Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Selasa, September 02, 2014

BAB IV - KESIMPULAN

BAB IV
KESIMPULAN

            Masyarakat Melayu Patani secara histories, etnis Melayu di Thailand Selatan pada mulanya merupakan sebuah kerajaan tersendiri, yaitu dikenal sebagai kerajaan Patani Darussalam atau Patani Raya. Negeri Patani merupakan sebuah negeri yang sangat subur dan makmur. Di masa kejayaannya, negeri Patani adalah pusat perdagangan internasional yang strategis untuk jalur perdagangan, di mana pedagangan dari Arab, India dan Cina harus melewati jalur tersebut, karena jalur perdagangan itu adalah satu-satunya jalur perdagangan di Patani Timur Semenanjung tanah Melayu yang menghubungkan dengan neger-negeri lain.
            Negeri Patani juga sebagai pusat peradaban dan kebudayaan Melayu Semenanjung yang sangat memainkan peranan penting pada abad-abad selanjutnya dengan bukti-bukti yang telah banyak ditemukan di negeri Patani itu. Peradaban dan kebudayaan Melayu dengan Arab sangat erat kaitannya, karena seperti prasasti, alat-alat teknologi, seni bangunan, seperti istana, masjid dengan arsitektur yang megah dan yang amat penting perkembangan agama Islam sangat maju pesat di bumi negeri Patani, hal ini didukung oleh Raja Patani Sultan Ismail Syah yang sadar akan agama Islam serta yang paling penting adalah rakyat Patani yang sangat tertarik, sadar dan semangat  untuk memeluk agama Islam, sehingga masyarakat Melayu Patani identik dengan agama Islam artinya masyarakat Melayu adalah masyarakat Islam Patani.
            Namun masa kejayaan Patani berakhir pada abad ke-18, setelah negeri Patani runtuh dan mengalami kekalahan dengan kerajaan Thai, negeri Patani pada tahun 1785, menjadi wilayah integrasi di Selatan Thailand. Semenjak itu banyak konflik yang terjadi antara rakyat Patani dengan pemerintah Thai. Konflik-konflik tersebut disebabkan karena, Pertama, adanya perbedaan agama, tradisi dan nasionalisme yang sangat jauh berbeda dengan keadaan masyarakat Melayu Patani, yaitu agama berbangsa ke-Melayuan, tradisi, kebudayaan dan nasionalisme telah melekat erat dalam hati rakyat Patani sehingga sulit dan sangat bertentangan sekali dengan kebudayaan dan nasionalisme Thai yang beragama Budha. Selain itu juga menyangkut kesejahteraan antara minority Melahyu Patani dengan majority Thai Budhis yang sangat tidak adil dan selalu menganaktirikan yang minority, khususnya Melayu Patani. dan yang kedua, adanya kebijaksanaan pemerintah Thai yang mendiskriminasikan masyarakat Melayu Patani di Thailand Selatan baik di bidang Ekonomi, Politik, Hukum maupun di bidang Sosial Budaya.
            Tengah-tengah masyarakat Patani sedang mengalami kekonflikan dengan pemerintah Thai, maka dianugrah oleh Ilahi seorang tokoh yang bernama Haji Sulong. Haji Sulong adalah seorang tokoh ulama Patani yang memimpin masyarakat Patani dalam menghadapi dasar kebudayaan Thai Rathaniyum yang diciptakan oleh Perdana Menteri Phibul Songgram, sehingga Haji Sulong terkenal, Haji Sulong dianggap sebagai Bapak Perjuangan Patani. Beliau adalah termasuk golongan ulama yang terlibat dalam politik dan menentang keras terhadap campur tangan pemerintah Thai dalam urusan agama.
            Sebelum Haji Sulong terlibat dalam masalah politik di negaranya, beliau adalah seorang guru pengajar dengan mendirikan sebuah Madrasah Al-Maarif al-Wathoniyah dan sebagai seorang ulama dalam ilmu tafsir dan ilmu Ushuluddin. Namun tidak berjalan lama, Madrasah yang didirikan oleh Haji Sulong tersebut kemudian ditutup oleh pemerintah Thai karena menduga dan berbahaya dan mempunyai maksud untuk mempersiapkan sebuah pemberontakan terhadap pemerintah Thai. Akhirnya selain beliau melaksanakan dakwah Islam juga terlibat dalam masalah politik.
            Dakwah Islam Haji Sulong mengikuti irama politik pemerintah Thai. Ketika pemerintah Thai bersikap lunak, toleran dan terbuka, hal ini dibuktikan langsung dengan adanya rumusan Tuntutan Tujuh Perkara yang melalui perundingan dan beliau bertanggung jawab penuh terhadap yang telah dilakukannya. Namun dalam hal menghadapi pemerintah yang dictator, Haji Sulong juga bias secara ekstrim mengkader generasi muda Patani untuk bangkit menentang pemerintah Thai. Hal ini telah di buktikan pada awal karirnya di Patani dengan mendirikan sekolah sebagai basis kekuatan non komperatif dengan Thai bersama dengan Tengku Mahmud Mahyiddin dan kawan-kawannya mendirikan beberapa lembaga seperti Ha’iah al-Tanfiziah al-Ahkam al-Syari’at, Semangat Patani, GAMPAR, dan beliau dengan kawan-kawannya terlibat langsung didalamnya hingga titik darah penghabisan. Maka beliau dianggap sebagai “Bapak Perjuangan Kemerdekaan Patani Darussalam”.
           
Haji Sulong lebih menfokus pada materi Islam sebagai petunjuk ritual. Di sana Haji Sulong dengan tegas mengajarkan Tauhid, sholat dan lain-lain. Ingin menjadikan umat Islam supaya mengamalkan ajaran Islam. Hal tersebut berubah ketika beliau terlibat dalam politik Thai. Orientasinya pada materi dakwah tampak berubah pula, yaitu ingin menjadikan kekuatan politik sebagai alat untuk memperjuangkan agama di Patani. karena tampaknya Haji Sulong lebih intern berbicara, menulis bahkan menggalang potensi-potensi umat yang dipandang memiliki nuansa politik dan komitmen yang kuat terhadap kepentingan Islam. Tema-tema dakwah yang mendapat perhatiannya adalah masalah politik, pendidikan, social keagamaan dan spiritual yang dipandang sebagai kekuatan yang melemahkan Islam.
            Metode politik yang dilakukan oleh Haji Sulong adalah untuk mempertahankan identity dan kebudayaan Melayu dengan ciri khasnya serta agama Islam sebagai agama bangsanya sendiri dari penjajah pemerintah Thai dan ini dikenal dengan Tujuh Tuntutan Haji Sulong. Tujuh pasal ini isinya, bertujuan untuk mendapatkan sebuah daerah yang memiliki otonomi khusus bagi seluruh rakyat Patani di Thailand Selatan, dan bukan untuk mendirikan sebuah Negara yang merdeka, mengingat negeri Patani sudah menjadi sebuah daerah integrasi Thailand dan untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah Thai sangatlah sulit.

            Haji Sulong memperjuangkan bangsa Melayu Patani sehingga sampai detik beliau meninggal dunia. Meninggal beliau itu sangan luar biasa sehingga menjadi satu peristiwa yang sangat mengerikan bagi masyarakat Patani. dan setelah meninggalnya Haji Sulong, maka bangkitlah beberpa organisasi pembebasan Patani. Dari sekian banyaknya organisasi yang berperan di Masyarakat Patani, namun yang paling dominant diantara organisasi itu hanya ada 3 organisasi, dan ketiga-tiga organisasi itu selalu di segani dan selalu dipikirkan oleh pemerintah Thai. Adapun ketiga organisasi itu adalah: Barisan Revolusi Nasional (BRN), Patani United Leberation Organization (PULO), Barisan Nasional Pembebasan Patani (BNPP).

Lihat sambungan akhir : http://dangerofpatani.blogspot.com/2014/09/bab-vi-lampiran-fotogambar.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar