Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Jumat, Maret 01, 2013

Dua Ledakan Bom Setelah Perjanjian Thailand dan BRN

Surat penandatanganan naskah kesepakatan perundingan damai antara kedua pihak Dewan Keamanan Nasional Thailand  dengan pejabat penghubung Barisan Revolusi Nasional (BRN). Perjanjian tersebut dicapai dalam konteks konstitusi Thailand. "under the framework of the Thai Constitution"

Sekjen Dewan Keamanan Nasional Thailand, Paradorn Pattanathabutr (kiri) berjabat tangan dengan pejabat penghubung Barisan Revolusi Nasional (BRN), Hassan Taib dengan disaksikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Malaysia, Thajudeen Abdul Wahab seusai penandatanganan naskah kesepakatan perundingan damai antara kedua pihak di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (28/2/2013)

Enam orang cedera akibat ledakan bom yang diletakkan di sepeda motor di Provinsi Narathiwat Thailand Selatan, Jumat, setelah pemerintah Thailand menandatangani perjanjian perdamaian dengan salah satu dari beberapa kelompok gerilyawan.

Ledakan itu terjadi sehari setelah pemerintah Thailand setuju melakukan perundingan dengan Barisan Revolusi Nasional (BRN), bagian dari kelompok-kelompok gerilyawan di selatan yang berpenduduk majority Melayu Muslim.

"Kami yakin bahwa insiden ini adalah perbuatan gerilyawan yang ingin menunjukkan kekuasaan mereka dan untuk mendiskreditkan pemerintah," kata Somchai Panomuppakarn, wakil ketua penyelidik kepolisian kota Narathiwat.

Bom rakitan itu, ditaruh di sebuah sepeda motor dan diledakkan di luar sebuah pasar yang ramai di Narathiwat. Polis setempat mengatakan bom itu meledak di kawasan yang dianggap sebagai "zona aman" dengan penjagaan aparat yang sangat ketat.

Kepolisian menduga aksi peledakan bom itu dilakukan rival Barisan Revolusi Nasional (BRN) yang menandatangani rencana perdamaian dengan pemerintah Thailan di Malaysia.

Tetapi Perdana Menteri Yingluck Shinawatra membantah pernyataan itu, dan mengatakan penghentian serangan membutuhkan waktu.

"Bom-bom ini adalah satu hal yang biasa terjadi, itu bukan pembalasan terhadap pemerintah. Penandatanganan perjanjian kemarin bukan berarti bahwa aksi kekerasan akan segera berhenti," katanya kepada wartawan.

Dua ledakan  bom yang terjadi di Distrik Muang, Narathiwat hanya berselang enam jam, Jumat. Seorang tentara dan lima warga sipil Budha cedera akibat ledakan yang terjadi sekitar pukul 5.50 pagi waktu setempat. Bom disembunyikan di dalam sebuah sepeda motor

Polis Muang Narathiwat, Thitipong Srisongmuang mengatakan ledakan terjadi di pasar tradisional Phuphaphakdee. Menurut para saksi, seorang anak muda memarkir motornya di depan pasar, dekat truk bak terbuka yang digunakan tentara penjaga pasar, lalu melenggang ke dalam keramaian pasar. Lima menit kemudian motor tersebut meledak,  enam sepeda motor lain, serta dua truk bak terbuka yang parkir di dekatnya rusak berat.

Sekitar siang, ledakan lainnya merusak Toko Jip Heng. Bom seberat 20 kilogram disembunyikan di belakang truk bak terbuka yang diparkir depan toko tersebut, berseberangan dengan pos polis Muang Narathiwat. Tidak ada korban dalam insiden ini.





Aksi perlawan antar Pejuang Pro-Kemerdekaan Patani dangan pemerintah kolonial Thailand melanda kembali beberapa provinsi selatan yang berbatasan dengan Malaysia selama sembilan tahun-- dengan hampir setiap hari terjadi penembakan dan ledakan bom.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak Kamis (28/02) mengatakan negaranya akan menjadi tuan rumah perundingan antara pemerintah Thailand dan kelompok gerilyawan di Kuala Lumpur dalam dua pekan, setelah diskusi-diskusi dengan Yingluck berada di Malaysia untuk pertemuan bilateral tahunan.

Yingluck menyatakan Thailand ingin melihat penyelesaian langgeng di propinsi perbatasan selatan itu, tempat perlawanan sembilan tahun sejumlah kelompok bayangan menewaskan lebih dari 5.500 jiwa.

"Kita harus bergerak maju secepat mungkin," katanya dalam jumpa pers di kantor pusat pemerintah Malaysia, Putrajaya.

Yingluck berada di Malaysia tetangganya untuk pembicaraan tahunan dengan Najib tentang masalah dwipihak. Pada tahun ini, mereka berpusat pada perlawanan keras di sepanjang perbatasan kedua negara itu.

Para pemimpin itu tidak memberikan tanggal perundingan tersebut. Seorang pejabat Malaysia menyatakan pertemuan itu pada awalnya akan menentukan "panduan" untuk ke depan,

Yingluck mengatakan rakyat tidak boleh menilai perdamaian yang diupayakan pemerintah gagal. Usai penandatanganan, Paradorn telah memperingatkan, proses perdamaian masih harus menempuh jalan panjang. Perundingan selama dua mingguan dengan BRN baru akan berlangsung pertengahan Maret mendatang. Tidak disebutkan adanya kesepakatan gencatan senjata.

Kalangan pengamat dan oposisi pemerintah mempertanyakan seberapa besar pengaruh BRN terhadap pejuang kebebasan Patani di perbatasan Provinsi Pattani, Yala, Narathiwat dan empat distrik di Songkhla. BRN hanyalah salah satu faksi.

Pemimpin oposisi, Abhisit Vejjajiva ragu akan pengaruh BRN terhadap faksi-faksi lain di wilayah itu. Dia juga mempertanyakan syarat apa saja yang telah dipenuhi sehingga kelompok itu mau berunding dengan pemerintah.

“Bila dilihat dari polanya, serangan ini mirip dengan serangan yang biasa dilakukan yang menentang pembicaraan dengan pihak berwenang Thailand. Mereka menilai perjanjian tersebut dicapai dalam konteks konstitusi Thailand, sehingga dikhawatirkan tidak akan ada swatantra bagi negara-negara selatan,” ungkap Sunai Phasuk dari Human Rights Watch.

Banyak warga propinsi selatan Thailand itu suku Melayu Muslim, yang tersinggung diperintah oleh suku Siam Buddha. Wilayah itu dilanda hampir setiap hari serangan senjata dan bom gerilyawan, yang mencari swatantra lebih besar, yang ditolak Thailand.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar