PATANI Derita Yang Tak Kunjung Usai (Right Of Self Determination)

Rabu, Maret 28, 2012

Pileng..!! Mitos Kekuatan Tentara Kolonial Thailand Mula Runtuh

"Kolonial Thailand yang selama ini menganggap bahwa merekalah yang paling kuat dan paling hebat di kawasan Asia Tenggara ini. Kini dapat lihat kekuatan tentara kolonial Thailand mula runtuh oleh kekuatan Pejuang Kemerdekaan Patani

Tercetus 'Obor Revolusi Bersenjata' Melayu Patani dalam serbuan di Markas tentara Thailand itu membuahkan hasil yang gemilang. Aksi personel Tentara Pembebasan Patani itu mengejutkan angkatan bersenjata kolonial Thailand yang selama ini menganggap bahwa merekalah yang paling kuat dan paling hebat di kawasan Asia Tenggara ini. 

Serangan pejuang Melayu Patani keatas tentera kerajaan gajah putih akhir ini telah mencoreng wajah para jenderal Thailand yang angkuh, karena kelemahan mereka terbongkar. Maka runtuhlah mitos rakyat bahwa pejuang Patani tak akan bisa melumpuhkan kekuatan tentara Thailand yang kaya dengan berbagai senjata canggih.

Pileng 1  
Sebuah serangan Pejuang Melayu Patani yang dilancarkan ke sebuah markas militer Pileng awal tahun (4/1/2004) yang mengakibatkan tewasnya empat tentara dan dirampoknya 414 pucuk senjata di larikan. 

BBC London melaporkan, aksi 50 personel Tentara Pembebasan Patani itu mengejutkan angkatan bersenjata kolonial Thailand. Serangan-serangan itu bisa dipandang serius dari segi keamanan pada umumnya di wilayah Thailand Selatan yang majoriti penduduknya adalah muslim. Luasnya pembakaran sekolah serta dalam serangan-serangan terhadap gudang militer memberi kesan bahwa hal itu dilakukan oleh kelompok terorganisir. Di samping itu, juga terdapat sejumlah bukti adanya latihan militer dalam aksi-aksi itu.  Apabila mengamati insiden yang terjadi dalam tahun-tahun belakangan, maka gelombang serangan terakhir ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Dari sisi itu, maka serangan terakhir ini tidaklah baru. Belum ada serangan besar lainnya di Asia Tenggara. Sejumlah kalangan mencoba menginternasionalisasikan masalah ini tanpa adanya bukti yang kuat. Memang serangan-serangan itu memiliki dimensi lokal dan internasional.

Pileng 2   
Empat tentara tewas dan tujuh orang cedara parah akibat serangan puluhan orang bersenjata di Barak Militer Thailand di Provinsi Narathiwat pada khamis (01/01/11). 

Serangan kali ini menunjukkan tingkat koordinasi yang jauh lebih besar daripada serangan-serangan sebelumnya.   

Dalam serangan ini sekira 50 anggota geriliya melakukan penyerangan ke sebuah markas militer. Insiden ini menyebabkan aksi baku tembak dengan pihak militer Thailand. 

Selain melakukan penyerangan, kelompak geriliya ini juga mengambil 50 senapan dan sekira lima ribu peluru. Mereka juga meledakan bom dan membakar dua rumah serta sebuah tenda di dalam pangkalan militer tersebut.      

Angkatan Bersenjata Thailand mengatakan, dalam serangan kali ini para geriliya menyerang basis militer itu dari depan dan belakang. 

Mengantisipasi serangan itu, pihak Angkatan Darat Thailand telah mengerahkan 60.000 pasukan di Thailand Selatan untuk memerangi kelompak geriliya ini.    

Sebagaimana dilansir BBC, kelompok-kelompok geriliya itu tidak banyak diketahui. Tetapi diperkirakan, mereka beroperasi dalam sel-sel mandiri yang terdiri dari beberapa orang tanpa hirarki kepemimpinan yang kuat.


Pileng 3 
Terbaru ini dua relawan pertahanan kolonial Thailand tewas ketika geriliya RKK (Ronda Kumpulan Kecil) bersenjata masuk ke satu pabrik pada Jumat pagi (06/01/12) di desa Jalan Bah, Resok (asal nama Jabat) , Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan, dan mulai menembak. 

Sekitar 30 penyerang masuk ke kompleks pabrik pada sekitar pukul 02.45 dan menembak para relawan pertahanan itu, yang kemudian membalas serangan tersebut. 

Dua relawan pertahanan tewas di tempat dan tiga orang lainnya terluka parah. 

Para geriliya RKK yang bersenjata itu melarikan diri, mengambil lima senjata milik relawan tersebut, satu pucuk M.16 dan 4 laras AK serta sekotak peluru. 

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa para pejuang Muslim Patani masuk kedalam pos dengan menggunting kawat listrik berduri di halaman sekitar pukul 2:30 pagi. kelompok pertama memotong kawat  listrik berduri, menembaki anggota paramiliter Thailand dan gedung, dan mengambil sebuah senapan serbu M16 dan empat AK-47 dan amunisinya. 

Kelompok kedua memotong pohon-pohon untuk menghalangi jalan saat pos tersebut diserang dan membakar ban-ban untuk mencegah pasukan pendukung mencapai tempat kejadian. 

Pihak kepolisian Thailand percaya serangan tersebut telah dipersiapkan dan direncanakan oleh gerliya RKK Patani dengan baik. 

Hampir setiap hari terjadi ledakan dan penembakan. Para penyerang menargetkan pangkalan militer. Selain itu para gerakan geriliya Patani juga menggunakan bahan peledak, Ledakan tersebut menghantam kendaraan musuh yang sedang dalam perjalanan yang diletakkan di pinggir jalan saat berpatroli. Serangan yang mematikan juga sering berlaku yang disusuli dengan bom pertama, bom kedua, dan bom ketiga. 

Sejak kebangkitan tercetus kembali 'Obor Revolusi' Patani Merdeka pada Januari 2004, lebih dari 11.000 insiden kekerasan terjadi di provinsi-provinsi selatan Yala, Pattani dan Narathiwat. 

Serangan-serangan ini memperlihatkan koordinasi yang sangat baik. Para pejuang telah menyerukan kemerdekaan bagi wilayah bersejarah yang dikenal dengan Kerajaan Patani agar terbebas dari kolonial Thailand lebih dari ratusan tahun lalu. 

Serang demi serangan  melemahkan argumen Pemerintah Thailand yang sering menyatakan bahwa serangan telah menurun di wilayah itu. 

Untuk diketahui, biasanya Pejuang Pembebasan Patani hanya melakukan serangan secara teritorial di tiga provinsi bependuduk etnis Melayu yang terletak di Thailand Selatan. Biasanya serangannya  berupa bom pinggir jalan, penembakan dari kendaraan, serang kem tentera, bom mobil, bom sepeda motor dan sniper. Serang-serangan ini melemahkan Angkatan Tentera Kerajaan Gajah Putih.

Setelah satu dekade ketegangan yang terus meningkat akibat kesewenang-wenangan pemerintah pusat terhadap Melayu Muslim di daerah Thailand Selatan, para pejuang Kemerdekaan Patani memulai kembali tercetus 'Obor Revolusi Bersenjata' di wilayah itu sejak Januari 2004. 

Thailand Selatan sebelumnya merupakan sebuah Kesultaanan Melayu Patani sampai akhirnya di rebut oleh Kerajaan kolonial Budha Thailand pada tahun 1902.

Kelompak geriliya ini menuntut kemerdekaan untuk kawasan yang secara historis disebut PATANI, yang dianeksasi oleh kerajaan Thailand sekitar seabad yang lalu.


 







































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar