Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Selasa, September 02, 2014

BAB III - PERJUANGAN POLITIK HAJI SULONG

BAB III
PERJUANGAN POLITIK HAJI SULONG

A. Pendirian Wadah - Lembaga
             Tengah-tengah masyarakat Patani sedang mengalami kekonflikan dengan pemerintah kolonial Thai, maka dianugrah oleh Ilahi seorang tokoh yang bernama Haji Sulong. Haji Sulong adalah seorang tokoh ulama Patani yang memimpin masyarakat Patani dalam menghadapi dasar kebudayaan Thai Rathaniyum yang diciptakan oleh Perdana Menteri Phibul Songgram, sehingga Haji Sulong terkenal, Haji Sulong dianggap sebagai Bapak Perjuangan Patani. Beliau adalah termasuk golongan ulama yang terlibat dalam politik dan menentang keras terhadap campur tangan pemerintah penjajah Thai dalam urusan kultural,  Kemalayuan dan agama.
            Sebelum Haji Sulong terlibat dalam masalah politik di negaranya, beliau adalah seorang guru pengajar dengan mendirikan sebuah Madrasah Al-Maafif al-Wathoniyah dan sebagai seorang ulama dalam ilmu tafsir dan ilmu Ushuluddin. Namun tidak berjalan lama, Madrasah yang didirikan oleh Haji Sulong tersebut kemudian ditutup oleh pemerintah Thai karena menduga dan berbahaya dan mempunyai maksud untuk mempersiapkan sebuah pemberontakan terhadap pemerintah Thai. Akhirnya selain beliau melaksanakan dakwah agama juga terlibat dalam masalah politik.

1. Pendirian Sekolah Pesantren
Pesantren yang terdapat di Thailand tertumpu di Selatan Thailand , khususnya Patani, Yala dan Narathiwat. Yang paling banyak di Patani. Disana di sebut Pondok (Pesantran) . Namun Pondok ini berfungsi sebagai insitusi pengajian agama tradisional. Bahawa di Selatan Thailand terutama Patani adalah pusat kegemilangan tamadun Islam dimana disana terletak pusat-pusat pengajian agama terkenal.
Menurut Azyumardi Azra bahwa tradisionalisme pondok Patani mempunyai sejarah panjang. Kaum Melayu Patani mengklaim, pondok merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara, meski sumber-sumber sejarah umumnya menyebutkan, Islam datang dan berkembang di wilayah ini baru pada abad ke-16. Terlepas dari kondisi itu, pondok Patani mengirimkan lulusan terbaiknya ke Haramayn yang kemudian menjadi ulama besar seperti Daud bin Abdullah al-Patani (abad ke-19), Ahmad bin Muhammad Zayn al-Patani, dan Zayn al-Abidin bin Muhammad al-Patani (abad 20).[1] Mereka juga punya pondok sebagai asas untuk memainkan peranan sebagai pendakwah dalam menyebarkan syiar Islam sendiri.
Pada tahun-tahun awal kepulangan Haji Sulong, beliau membangun sebuah Madrasah, Madrasah al-Ma'arif al-Wathoniah. Menurut keterangan yang sempat diperoleh, sekolah ini adalah sekolah agama yang pertama sepertinya pernah didirikan di Patani. Walaupun demikian, masyarakat Patani yang pada waktu itu, malah sampai sekarang pun, yang lebih mengenal institusi "Pondok" sebagai tempat belajar agama, menerima baik penubuhan sekolah ini.[2]
Madrasah ini merupakan sekolah agama pertama di Patani. Struktur organisasi dan disiplin pelajar teratur. Disini pelajar-pelajar diperkenalkan dengan system kelas, sukatan pelajaran dan pelajar pula menjalani latihan berbaris.[3] Para pemerhati beranggap bahwa ada maksud lain bagi Haji Sulong dibalik pembaharuan dalam sistem dan corak pendidikan yang diperkenalkan kepada masyarakat Patani ini. Keadaan ini menjadi lebih dipahami apabila mengingat adanya kalimat al-Wathoniah, yang bermaksud "Kebangsaan" pada papan tanda nama sekolah ini.
Meskipun mendapat sambutan baik daripada masyarakat, tetapi sekolah ini ditakdirkan tidak berusia lama. Setelah berjalan antara 2 hingga 3 tahun, sekolah ini menerima perintah penutupan dari pihak berkuasa kerajaan Thai yang sangat merasa curiga atas sambutan dan perkembangannya.[4]    

2. Pendirian Lembaga Politik
            Tidak lama setelah Phibul menjadi perdana mentri dan melancarkan semboyan Thai Rathaniyumnya, Haji Sulong mendirikan al-Hai'ah al-Tanfiziah li al-Ahkam al-Shar'iyyah (Lembaga Pelaksanaan Hukum Syari'ah) pada tahun 1939. Tujuannya ialah untuk mendidik masyarakat Patani agar memahami hukum agama secara tepat. Hal ini dilakukan sebagai upaya tandingan terhadap kegiatan pemerintah Siam yang ingin men-Siamkan orang Melayu dan menodai kesucian ajaran agamanya; keduanya termasuk dalam agenda Pan Thai atau Thai Raya yang didalangi oleh Phibul. Sebelas orang dilantik untuk menjadi pengurus dalam lembaga ini, diantaranya ialah Haji Mat Pauh, Haji Hasan Mak Enggol, Haji Abd. Majid Embong (Chaok), Tok Guru Bermin dan lain-lain. Sampai sejauh ini belum diketahui sejauh manakah peranan yang telah dimainkan oleh Lembaga ini sehubungan dengan slogan Thai Rathaniyum ini.
            Sudah dipahami bahwa kedatangan Haji Sulong, pada awalnya, tidak ingin terlibat dengan perpolitikan di Patani. Kondisi ketidakadilanlah yang membuat Haji Sulong tidak sanggup untuk berdiam diri; ia pun mulai berpartisipasi dalam bidang politik.
            Pada tahun 1944, Phibul terlibat dalam kepengurusan Hakim Agama (Qadhi) dan membubarkan undang-undang keluarga serta pembagian harta waris (faraidh) Islam. Kemudian Phibul menggantikannya dengan undang-undang sipil kerajaan.[5] Setiap ada masalah yang menyangkut kedua aturan agama tersebut – undang-undang keluarga dan pembagian harta waris – maka akan diputuskan berdasar undang-undang sipil kerajaan.
            Merasa tidak puas dengan keadaan ini, masyarakat Melayu Patani mendirikan Majlis-Majlis Agama Islam di keempat wilayah selatan: Patani, Yala, Narathiwat dan Setun. Di Patani, Haji Sulong terpilih menjadi Ketua, sementara di Yala, yang terpilih sebagai ketua adalah Haji Mustafa Awang, di Narathiwat terpilihlah Haji Daud Mat Diah dan di Setun adalah Haji Abdullah Lang Putih (kemudian Anggota Perlemen Setun dan Menteri Kesehatan Thai).
            Meski tidak diketahui dengan pasti siapa pencetus ide dibalik lahirnya majlis-majlis ini, kehadiran lembaga-lembaga ini diharapkan menjadi penghubung antara rakyat Melayu Patani dengan Bangkok tanpa terikat dengan birokrasi yang rumit dan kepentingan golongan. Dalam keadaan-keadaan tertentu, majlis menjadi wadah bagi orang-orang Melayu Islam Patani– di empat wilayah – untuk menyampaikan suara dan cita-cita kepada kerajaan menyangkut setiap permasalahan umat Melayu Patani.
            Haji Sulong termasuk golongan ulama yang mencurigai keterlibatan kerajaan dalam urusan agama. Ia berpendapat bahwa campur tangan politik dalam soal-soal hukum agama sejak masa Raja Chulalongkorn telah merusak kemurnian dan kesucian Islam. Terlepas dari ada tidaknya kerjasama antara orang Islam dengan kerajaan, Haji Sulong berpendapat bahwa hukum Islam seharusnya diurus oleh lembaga kehakiman Islam tersendiri.
            Pada 14 Februari 1944, Tengku Abd. Jalal bin Tengku Abdul Muttalib – Ahli Parlemen Narathiwat – atas nama masyarakat Melayu, memberikan masukan terhadap pemerintah tentang slogan pemerintah yang dikhawatirkan mengancam kehidupan beragama dan berbudaya masyarakat Melayu. Namun pemerintah tidak menghiraukan masukan tersebut dengan tetap melakukan upaya men-Siamkan masyarakat Melayu Patani.
Phibul Songkram
           
Setelah Phibul jatuh pada bulan Juli 1944, barulah tekanan-tekanan ini – upaya pensiamisasian – sedikit berkurang. Pemerintahan baru Thai (pada Juni 1946) memberikan kesempatan bagi orang Melayu Patani untuk turut mengirimkan wakil di pemerintahan. Pridi dan Kuang Aphiwong merupakan dua orang yang diutus pemerintah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di Selatan. Hasilnya adalah pengembalian otonomi hukum Islam, seperti sebelum kekuasaan Phibul, diserahkan kepada masyarakat Melayu. Pada saat bersamaan, orang-orang Melayu membentuk sebuah kelompok yang bertujuan untuk mendesak kerajaan agar memenuhi beberapa tuntutan, antara lain penggunaan undang-undang Islam secara lebih meluas dan taraf kedudukan yang lebih baik bagi orang-orang Melayu Patani, sekurang-kurangnya di empat wilayah Selatan.
            Namun, sedikit kelonggaran ini tidak dapat dinikmati dalam waktu yang lama. Pada 8 November 1947, Phibul kembali berkuasa setelah melancarkan satu kudeta yang memaksa Pridi lari keluar negeri. Akibatnya adalah lembaga yang baru saja dibentuk – oleh Pridi – tidak difungsikan. Phibul kembali turut campur dalam urusan agama dan budaya masyarakat Melayu. Pemimpin-pemimpin Melayupun melayangkan permohonan kepada pemerintahan Inggris di London agar tidak mensahkan rezim Phibul dan memohon supaya terlibat lebih dalam tentang kepengurusan masalah Patani.
            Dalam banyak hal Pridi dapat dianggap sebagai Perdana Mentri yang sangat toleran.
Pridi Phanomyong
Hubungan eratnya dengan Chularajamontri (Shaikhul Islam) Haji Shamsuddin telah menyebabkan beliau sangat toleran dalam menangani masalah-masalah orang Melayu di selatan. Kepemimpinan beliau menjadi tumpuan harapan bagi golongan Melayu Patani untuk memperoleh otonomi politik dan budaya dalam sebuah kemaharajaan Budha yang sangat konservatif di dunia. Tidak lama setelah memegang jabatan pada bulan Maret 1946, Pridi membujuk Raja Ananda Mahidol untuk memberikan bantuan dari kas kerajaan demi memajukan kesejahteraan agama dan pendidikan orang Islam.
           
Pada 1 April 1947, diadakan pertemuan di antara pemimpin-pemimpin masyarakat Melayu wilayah Selatan di Patani. Hasil dari pertemuan itu adalah kesepakatan untuk menyerahkan sebuah memorandum – yang mengandung beberapa tuntutan dari masyarakat Melayu di Selatan – kepada wakil-wakil kerajaan Thai sewaktu mereka melakukan kunjungan ke Patani. Pada tanggal 24 Agustus 1947, Haji Sulong (Ketua Majlis Agama Islam Patani) dan Wan Uthman Wan Ahmad (selaku Pengurus Persekutuan Semangat Patani) secara resmi menyerahkan memorandum tersebut kepada 7 orang utusan pemerintah yang berkunjung ke Patani. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada tanggal 3 April 1947, Haji Sulong mengirimkan secara langsung memorandum tersebut kepada Perdana Mentri.
            Memorandum ini berisi rencana tujuh perkara yang mengarah pada pemberian otonomi daerah di Empat wilayah Selatan. Tujuh tuntutan ini yang nantinya dikenal dengan nama "Tujuh Tuntutan Haji Sulong"[6] meliputi:
  1. Pengangkatan seorang komisaris tinggi untuk memerintah Daerah Patani Raya dengan wewenang penuh untuk memecat, menskors, atau mengganti semua pejabat pemerintah yang bekerja di daerah itu; orang itu harus putra daerah dan dipilih oleh rakyat dalam suatu pemilihan umum yang diadakan khusus untuk tujuan itu.
2.   Delapan puluh persen (80%) dari pejabat pemerintah di daerah itu harus Melayu Patani (untuk mencerminkan rasio penduduk).
3.   Bahasa Melayu dan Bahasa Siam akan menjadi bahasa resmi.
  1. Bahasa Melayu akan diajarkan di sekolah dasar.
  2. Hukum Islam akan diberlakukan di empat wilayah – Patani, Yala, Narathiwat, dan Setun – dengan pengadilan-pengadilan Islam yang terpisah dan bebas dari sistem peradilan pemerintah.
  3. Semua hasil pajak di empat wilayah – Patani, Yala, Narathiwat, dan Setun – akan digunakan untuk kesejahteraan rakyat selatan.
  4. Majlis Agama Islam propinsi akan diberi wewenang penuh atas perundang-undangan menurut hukum Islam mengenai semua urusan Melayu dan kebudayaan Melayu, dibawah wewenang Komisaris Tinggi seperti yang disebut dalam No. 1.[7]
7 tuntutan dalam bahsa Saim
          Haji Sulong tidak menginginkan pembentukan sebuah negara merdeka, yang diharapkan adalah otonomi daerah agar wilayah Selatan dapat mempertahankan identity serta sifat-sifat khasnya. Keinginan ini seolah menjadi syarat minimal yang harus terpenuhi karena golongan Melayu Patani akan tetap mengupayakan kelangsungan cara hidup tradisionalnya serta menjaga kemurnian agama yang mereka anutinya.
            Semula, ada keoptimisan dalam benak Haji Sulong mengenai tuntutan-tuntutan ini agar dapat dipertimbangkan oleh Bangkok, meski tidak seluruhnya. Perdana Menteri Pridi yang diketahui terpengaruh dengan bentuk ’Federalisme Switzerland’, diyakini bersedia memberikan otonomi kebudayaan bagi etnik Melayu dalam lingkungan bangsa Thai. "Pridi lah yang oleh Haji Sulong sebagai pemimpin de factor kepada Comunity Melayu, begitu diharapkan untuk memberikan dokongan politik kepada perjuangan untuk memperoleh otonomi politik".
            Sayangnya harapan-harapan ini segera buyar dan sirna ketika Phibul kembali berkuasa pada tanggal 8 November 1947, tidak lama setelah memorandum diserahkan. Meski Pridi telah pergi, Haji Sulong yang sudah terlibat dalam perpolitikan, tidak dapat menghentikan langkahnya demi memperjuangkan otonomi politik yang sudah berjalan. Belakangan, setelah peristiwa ini, beliau banyak terlibat dengan YM Tengku Mahmud Muhyiddin, putera Raja Patani yang terakhir, di Kelantan, dan ini juga yang menjadi sebab bagi penangkapan kali pertama Haji Sulong pada hari Jum'at tanggal 16 Januari 1948.
            Haji Sulong dibebaskan empat tahun kemudian yaitu pada tahun 1952. Selama dalam tahanan di Ligor, beliau menulis ”Gugusan Chahaya Keselamatan” yang kemudian diterbitkan oleh anaknya, Haji Mohd Amin pada tahun 1958, tetapi segera dilarang – penerbitan dan peredaran buku tersebut – oleh kerajaan. Setelah dibebaskan, Haji Sulong kembali ke Patani dan meneruskan pekerjaan awalnya yaitu menjadi "Tok Guru".[8]
            GEMPAR atau lengkapnya Gabungan Melayu Patani Raya, didirikan di kota Bharu, Kelantan pada 5 Maret 1948 (bersamaan 24 Rabi'ul Akhir 1367), tidak lama setelah Haji Sulong ditangkap. Meskipun ada selentingan kabar yang menyatakan bahwa ide pendirian badan ini dipelopori oleh PKMM (Partai Kebangsaan Melayu Malaya), namun sangat jelas terlihat bahwa pendirian badan ini sangatlah tergesa-gesa dan lebih merupakan reaksi spontan terhadap peristiwa penangkapan Haji Sulong.
            Menurut Pengamat, di pagi hari tepatnya pada hari Jum'at, tanggal 11 Maret 1948, pendirian GEMPAR telah disahkan di Madrasah Muhammadiah, Majlis Agama Islam dan Istiadat Melayu Kelantan, dengan dihadiri oleh sekitar 200 orang Melayu Patani serta orang-orang Kelantan dan lain-lain lagi.
            Setidak-tidaknya ada tiga tujuan utama dari pendirian GEMPAR:
  1. Hendak menyatukan empat wilayah yaitu Patani, Yala, Naratiwat dan Setun sebagai satu Negara Melayu Patani dan melepaskan kaum Melayu yang ada di dalam empat wilayah tersebut dari ketidak-adilan dan ketertindasan pemerintahan Thai.
  2. Mengadakan pemerintahan di dalam negeri yang sesuai dengan semangat kebangsaan Melayu dan adat-istiadat Melayu Patani.
  3. Mempertinggi taraf kehidupan bangsa Melayu agar terwujud Kemanusiaan, Keadilan, Kebebasan dalam memperoleh ilmu pelajaran yang sesuai dengan kondisi kekinian.[9]

B. Reaksi Terhadap Perjuangan Haji Sulong
            1. Tanggapan dari pemerintah
            Ketegangan yang semakin meningkat di keempat-empat wilayah di Selatan Thai Setelah penahanan Tuan Guru Haji Sulung serta kritikan-kritikan tajam dari Tanah Melayu berhubung dengan dasar kerajaan Thai terhadap orang-orang Melayu itu telah menimbulkan keresahan kepada kerajaan Aphaiwong dan memaksanya bertindak bagi mengawal keadaan itu. Kerajaan Thai telah menghantar Phraya Ramajbhakdi, Ketua pengarah Kementerian Dalam Negeri, untuk membuat penyiasatan. Dalam satu kenyataan yang dikeluarkannya, Menteri Dalam Negeri menafikan bahawa kekacauan besar telah berlaku di keempat-empat wilayah di selatan, seperti yang didakwa oleh akhbar-akhbar dan pertubuhan politik Semenanjung Tanah Melayu.[10]
          Beliau mengakui bahawa beberapa kekacauan kecil telah berlaku di Selatan Thai. Bagaimanapun, tegasnya lagi, kekacauan itu dicetuskan oleh kelompok minoriti untuk kepentingan diri sendiri. Beliau menyalahkan akhbar-akhbar Tanah Melayu kerana secara sengaja membesar besarkan keadaan di Selatan Thai.
          Kenyataan Menteri Dalam Negeri itu telah dibantah oleh Tengku Abdul Kadir Petra, salah seorang ahli Jawatankuasa GEMPAR. Dalam sepucuk kawat kepada Perdana Menteri Khuang Aphaiwong, Tengku Abdul Kadir Petra menegaskan bahawa: Kenyataan ini tidak benar dan menjejaskan maruah dan integriti kami. Kami mencabar pihak tuan mengemukakan bukti kepada dunia dengan mengadakan pungutan suara dengan dipengerusikan oleh pegawai-pegawai Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu tetapi kehadiran pegawai tentera dan awam di kawasan yang hanya akan menakutkan penduduk yang tertindih itu.
          Kenyataan Phraya Ramabhakdi itu juga telah dicabar oleh Senator Nai Banchong Sricaroon atau Haji Wahab dalam perbahasan di parlimen di Bangkok pada 5 Mac 1948. Inilah kali pertamanya isu Patani dibangkit dan dibahaskan di sidang parlimen. Senator Banchong menyalahkan pegawai-pegawai tadbir Thai di atas kekacauan di wilayah selatan.[11]
          Para pegawai tersebut bersikap keras dan menindas penduduk-penduduk tempatan sehingga mencetuskan perasaan tidak puas hati orang-orang Melayu terhadap kerajaan. Beliau menganggap pegawai-pegawai tersebut "tidak lebih daripada pengganas". Penduduk-penduduk tempatan telah ditindas dan diperas, harta-benda mereka dirampas secara paksa, rumah mereka dibakar hangus; manakala bahasa, adat-resam dan agama mereka dicabuli. Tidak ada seorang pun daripada mereka berani untuk mengadukan kejadian ini kepada pihak kerajaan kerana bimbang pegawai-pegawai berkenaan membalas dendam.
          Beliau menambah: Saya tahu bahawa saya dikehendaki membuktikan dakwaan saya itu tetapi sebagai seorang Melayu dan anggota Jawatankuasa Majlis Islam Pusat, menjadi tanggungjawab saya untuk memberitahu Kementerian dalam Negeri tentang kedudukan sebenar bagi membolehkan mencari jalan untuk mengatasi keadaan itu. Bila saya diberitahu tentang keadaan di Selatan, adalah sukar bagi saya untuk mempercayainya. Kementerian Dalam Negeri tidak mengambil apa-apa tindakan untuk mengatasi bila saya mengemukakan kepadanya. Setengah daripada mereka yang memberi laporan itu kepada saya telah dibunuh dalam keadaan yang penuh misteri, setengahnya pula melarikan diri ke Tanah Melayu dan menyebarkan berita bahawa penduduk-penduduk di Patani telah diberi layanan buruk oleh kerajaan penjajah Thai. Ini bukanlah persoalan gerakan pemisahan atau rusuhan. Ini adalah soal ketidakadilan di pihak pegawai-pegawai kerajaan.
          Memang benar sesuatu mestilah dibuat bagi mengatasi masalah itu, tetapi itu tidak memadai. Ekoran daripada dakwaan ini, Nai Banchong Sricharoon mendesak kerajaan supaya mengambil langkah-langkah segera dan positif bagi mengatasi masalah yang dikemukakan itu. Beliau juga meminta kerajaan mengisi jawatan Chularajamontri yang telah dikosongkan oleh Chaem Promyong. Khuang Aphaiwong, dalam jawapannya, mengakui bahawa kekacauan sememangnya wujud di wilayah-wilayah Selatan Thai, Beliau memberi jaminan bahawa sebuah jawatan kuasa khas akan dibentuk oleh kerajaan bagi mengkaji punca kekacauan di wilayah tersebut. Menjawab dakwaan Nai Banchong tentang kezaliman pada pegawai kerajaan, beliau menegaskan bahawa kerajaan perlu membuat penyiasatan rapi sebelum sebarang tindakan diambil. Selain itu, beliau berjanji akan memperkenalkan reformasi di keempat-empat wilayah tersebut bagi mengatasi perasaan tidak puas hati penduduk-penduduk Melayu. Beliau memberi jaminan bahawa kebebasan beragama akan dihormati dan bahasa Melayu akan dibenarkan untuk diajar di sekolah-sekolah kerajaan. Beliau juga berjanji akan menukar pegawai-pegawi yang mengambil rasuah, di samping melantik seorang Melaayu yang dihormati sebagai Chularajamontri bagi menasihati kerajaan dalam hal-ehwal agama Islam.
          Ekoran daripada itu, Khuang Aphaiwong telah melantik Seni Pamoj, Menteri Pelajaran, untuk mengetuai Jawatankuasa Penyiasat bagi menyiasat keadaan di Selatan Thai. Beliau juga bercadang untuk mengadakan rundingan dengan Tengku Mahmud Mahyideen jika masa mengizinkan. GEMPAR, dalam ulasannya mengenai pembentukan Jawatankuasa Penyiasat, meragui sama ada jawatankuasa itu akan dapat memperoleh fakta-fakta sebenar daripada penduduk-penduduk tempatan mengenai keadaan di Patani.[12] Pengalaman yang lalu telah menunjukkan bahawa sebelum ketibaan satu-satu Jawatan kuasa penyiasat seumpama itu, penduduk-penduduk tempatan telah ditekan dan diugut oleh pihak polis Thai tempatan supaya berbohong. Dengan sebab itulah GEMPAR dengan lantang menganggap pembentukan jawatan kuasa penyiasat itu sebagai satu propaganda murah Kerajaan Thai. GEMPAR mengingatkan orang-orang Melayu supaya berhati-hati agar tidak tertipu dengan helah dan muslihat pihak Thai. Sehubungan isu tersebut, antara lain GEMPAR menegaskan, Rakyat adalah diingatkan bahawa ini (perlantikan Suruhanjaya Khas) adalah tindak-tanduk diplomatik yang licin di pihak kerajaan Thai bagi tujuan mengambil hati orang-orang Melayu. Tawaran itu hendaklah ditolak oleh kerana apa yang kita tuntut ialah kebebasan beragama. Kita akan melayan mereka yang menerima tawaran itu sebagai pengkhianat bangsa.
          Bagaimanapun, sebelum sempat Jawata kuasa Penyiasat menjalankan penyiasatannya, Khuang Aphaiwong telah diminta oleh pihak tentera yang diketuai oleh Jeneral Phin Chunhawan supaya meletakkan jawatan dengan alasan bahawa kerajaan pimpinannya telah gagal untuk mengatasi masalah dalam negeri. Khuang Aphaiwong pada awalnya enggan tunduk kepada tuntutan pihak tentera itu tetapi beliau akhirnya bersetuju meletakkan jawatan itu. Pibul Songgram, Ketua Turus Angkatan Tentera Darat, telah dilantik sebagai Perdana Menteri oleh Majlis Pemangku Raja. Dengan perlantikan ini, Pibul Songgram telah menjadi Perdana Menteri Thai bagi kali kedua.[13]

            2. Tanggapan dari Masyarakat Melayu Patani
Apabila berita penangkapan Haji Sulong tersebar luas, maka timbullah reaksi dari pada masyarakat Melayu didalam dan diluar negeri. Pada 19 Januari 1948, terjadilah demontrasi di hadapan balai polis teluban, tempat penahanan Haji Sulong. Para hadirin yang datang berkumpul menuntut ikat jamin dibenarkan bagi membebaskan Haji Sulong dari pada penjara. Tetapi ternyata tuntutan itu tidak mendapat layanan. Haji Sulong di pindahkan ketahanan di Patani. Pada 22 Januari 1948, terjadi lagi perhimpunan dan kali ini pemimpin agama yang terdiri dari pada To’Guru dan To’Imam, berjumlah ratusan orang datang berkumpul di pejabat Majlis Agama Islam wilayah Patani menyatakan kesetiaan dan kebimbangan terhadap pemimpin mereka yang sedang berada di dalam tahanan. Reaksi masyarakat Melayu ini menyebabkan kerajaan merasa bimbang dan khawatir terhadap perkembangan ini. Lantaran itu, pembicaraan hal Haji Sulong itu di pindahkan ke Mahkamah wilayah Nakhonsitamarat (legor).
Walau bagaimanapun, ada di kalangan pemimpin masyarakat Melayu yang berada
dalam negeri masih berpandangan bahwa masalah di Selatan perlu diselesaikan secara damai. Antara langkahnya ialah meneruskan rancangan rundingan secara langsung antara Tengku Mahmud Mahyiddin dengan kerajaan pusat di Bangkok.[14] Pertemuan secara tidak resmi berlaku antara Tengku Mahmud Mahyiddin dengan Ci’Abdullah Long Putih bertempat di Kota Baru, Kelantan. Dalam pertemuan ini telah dicadangkan supaya Tengku Mahmud Mahyiddin menjadi wakil masyarakat Melayu Patani di Selatan Thai untuk berunding dengan pihak kerajaan pusat di Bangkok. Pada dasarnya, cadangan itu di terima oleh Tengku Mahmud Mahyiddin, tetapi beliau mengemukakan tiga syarat utama yaitu:
1.               Hendak dibebaskan Haji Sulong dari pada tahanan dan di benarkan mengambil             bagian dalam rundingannya.
2.               Hendak di panggil kembali semua ketua Melayu yang telah berhijrah dari Selatan            Siam.
3.               Kerajaan Siam memberitahu kepada wakil kuasa besar di Bangkok tentang adanya       rundingan itu.[15]
Tetapi syarat tersebut tidak di terima oleh kerajaan Thai. Dengan itu, rancangan perundingan berhenti. Sebagai langkah meneruskan politik menantang kerajaan Thai, Tengku Mahmud Mahyiddin mengambil tindakan berhubungan dan bekerja sama dengan para wartawan asing seperti Miss Barbara Wittinghem Jones dalam menyiarkan masalah Patani kepada masyarakat antara bangsa. Keadaan ini membuatkan suasana di Selatan makin tegang. Untuk menghadapi suasana ini, pihak kerajaan telah bertindak menghantar polis dan tentara ke Selatan dengan jumlah yang banyak sebagai langkah berjaga-jaga terhadap sebarang kemungkinan. Masyarakat yang berada di luar negeri telah mengambil beberapa tindakan sebagai reaksi terhadap penangkapan Haji Sulong. Bahkan ini di jadikan sebagai bukti kezaliman kerajaan yang bertindak menangkap Ulama’, hal ini disiarkan kepada badan dunia dan masyarakat antar bangsa, khususnya di kalangan Negara Islam. Tujuan utamanya adalah untuk menarik perhatian dunia terhadap politik di Selatan dan mengharapkan supaya kerajaan Thai memberi kebebasan kepada masyarakat Melayu.
Sebagai lanjutan dari pada perkembangan itu, pada pertengahan Februari 1948, masyarakat Melayu Selatan yang berada di tanah Melayu telah mengambil tindakan menubuhkan badan perjuangan yang di namakan Gabungan Melayu Patani Raya atau ringkas GAMPAR. Tujuan utama menubuhan tersebut ialah:
1.           Menyatukan masyarakat Melayu yang berada di Selatan Thai dan tanah Melayu.
2.       Membentuk hubungan erat di kalangan masyarakat Melayu yang berada diluar negeri dengan yang berada di dalam negeri serta meningkatkan kehidupan yang bermutu.
3.            Mewujudkan kerja sama dan tolong menolong antara satu dengan yang lain.
4.           Memajukan pendidikan dan menghidupkan budaya Melayu (Manifesto GAMPAR 1948).[16]
Walaupun GAMPAR sebagai badan politik, tetapi perjuangnya tidak bertujuan untuk mendapatkan kemerdekaan politik secara muthlak. Ini dapat dilihat pada rangkaian pertama dalam manipsitunya yang berbunyi:
Adalah perjuang anak Melayu yang sedang di bawah pemerintahan Siam itu adalah semata-mata berdasarkan Keimanan, Keadilan dan Kemanusiaan, bukan pula kita bertakabbur hendak berdiri sendiri. Bahkan dengan segala tujuan dan dasar undang-undang tubuh (Rattamanun) kerajaan Siam sendiri yang mengaku kepada segala hak kerakyatan dan Demokrasi sebagai mana yang di pahami oleh sekalian penduduk dunia ini maka terpaksalah kita mengambil langkah yang tersebut di bawah ini.
Peranan penting yang di mainkan oleh GAMPAR ialah membuat hubungan dengan badan perhubungan dunia dan kuasa besar serta memberikan penerangan tentang keganasan para pegawai kerajaan Thai untuk mengubah sikap dan dasarnya terhadap masyarakat Islam di selatan.[17]

C. Hasil Perjuangan Politik Haji Sulong
Sebelum Haji Sulong terlibat dalam masalah politik, beliau adalah seorang guru pengajar dengan mendirikan sebuah Madrasah Al-Maarif al-Wathoniyah dan sebagai seorang ulama dalam ilmu Tafsir dan ilmu Ushuluddin. Namun tidak berjalan lama, Madrasah yang didirikan oleh Haji Sulong tersebut kemudian ditutup oleh pemerintah Thai karena menduga dan berbahaya dan mempunyai maksud untuk mempersiapkan sebuah pemberontakan terhadap pemerintah Thai. Akhirnya selain beliau melaksanakan dakwah Islam juga terlibat dalam masalah politik.
            Dakwah Islam Haji Sulong mengikuti irama politik pemerintah Thai. Ketika pemerintah Thai bersikap lunak, toleran dan terbuka, hal ini dibuktikan langsung dengan adanya rumusan Tuntutan Tujuh Perkara yang melalui perundingan dan beliau bertanggung jawab penuh terhadap yang telah dilakukannya. Namun dalam hal menghadapi pemerintah yang dictator, Haji Sulong juga bisa secara ekstrim mengkader generasi muda Patani untuk bangkit menentang pemerintah Thai. Hal ini telah di buktikan pada awal karirnya di Patani dengan mendirikan sekolah sebagai basis kekuatan non komperatif dengan Thai bersama dengan Tengku Mahmud Mahyiddin dan kawan-kawannya mendirikan beberapa lembaga seperti Ha’iah al-Tanfiziah al-Ahkam al-Syari’at, Semangat Patani, GAMPAR, dan beliau dengan kawan-kawannya terlibat langsung didalamnya hingga titik darah penghabisan. Maka beliau dianggap sebagai Bapak Perjuangan Kemerdekaan Patani Darussalam.
Haji Sulong memperjuangkan bangsa Melayu Patani sehingga sampai detik beliau meninggal dunia. Meninggal beliau itu sangat luar biasa sehingga menjadi satu peristiwa yang sangat mengerikan bagi masyarakat Patani. Dan setelah meninggalnya Haji Sulong, maka bangkitlah beberpa organisasi pembebasan Patani. dari sekian banyaknya organisasi yang berperan di Masyarakat Patani, namun yang paling dominan diantara organisasi itu hanya ada 3 organisasi, dan ketiga-tiga organisasi itu selalu di segani dan selalu dipikirkan oleh pemerintah Thai. Adapun ketiga organisasi itu adalah: Barisan Revolusi Nasional (BRN), Patani United Leberation Organization (PULO), Barisan Nasional Pembebasan Patani (BNPP).
Sambungan Bab IV -  http://dangerofpatani.blogspot.com/2014/09/bab-iv-kesimpulan.html,



[1] Azyumardi Azra, "Pondok Patani", Republika, 2 February 2006
[2] Al-Fathoni Ahmad Fatah,Ulama Besar Pathoni  ( Malaysia: UKM), 2001. h.143
[3] Muhammad Kamal K.Zaman, Fathoni 13 Ogos ( Kelantan: tp), 1996. h. 8

[4]Al-Fathoni Ahmad Fathy, Pengantar Sejarah Patani ( Alor Star : Pustaka Darussalam),1994. h. 83
 
[5] Pembagian harta waris pada hukum Islam untuk bagian perempuan adalah setengah dari bagian laki-laki. Sementara dalam undang-undang sipil kerajaan pembagian harta waris bagi perempuan dan laki-laki adalah sama.
[6] Al-Fathoni Ahmad Fathy, Pengantar Sejarah Patani ( Alor Star : Pustaka Darussalam),1994. h. 83
[7] Pitsuwan Surin,Islam di Muangthai Nasionalisme Melayu Masyarakat Patani (Jakarta : LP3ES), 1989. h. 117

[8] Al-Fathoni Ahmad Fathy, Pengantar Sejarah Patani ( Alor Star : Pustaka Darussalam),1994. h. 91
[9] Al-Fathoni Ahmad Fathy, Pengantar Sejarah Patani. h. 101
[10] Utusan Melayu 31 Ogos 1948.
[11]  Liberty, 5 Mac1948
[12]  Singapore Free Press, 10 Mac 1948
[14]  The Straits Time 1948
[15]  Utusan Melayu 1948
[16] Chapakia Ahmad Omar, Politik dan Perjuangan Masyarakat  Islam di Selatan Thailand ( Malaysia : University Kebangsaan Malaysia), 2001. h. 115.

[17] Chapakia Ahmad Omar, Politik dan Perjuangan Masyarakat  Islam di Selatan Thailand.  h. 116                            

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar