Parah

Dua tentara kolonial Thailand dari satuan perlindungan guru luka parah akibat bom yang meledak Selasa (06/03) pagi ketika mereka sedang berpatroli jalan kaki di Jalan Kuwa-Thamnob di Kabupaten Krong Pinang, Provinsi Yala selatan.

Kedua tentara, yang diidentifikasi sebagai Sersan Mayor Preecha Kongpakdi (52) dan Kopral Thongchai Boonchuay (23) mengalami luka parah karena pecahan peluru menembus kepala dan badan mereka.

Mereka kemudian dirawat di Rumah Sakit Yala.

Penyelidikan awal polis menunjukkan bahwa pelaku meledakkan bom rakitan (IED), yang tersembunyi di tempat pembuangan sampah di pinggir jalan ketika sembilan tentara dari unit perlindungan guru berpatroli di Jalan Kuwa-Thamnob.

Polis mengatakan bom rakitan diduga berbobot antara tiga sampai lima kilogram tetapi tidak tahu bagaimana itu diledakkan.

Pejuang Kemerdekaan Melayu Patani dipersalahkan atas kejadian tersebut.

Sejak kebangkitan tercetus kembali 'Obor Revolusi' Patani Merdeka pada Januari 2004, lebih dari 11.000 insiden kekerasan terjadi di provinsi-provinsi selatan Yala, Pattani dan Narathiwat.

Secara keseluruhan lebih dari 5.200 orang telah tewas dalam insiden kekerasan.  Provinsi-provinsi tersebut yang beretnis Melayu, dulunya adalah wilayah Kerajaan Kesultanan Melayu Patani sebelum dianeksasi oleh Bangkok pada tahun 1909. Sejak itu sering terjadi konflik pertumpahan darah
dan ketegangan membara sejak itu, dengan kebencian yang berjalan makin mendalam di antara etnis Melayu setempat tentang keberadaan dan pelaksanaan pasukan keamanan yang bertindak diskriminasi terhadap warga Melayu setempat.