Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Minggu, Maret 10, 2013

Langkah Kedua Menuju Meja Rundingan 28 Maret


Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra mengatakan pihaknya perlu waktu bertahun-tahun untuk memecahkan krisis di Patani, Selatan Thailand yang bergolak, dan mengatakan bahwa kesepakatan terbaru dengan kelompok gerilyawan hanyalah langkah utama menuju perdamaian, kata Kantor Berita Thailand, Jumat (8/3).

PM Yingluck meyakinkan bahwa pemerintah akan melakukan yang terbaik untuk membawa perdamaian ke provinsi perbatasan Selatan itu, yang didominasi oleh majority Muslim.

Bulan lalu, otoritas Thailand, dengan bantuan pihak berwenang Malaysia, menandatangani perjanjian perdamaian dengan kelompok Koordinasi BRN, yang diyakini memiliki kontrol atas para pejuang kebebasan Patani di Thailand Selatan yang bergolak.

Adalah tidak mungkin bahwa situasinya akan langsung membaik setelah kesepakatan itu ditandatangani, katanya.

Sementara itu, oposisi Demokrat pimpinan Abhisit Vejjajiva meminta pemerintah untuk lebih berhati-hati di babak berikut pembicaraan dengan pemimpin BRN, yang ditetapkan pada 28 Maret.

Pada pekan ini, para geriliyawan dikatakan membakar ban di 40 lokasi di tujuh daerah di Yala malam hari.

Tindakan itu terpercaya untuk memberitahu otoritas bahwa mereka masih aktif di kawasan itu. Namun, tidak kecelakaan jiwa dilaporkan.

Polis percaya para geriliyawan itu yang dibagi menjadi tujuh orang bersenjata setiap kelompok, melakukan perbuatan itu.

Mereka juga menebang pohon dan merentangnya di tengah jalan di beberapa daerah di Yala, di samping memutuskan kabel listrik.

Pihak berwenang masih menyelidiki tempat kejadian dan menanyai saksi, selain meninjau rekaman kamera sirkuit tertutup untuk memperoleh informasi mengenai tersangka.

Lebih 5.000 orang telah tewas dan lebih dari 9.000 terluka dalam lebih dari 11.000 insiden, atau sekitar 3,5 insiden per hari, di tiga provinsi perbatasan Thailand selatan, yang didominasi etnis Melayu Muslim, yakni Yala, Pattani, Narathiwat serta empat distrik Songkhla - sejak kekerasan meletus pada Januari 2004, menurut Tonton Deep South, yang memonitor kekerasan regional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar