Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Jumat, Maret 29, 2013

Pintu Rundingan Kedua Diwarnai Bom dan Serangan

Bekas pembantu senior Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Ahmad Zamzamin, bertindak selaku fasilitator perdamaian kedua belah pihak yang berseteru.
Pemerintah Thailand telah menggelar pembicaraan damai dengan Pejuang Kebebasan Patani, yang berbasis di wilayah selatan negara itu. Pembicaraan diharapkan bisa menyelesaikan konflik di Thailand Selatan, yang telah berlangsung bertahun-tahun. 

Pembicaraan itu merupakan tindak lanjut dari kesepakatan damai 28 Februari lalu antara pemerintah Thailand dengan BRN, salah satu kelompok pejuang yang beroperasi di Thailand bagian selatan.

Internasional Crisis Group, sebuah Lembaga Pemikiran yang berpusat di Brussels, Belgia, memakai Hasan Thaib sebagai penghubung BRN di Malaysia.

Sekjen Dewan Keamanan Nasional, Paradorn Pattanatabutr mengatakan penandatanganan dokumen ini  adalah salah satu cara lain bagi pemerintah Thailand untuk mengatasi pertikaian selama ini. Meskipun tidak ada jaminan bahwa persoalan yang memanas di Thailand Selatan akan berubah menjadi damai, paling tidak keadaan diharapkan akan menjadi lebih baik.  

BRN, dulunya adalah Front Revolusioner Malaya Patani yang dibentuk pada tahun 1960 dengan tujuan membebas bagi wilayah mereka di Selatan Thailand, yang majority penduduknya suku Melayu, dan beragama Islam.

Setelah penanda tangan ini semua pihak berharap agar Perdana Menteri Ying Luck Sinawatra mau berdialog dengan Pejuang Patani, untuk mencari solusi damai yang adil dan memunculkan stabilitas. Pergolakan yang terjadi di Thailand Selatan selama ini sangat mengganggu situasi keamanan, politik, ekonomi, bahkan kehidupan beragama.

Beberapa jam sebelum pembicaraan damai di Kuala Lumpur dimulai, antara perwakilan Pemerintah Thailand dan Pejuang Kebebasan Patani dari Barisan Revolusi Nasional (BRN), diwarnai ledakan bom. Paradorn Pattanatabut, Kepala Dewan Keamanan Nasional Thailand mengatakan, ledakan bom yang ditanam di pinggir jalan di selatan Provinsi Narathiwat itu menewaskan tiga anggota paramiliter dan melukai lima orang lainnya, Kamis (28/3/2013).

Sebelum pembicaraan damai digelar, sebuah bom di jalan raya meledak di Distrik Chor Ai-rong, Provinsi Narathiwat, berjarak 840 kilometer sebelah selatan Bangkok. Bom ini menewaskan tiga serdadu yang sedang berpatroli dan lima yang cedara. Hal itu dijelaskan Komandan Regional Angkatan Darat ke-4, Letnan Jenderal Udomchai Thammasarorat.


Selain ledakan bom, aksi yang sama juga berupa dua serangan terjadi di tempat terpisah, serangan pada kem tentera 4312 Sabayoi provinsi Songkla dan serangan kem tentera 49 Resok di provinsi Narathiwat, namun tidak ada laporan yang tercedera.

Sementara itu pada Minggu (24/03/2013), lima tentara  Thailand tewas akibat serangan bom mobil, yang diduga dilakukan gerilyawan di provinsi Thailand selatan, kata polis.

Bom itu, yang juga mencederai seorang tentara, meledak ketika kendaraan pasukan keamanan melakukan patroli di desa Yala, salah satu dari provinsi di dekat perbatasan dengan Malaysia.

“Sekitar 10 gerilyawan diperkirakan bersembunyi dekat lokasi itu dan meledakkan bom yang diletakkan dalam satu mobil lainnya,” kata Mayor Polis Torphan Phusuntiae.

Torphan mengatakan tentara-tentara itu jadi target karena mereka secara reguler menerima informasi dan petunjuk dari penduduk desa tentang keberadaan gerilyawan.  

Pejuang Kebebasan Patani bertahun-tahun melancarkan serangan bersenjata untuk mendapatkan kebebasan dari pemerintah colonial Thailand. Mereka hampir setiap hari melancarkan serangan bersejata dan pengeboman kepada pihak keamanan maupun sasaran militer dan polis di sejumlah provinsi di kawasan selatan, yaitu Yala, Pattani, dan Narathiwat. 

Pemerintah Thailand menyalahkan unit geriliyawan BRN atas serangan bom yang menargetkan pasukan patroli keamanan di Provinsi Narathiwat dan menganggap serangan tersebut sebagai upaya untuk menyabotase perundingan damai yang baru dimulai. Mereka menilai perjanjian tersebut dicapai dalam konteks konstitusi Thailand, sehingga dikhawatirkan tidak akan ada swatantra bagi negara-negara selatan.

Bekas pembantu senior Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Ahmad Zamzamin, bertindak selaku fasilitator perdamaian kedua belah pihak yang berseteru.

Tujuan utama pembicaraan ini adalah meredakan kekerasan. 
Hari ini kami akan berupaya membangun rasa saling percaya dan berhubungan baik," kata Kepala Dewan Keamanan Nasional Thailand, Paradorn Pattanatabut, di Kuala Lumpur.
"Kekerasan yang terjadi pagi ini berkaitan dengan perundingan damai yang sedang dilaksanakan di Malaysia," ungkap Chalerm Yubamrung, Wakil Perdana Menteri Thailand di Bangkok.
Pattanatabut mengatakan, fokus perundingan damai hari ini adalah menumbuhkan rasa saling percaya dan hubungan baik, guna mengurangi tingkat kekerasan yang kerap mereka lancarkan. 
"Saya melihat BRN adalah kelompok pejuang terbesar dan paling berpengaruh di balik semua serangan dengan pemerintah yang terjadi di Selatan Thailand. Saya yakin, para utusan dan negosiator akan menyampaikan pesan pemerintah kepada pasukan mereka. Tapi, mengingat jumlah mereka yang besar, tingkat kekersan tidak dapat berkurang dengan cepat dan pemerintah akan memberikan mereka batasan waktu," terang Pattanatabut.

"Saya tidak tahu berapa banyak pertemuan yang harus diselenggarakan, tapi kami akan terus melanjutkan negosiasi hingga mendapat hasil yang konkret," pungkas Pattanatabut

Perundingan antara para pejabat Thailand dan kelompok gerilyawan Barisan Revolusi Nasional (BRN) akan diselenggarakan di satu tempat di Ibu Kota Malaysia, Kuala Lumpur.

Para perunding Thailand ingin gerilyawan menghentikan serangan terhadap sasaran sipil supaya mereka yakin bahwa mereka berunding dengan pemimpin gerilyawan yang dapat mengendalikan para petempur di lapangan.

"Kami ingin melihat serangan terhadap sasaran lunak dihentikan, terutama bom-bom yang berdampak pada warga sipil tidak bersalah," kata Kepala Dewan Nasional Keamanan Thailand, Paradorn Pattanatabut. 

Ia mengatakan ia "100 persen" yakin pihak berwenang Thailand akan berunding dengan orang yang tepat.

Masalah-masalah tetap ada menyangkut kemampuan para pemimpin lebih tua gerilyawan untuk mengekang serangan-serangan oleh generasi lebih muda yang terorganisasi dengan baik yang beroperasi di provinsi-provinsi selatan yang berbatasan dengan Malaysia.

"Mereka terbagi dalam gerakan prajurit 'yang tidak terlihat' dan para pemimpin terkemuka di pengasingan," kata Gotham Arya dari Institute of Human Rights and Peace Studies di Universitas Mahidol.

Ia menambahkan, perundingan "intra-gerakan" diperlukan untuk menjembatani perbedaan di kalangan kelompok gerilyawan untuk mewujudkan perdamaian.

Satu kelompok gerilyawan dipersalahkan atas aksi kekerasan yang terjadi hampir setiap hari, termasuk ledakan bom dan serangan senjata api, namun identitas dan struktur kelompok itu tidak banyak diketahui.

Selama hampir 9 tahun belakangan, lebih dari 5.500 tewas dalam serangan antar pemerintah  Siam dengan geriliyawan Melayu Patani yang berbatasan langsung dengan Malaysia, di mana majority penduduknya adalah etnis Melayu.

Konflik itu berakar pada kebencian warga Melayu  terhadap pemerintah Thailand ketika Bangkok menganeksasi wilayah itu tahun 1902.

Konflik di Asia Tenggara, tentu tidak akan melepaskan Melayu Muslim Patani, Selatan Thailand. Patani bisa dikatakan bernasib seperti Palestina di Timur Tengah. Dan jika Palestina dijajah oleh Israel, maka Patani ditindas oleh Siam-Thailand.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar