Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Sabtu, April 06, 2013

Mata-Mata (Special Brain) Diculik dan Dibunuh

Seorang marinir Thailand diculik dan dibunuh di Thailand selatan, diduga untuk membalas serangan militer yang menewaskan sejumlah gerilyawan belum lama ini, kata seorang juru bicara militer, Rabu (3/4).

Mayat mangsa diselimut dengan bendera Siam
Maela Tolu, prajurit Muslim (24) yang bertugas di satu pangkalan militer, menjadi mata-mata kerajaan untuk mencari informasi tentang gerilyawan diculik dari rumahnya di daerah Resok oleh delapan pria bersenjata pada Senin petang, kata istrinya kepada polis lokal di Narathiwat, salah satu dari beberapa provinsi di dekat perbatasan Malaysia.

Mayatnya ditemukan di satu jalan desa Beluka Semok di distrik Bacok berdekatan Serangan Fajar, Tujuh Belas Angkatan Geriliyawan Patani Gugur, Selasa malam.

"Matanya ditutup dengan kain, tangannya diikat ke belakang dan ia ditembak kepala dua kali ," kata juru bicara komando daerah militer selatan Kolonel Pramote Promin.

Ia mengatakan penculikan yang jarang terjadi dapat dikaitkan dengan serangan nekad yang tidak biasa terjadi Februari pada Serangan Fajar, Tujuh Belas Angkatan Geriliyawan Patani Gugur menyerbu sebuah pangkalan militer Thailand di kawasan selatan yang bergolak Rabu (13/2/2013) lalu. Marinir, yang memperoleh petunjuk lebih dulu, membalas serangan itu, dan menewaskan 16 gerilyawan. Banyak juga para pejabat Muslim yang ikutan-ikutan menjadi SB (special brain) atau mata-mata. Tak heran, jika orang-orang seperti ini kerap menjadi sasaran penembakan para gerilyawan.

"Kami tidak 100 persen yakin bahwa ini adalah satu serangan balasan --kami masih mengumpulkan para saksi mata dan bukti forensik-- tetapi semula kami yakin bahwa itu adalah pekerjaan gerilyawan," katanya.

Sementara peperangan nakad di Selatan Thailand itu terus terjadi walaupun ada perundingan perdamaian belum lama ini antara Thailand dan BRN (Barisan Revolusi Nasional) di Kuala Lumpur Malaysia.

Lebih dari 5.500 orang tewas dalam sembilan tahun pertumpahan darah di daerah-daerah paling selatan --yang berpenduduk etnis Melayu Muslim.

Rupanya, daerah yang merupakan bagian dari Kesultanan Melayu PATANI itu pernah dilanda aksi pemboman dan peledakkan setiap hari pada tahun 1909. Kemudian berhasil direda oleh militer Thailand. Dan, kini insiden masa silam itu kembali terulang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar