Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Selasa, April 01, 2014

Hari Pemilihan Senat, Kartu Tertulis 'Patani Merdeka'

''Selatan Thailand (Patani) tetap mirip daerah tidak bertuan''


Tanggal 30/03 hari pemilihan Senator untuk parlemen tertinggi di Negeri Thailand. Akan tetapi suara rakyat Melayu Patani di propinsi Selatan tidak berlaku paraf pada nama calon senator yang mencalonkan diri. Akan tetapi terdapat di beberapa kartu pemilihan ada tertulis dengan kata 'Patani Merdeka'. Terdapat juga di beberapa tempat terkibar spanduk dengan tertulis kata serupa: 'Patani Merdeka' dalam guna tulisan 'Jawi' (Melayu Arab). 

Mengingat dengan ini, dapat dilihat bahwa, di satu pihak rakyat di wilayah Selatan tidak pernah merasa bagian dari Thailand. Namun, di pihak lain, mereka ikut berkompetisi dalam politik nasional.

Seperti halnya juga rakyat etnis Melayu di Thailand Selatan selalu merasa diabaikan pemerintah pusat dalam segala hal, termasuk dalam Hukum, Politik, Sosial dan Ekonomi. Tapi saat pemimpin nasional Thailand berasal dari wilayah Selatan, hal ini tidak segera dibenahi. Selatan Thai (Patani) tetap seperti beberapa dekade silam.

Dalam hal ini, masalahnya bukan siapa yang berkuasa di bahgian Selatan. Sebab terbukti persepsi pada Selatan Thailand sebagai daerah pembuangan tetap tidak berubah. Padahal, persepsi inilah yang menyebabkan daerah warga Melayu Patani di Selatan Thailand makin tidak terurus dan mirip daerah tidak bertuan.

Situasi demikian menyebabkan rakyat teralienasi* dan tidak merasa bagian dari Thailand. Lantas mereka berusaha menghindar dari pejabat maupun birokrasi pemerintah, sementara pemerintah mencurigai mereka sebagai kaum separatis maupun militan.

*Teralienasi: Keadaan merasa terasing atau terisolasi. Konsep ini di gunakan oleh Karl Marx untuk nenunjukan keterasingan menusia yang disebabkan oleh adanya persaiangan dan sikap egoisme, sehingga orang tidak lagi saling menghargai tetapi saling memanfaatkan. Lihat dalam Marbun, Kamus Politik, Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 2002, hlm.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar