Serangan
bom sepeda motor datang hanya dua hari setelah Perdana Menteri Yingluck
Shinawatra mengunjungi pedalaman Selatan di daerah Yarang yang berdekatan dengan daerah Mae Lan provinsi Pattani.
Tiga
tentara ranger militer Thailand
tewas dan tujuh lainnya terluka oleh sebuah bom sepeda motor di distrik Mea Lan
Patani Selasa (1/5/2012).
Ledakan
itu terjadi di Jalan Raya Patani-Yala No.418 di Ban Wang Kwang di Tambon Pa Rai
distrik Mae Lan ketika para tentara yang menaiki dua truk dan dua pickup
melewati sepeda motor yang diparkir saat mereka pindah ke kamp baru mereka di
distrik Yarang.
Dua
tentara ranger, Chokchai Chaisith dan Prasert Thopna, tewas seketika.
Chakrit
Iamniewngam, ranger lain mengalami luka serius dan dibawa ke Rumah Sakit Yala,
di mana ia kemudian dinyatakan meninggal. Tujuh tentara lainnya yang terluka
dibawa ke Rumah Sakit Patani.
Polis
mengatakan sekitar 50 tentara ranger dari Divisi Ranger ke-22 bergerak dari
basis lama mereka di distrik Nong Chik ke basis baru di distrik Yarang menggunakan
dua pickup dan dua truk.
Sebuah
pickup memimpin konvoi, diikuti dua truk dengan bak terbuka di belakang.
Sepeda
motor, sarat dengan 5 kg bahan peledak, diparkir di pinggir jalan di Ban Wang
Kwang dan diledakkan dengan radio, membunuh dan melukai dua ranger dalam truk
pickup terakhir, kata polis.
Polis
menemukan sepeda motor itu dicuri di Mae Lan bulan lalu dan menggunakan plat
palsu. Mereka juga menyalahkan Pejuang Kemerdekaan Patani atas peristiwa
tersebut.
Mae
Lan adalah satu-satunya distrik di tiga provinsi selatan di mana dekrit darurat
dicabut setelah situasi di sana
membaik.
Serangan
bom sepeda motor datang hanya dua hari setelah Perdana Menteri Yingluck
Shinawatra mengunjungi pedalaman Selatan.
Setidaknya
menurut Reuters 5.000 orang tewas di Thailand selatan sejak tahun 2004
dalam konflik dikaitkan dengan pejuang pembebasan Patani dengan kerajaan
Siam-Thai.
Thailand didominasi Buddha tetapi tiga
provinsi paling selatan Pattani, Yala dan Narathiwat adalah etnis Melayu Muslim
yang didominasi dan adalah bagian dari Kesultanan Melayu PATANI sampai
dianeksasi independen oleh colonial Siam-Thailand pada tahun 1909.
Melayu
Muslim Selatan Thailand
(Patani) patut menentukan nasib mereka sendiri. Diungkapkan Proffesor
Abdusshakur Bin Shafi-e dalam dialog Walisongo Mediation Centre (WMC)
Walisongo
Mediation Centre (WMC) lakukan mediasi Muslim Selatan Thailand
(Patani) belum lama ini. Melayu Muslim Selatan Thailand (Patani) patut menentukan
nasib mereka sendiri. Pasalnya, Islam di Thailand merupakan agama kedua selepas
agama Buddha dan juga agama minority di sana.
Umat Islam di Selatan Thailand jumlahnya 6.5 Juta dengan presentase 10% saja,
terbagi menjadi 2 bagian, Melayu Muslim dan non-Melayu.
Muslim
Melayu atau Patani bertempat di Wilayah Selatan Thailand yaitu: Patani, Yala,
Narathiwat, dan Songkala. Hal ini diungkapkan Proffesor Abdusshakur Bin
Shafi-e, PATANI Thailand di sela-sela dialog antar umat beragama, di Aula
Walisongo Mediation Centre IAIN Walisongo, Kamis, 15/3/2012.
“Dari
Januari 2004 hingga November 2011 peristiwa telah berlaku sebanyak 11,332 kali.
Jumlah terkorban sebanyak 4.984 orang, 8.311 orang cedera. Dengan rata-rata
sebanyak 2 orang meninggal per hari. Sebanyak 59% yang jadi korban adalah
Muslim,” Tandasnya.
Prof.
Dr. H. Achmad Gunaryo, M.Soc. Sc. Menambahkan, bahwa kasus konflik di Patani
Selatan Thailand
perlu mediasi dan penanganan secepat mungkin. “Karena ini menyangkut
banyak warga Melayu muslim di wilayah Selalan Thailand,” ungkapnya.
Enam
Perdana Menteri barganti, Komandan Tentara, dan 60,000 tentara polis melakukan
aksi keganasannya. Sehingga selama delapan tahun berlalu banyak memakan
korban.
Pandangan
Dr. Rorert Rosper mengatakan, Jalan keluar dan penyelesaian sekarang yaitu, Pertama,
perlu adanya dialog antara gerakan-gerakan Pejuang Kebebasan Patani, dengan
Kerajaan Siam-Thai; Kedua, dialog dan peranan NGO-NGO bebas dan Kaedah; Ketiga
dialog dan peranan Rakyat atau warga masyarakat Melayu sendiri.
DAPATKAN BUKU INI SEKARANG JUGA HUBUNGI: 0194251360 (Malaysia).
Tajuk : Air Mata Islam Patani Pengarang : AMAN Patani Penerbit : Mazni Irfan Publication ISBN : 978-967-0409-01-6 Harga: RM10.00 (TIDAK TERMASUK POS) Halaman: 80 muka surat
"Jangan sebut Kami orang Thai atau Muslim Thai. Kami adalah Orang Melayu
Muslim Patani"
Adapun awal perkembangan politik
Thailand di Selatan (Patani) berdasarkan pada mendelegitimasikan bangsa Patani
dan berusaha melegitimasikan atas haknya. Jadi jelas bahwa Kerajaan Siam-Thai
bertujuan untuk menghapuskan kepemilikan hak atas bangsa Patani, baik secara
politik maupun fisik, merupakan suatu simbol yang tak dapat dihindarkan.
Kalau
liat di Peta Dunia, Thailand Selatan berbatasan langsung dengan Malaysia.
Sehingga budaya Melayu lebih kental daripada budaya Thai itu sendiri, misalnya
mereka sangat menyukai lagu dan film Malaysia serta Indonesia. Bahasapun mereka
lebih sering menggunakan bahasa Melayu, pakaian yang dikenakan serta penganut
agama Islam banyak bertebaran di wilayah Selatan yang beretnis Melayu ini.
Sebenarnya penduduk Patani lebih mirip orang Melayu, berbeda dengan penduduk Siam-Thailand
pada umumnya yang bersuku Thai, karena sebenarnya mereka adalah keturunan
Melayu. Bergabungnya tiga provinsi di selatan Thailand (Pattani, Yala dan
Narathiwat) adalah kehendak dari Inggris dan Kerajaan Siam melalui perjanjian
pada tahun 1909. Yang sama sekali tidak mendengarkan suara rakyat di tiga
provinsi tersebut. Siam itu menjajah tiga provinsi di selatan Thailand sampai
kini, dan "Jangan sebut Kami orang Thai atau Muslim Thai. Kami adalah Orang Melayu
Muslim Patani".
''Sistem demokrasi Kerajaan Thailand yang terbentuk oleh budaya dan agamanya
cenderung otoriter terhadap minority Melayu di bagian Selatan Thailand.
Demokrasi barangkali baik bagi orang lain, tetapi bagi bangsa Patani bagaikan
negara yang aristokrasi atau sejenisnya''
Sehingga hingga saat ini banyak aktivity atau kebudayaan Thai yang tidak
dilakukan oleh warga Pattani, karena menurut mereka ‘kita berbeda Ideologi’.
Banyak warga Melayu Patani khususnya Muslim tidak ikhlas menjadi bagian dari
negara Thailand. Utamanya Muslim di selatan Thailand yang secara kultur dan
geografis lebih dekat ke dunia Melayu. Patani memang terbilang dekat dengan
Bangkok, tapi bagi sebagian warga Thai terasa begitu jauh (dihati). Karena Patani
adalah Dunia Melayu di bawah penjajah kolonial Siam-Thailand.
Menurut Sejarah, Dikir Barat
lebih di kenal dari Negeri Patani, Selatan Siam
ke Negeri Kelantan (Utara Malaysia).
Menurut masyarakat Kelantan, perkataan Barat ini bermakna Negeri Patani
di Selatan Siam.
Karena pada zama dahulu Nageri Kelantan dan Negeri Patani kedua ini selalu
datang dan pergi di antara dua negeri ini. Mereka membawa teater Dikir dengan
versi mereka masing-masing, dan diterima kedua negeri tersebut. Maka terjadilah
elaborasi antara kedua jenis dikir yang diadaptasikan dengan masing-masing
negeri yaitu Negeri Patani dan Negeri Kelantan.
Etnis, agama, maupun kultur di Patani Selatan
Thailand memang berbeda dengan majority penduduk Thailand Buhda.
Persoalan bukan pada perbedaan itu sendiri, tetapi terjadi saat hak
masyarakat Melayu Patani untuk mengekspresikan identitynya dibatasi
oleh sistem yang diberlakukan oleh pemerintahan Siam-Thailand..!!
Thailand kini
memang bukan Thailand
di bawah pemerintahan militer yang tidak demokratis. Tetapi faktanya di bawah
pemerintahan sipil pun masih muncul kritik seperti dilontarkan Komnas HAM di sana. Jadi, demokrasi
memang tidak serta-merta sempurna. Sebenarnyalah demokrasi sendiri merupakan
satu proses, bahkan mungkin proses belajar yang panjang.
Warna budaya muslim Melayu memang sangat kental di 3
provinsi Selatan Thailand.
Pemandangan para muslimah berjilbab. Warga Melayu Patani juga akrab dengan
pakaian batik (dengan bahasa yang sama : batik). Untuk keperluan ibadah, banyak
warga Patani yang mengenakan sarung asli Samarinda. Sepertinya profil Melayu di
Patani kerap bertukar kultur dengan Melayu di Malaysia ataupun Indonesia.
Memang, sepintas pemandangan di
Patani dapat menandakan bahwa ini masih wilayah Thailand hanyalah potret Raja
Bhumibol yang masih bertebaran disana sini, juga bendera merah putih biru
Thailand serta bendera kuning kerajaan yang bertengger di semua institusi
formal.
Yang unik, di kubah masjid Jami Patani, dipasang pula
bendera Thailand
persis di bawah tiang bulan bintang.
Jadi
apa yang terjadi di Thailand Selatan tak jelas siapa mendominasi siapa..??
Konflik berkepanjangan di tanah Malayu Patani
merupakan warisan bangsa penjajah masa lalu. Ini dosa politik bangsa kolonial yang juga terjadi di Asia tenggara, ada kelompok-kelompok etnis dimasukkan ke
suatu negara padahal secara culture masyarakatnya lebih pas dengan negara lain. Konflik Patani merupakan warisan bangsa kolonial
setelah meninggalkan wilayah tersebut. Tidak jelinya mereka mengakibatkan
ketegangan antaretnis. Namanya juga penjajah, ya terserah seleranya mau
bagi-bagi wilayah. (Nurani Chandrawati, Pengamat Hubungan Internasional
Universitas Indonesia
(UI).
Perjanjian Anglo Siam-Inggeris 1909
Kasus serupa juga
terjadi di Thailand Selatan.
Etnis Melayu Muslim Patani menuntut kemerdekaan penuh, karena ketidaksesuaian faktor
sosio-kultural dengan rezim yang berkuasa. Pada tahun 1457 daerah Patani
merupakan Kerajaan Melayu Patani. Kondisi Patani tersebut sama seperti daerah
tetangganya Perlis dan Kelantan di daerah Malaysia Utara. Namun pada 1875
Patani diduduki Thailand.
Kemudian datanglah Inggris ke semenanjung Malaka.
Dalam perjanjian
‘Anglo’ antara Inggris dengan Thailand,
Patani menjadi bagian dari Thailand.
Sedangkan Perlis dan lain-lain menjadi bagian dari jajahan Inggris. Muslim
Patani tidak mempunyai pilihan, mereka dipaksa menjadi bagian dari kerajaan Thailand.
Sejak itu terjadi pergolakan di daerah Patani hingga sekarang, karena menurut
sejarah, muslim Patani dijajah oleh kerajaan Siam.
Sejarah
Perjuangan Melayu Patani
Semenjak
Pemerintahan Kerajaan Melayu dihapuskan pada tahun 1902, orang Melayu Patani
berada dalam keadaan tertekan dan lemah. Seperti yang diungkap oleh W.A.R.
Wood, orang-orang Melayu telah menjadi mangsa sebuah pemerintahan yang buruk.
Maka, tidaklah heran apabila kekacauan seringkali terjadi di wilayah selatan
mulai tahun 1910 hingga 1923. Dalam masa pemerintahan Pibul Songgram
(1939-1944), orang Melayu telah menjadi korban asimilasi kebudayaan atau
Rathaniyom.
Tokoh
Diktator, Pibul Songgra
Tindakan Pibul Songgram memihak kepada
Jepang dalam Perang Dunia Kedua telah memberikan dugaan bagi orang-orang Melayu
Patani untuk membetulkan ketidakadilan mereka dalam oleh Perjanjian Bangkok
(1909). Tengku Mahmood Mahyideen, seorang pegawai berpangkat Major dalam
pasukan Force136, pernah mengemukakan permohonan kepada pihak Pemerintah
Britania di India supaya mengambil alih Patani dan wilayah sekitarnya serta
digabungan dengan Tanah Melayu. Harapan mereka bertambah besar ketika dalam
dalam persidangan wakil-wakil di 'San Francisco'
pada bulan April 1945 telah berjanji “akan membantu untuk membebaskan
negeri-negeri yang terjajah berasaskan prinsip hak menentukan nasib sendiri
(self-determination)”.
Pada
1 November 1945, sekelompok pemimpin Melayu Patani dipimpin oleh Tengku Abdul
Jalal, bekas wakil rakyat wilayah Narathiwat, telah mengemukakan petisi kepada
Kerajaan Inggris yang isinya memohon supaya empat wilayah di Selatan Siam
dibebaskan daripada penjajahan Siam.
Komitmen Ingris
terhadap Siam
berubah setelah usai Peperangan Pasifik. Keselamatan tanah jajahan dan
kepentingan Inggris di Asia Tenggara menjadi pertimbangan utama kerajaan
Inggris dalam pengakuannya terhadap Siam
atau pun Patani. Kerajaan Inggris juga memerlukan kerjasama Siam
guna mendapatkan pasokan beras bagi keperluan tanah jajahannya. Pertimbangan
penting lainnya, kerajaan Ingggris terpaksa menyesuaikan kesepakatannya
terhadap Siam
dengan tuntutan Amerika Serikat yang menduduki wilayah Siam
pada tahun 1941.
Kebangkitan
Komunis di Asia Tenggara selepas PD II, juga menjadi faktor pertimbangan
Inggris dalam menentukan kebijakannya, dimana Siam dianggap sebagai negara
penahan terhadap ancaman Komunis Cina. Blok barat menginginkan Siam
terus stabil dan memihak kepada mereka dalam persaingan dengan negara-negara
Komunis.
Kebangkitan
Komunis di Semenanjung Tanah Melayu pada bulan Juni 1948 mengakibatkan Ingggris
meningkatkan lagi kerjasama dengan Siam guna menghapuskan pemberontakan Komunis
di perbatasan Siam-Tanah Melayu. Oleh karana itu Isu Patani dianggap sebagai
penghalang ke arah kerjasama yang harmonis antara Inggris dengan Thailand.
Tengku
Mahmood Mahyideen
Tuan
Guru Haji Sulung
Selepas
persidangan Songkhla pada awal bulan Januari 1949, pihak penguasa Inggris di
Tanah Melayu mulai mengambil tindakan ke atas kegiatan GEMPAR di Semananjung
Tanah Melayu. Tengku Mahmood Mahyideen, seorang pemimpin utama Melayu Patani,
telah ditekan oleh pihak berkuasa, manakala Tuan Guru Haji Sulung telah
ditangkap oleh pihak berkuasa Siam atas tuduhan subversif. GEMPAR, sebuah
organisasi politik masyarakat Melayu Patani di Semenanjung juga telah dibatasi
aktivitasnya.
Akibat daripada tekanan tersebut,
gerakan Melayu Patani mulai lemah dan goyah. Sungguhpun begitu, perjuangan
Tengku Mahmood Mahyideen dan Tuan Guru Haji Sulung telah diteruskan generasi
muda Patani. Sepanjang tahun 1960-an, beberapa Organisasi pembebasan telah
didirikan bagi memperjuangkan kemerdekaan Patani melalui perjuangan bersenjata
yang terus berlanjut hingga sekarang sampai terwujud kemenangan Umat Melayu Muslim Patani atas izin Allah.
Pada 11 April 2012, jam 8.00 malam,
berlaku satu kejadian penembakan penduduk kampong Benaeperai Penarik wilayah Pattani, Thailand Selatan.
Kejadian tersebut berlaku selepas peduduk tersebut selasai solat Isya' di
Musolla Sabilulkhoir (Madrasah) yang sedang megobrol seramai 5 orang.
Sekelompok orang bersenjata menembak dan membunuhdua warga
Muslim saat mereka meninggalkan masjid setelah shalat Isya di wilayah Thailand
selatan. Mereka
masih di dalam kompleks masjid ketika mereka ditembak setelah shala.
Menurut warga desa di tempat kejadian, setelah mereka
selesai doa bersama masing-masing siap ingin pulang kerumahnya. Bahwa
mangsa yang terselamat menceritakan detik kejadian ini dengan
mengatakan bahwa:
Mangsa yang tewas Yali Lahea (52), seketika itu mangsa ingin pulang kerumah dan menutup semua lampu musolla tersebut, hanya
lampu yang tidak dipadamkan tempat ambil wuduk dan lampu paling utama Musolla di
tanggalkan.
Setelah mangsa tewas
melangkah kaki untuk keluar dari halaman Musolla bersama jiran Chesofiah
Wok yang cedera parah mereka terdengar suara mengatakan "Mahu kemana?"
(dalam Bahasa Thai) dan terus lepas ditembakan kearahnya.
Sejumlah pria bersenjata tiba-tiba menembak ke kerumunan jamaah yang baru
keluar dari masjid usai
melaksanakan shalat berjamaah di Masjid.
Ketika itu Ramli Hj.Doleng suami kepada Chesofiah yang masih berada dalam pagar Musolla cuba melarikan
diri ke dalam Musolla tapi bertembong dengan kelompak gelap yang memakai
pakaian seramgam warna hitam sedang mengacu senapang kearahnya dan akhir Ramli
ditembak mati di tempat kejadian tersebut, tutur penduduk desa.
Selama konflik bersenjata, lebih dari 5.100 orang telah
tewas, baik dari kalangan entis Melayu dan warga Buddha. Sejak kerusuhan meningkat pada
Januari 2004, konflik di Thailand Selatan sebagian besar terjadi di wilayah
Pattani, Yala dan Narathiwat.
Wilayah Thailand Selatan yang didominasi Muslim, sejak lama melakukan
perlawanan untuk meraih kemerdekan dari Thailand Utara. Ini membuat wilayah ini
selalu dibayangi berbagai serangan bom dan kekerasan kepada pihak tentara, para
pejuang, dan warga sipil hampir setiap harinya.
Ini diperburuk dengan penempatan puluhan ribu tentara oleh Pemerintah
kolonial Thailand. Selain itu pemerintah Thailand juga menjadikan beberapa
wilayah dominasi muslim beretnis Melayu ini sebagai daerah darurat militer.
"Apa
yang terjadi di sini, tidak terlepas tokoh-tokoh Agama dan rakyat Melayu yang
tidak berdosa tersebut telah menjadi Kambing
Hitam.Tindakan militer jauh lebih tak bermoral. Mereka
bertindak brutal, bahkan tanpa pandang bulu apakah sasarannya anak-anak atau
orang-orang tua. Mereka dengan semena-mena masuk ke rumah-rumah, menangkapi
orang-orang tidak berdosa secara brutal. Pemerintah melakukan aksi-aksi
penangkapan massal terhadap kaum etnis Melayu Muslimin, pembekuan dan penghancuran
sekolah-sekolah Agama Islam, termasuk penangkapan terhadap sejumlah Kiayi-Ulama dan para
pemimpin Islam, menyusul terjadinya serangkaian kekerasan di wilayah etnis Melayu di Selatan Thailand yang berkelanjutan"
Kepolisian
Thailand telah menangkap
empat tersangka terkait rentetan ledakan bom di Thailand selatan yang menewaskan 15
orang. Keempat tersangka membantah terlibat serangan bom mobil tersebut.
Tiga pria ditahan pada Rabu, 4 April malam di sebuah rumah di Distrik Rueso,
Provinsi Narathiwat dalam operasi yang melibatkan 50 polis dan paramiliter.
Dikatakan Kolonel Satarnfa Wamasing dari kepolisian Rueso, sebelum operasi
tersebut, sebuah truk curian yang digunakan dalam serangan di Kota Yala
terlihat di depan rumah salah satu tersangka.
"Mereka masih membantahnya namun kami punya bukti bahwa mereka bertemu
untuk merencanakan serangan-serangan," kata Satarnfa kepada AFP,
Kamis (5/4/2012).
Diimbuhkannya, kepolisian juga sedang menyelidiki catatan panggilan telepon
yang mereka lakukan.
"Ada
orang-orang lainnya yang terlibat namun saya tak bisa mengatakan berapa
banyak," tutur Satarnfa.
Dikatakan Satarnfa, salah seorang tersangka adalah Ustaz yang telah 9 kali
mendapatkan perintah penangkapan. Sementara tersangka keempat ditangkap di
rumahnya di Provinsi Yala. Dia terekam kamera CCTV sedang mengendarai sebuah
motor untuk menjemput sopir salah satu kendaraan yang dipakai dalam dua ledakan
bom di Yala. Pria itu juga membantah keterlibatannya.
Hampir setiap hari terjadi serangan acak yang menggunakan senjata api
maupun bom. Pemberlakuan keadaan darurat di wilayah itu makin membuat
situasi memburuk karena memberikan kekebalan hukum dan mendorong
puluhan ribu tentara yang ditempatkan di sana melakukan pelanggaran hak
asasi manusia.
Bagi umat Melayu ini adalah satu
kezaliman dan menambahkan lagi penderitaan warga masyarakat di Selatan
Thailand. Dan ia juga melahirkan kemarahan warganya di selatan terhadap kerajaan
dan ini menjadi punca keganasan di selatan yang sukar untuk dibendungkan.
Impaknya amat buruk sekali terhadap warga yang beretnis Melayu. Ia melahirkan
ketakutan dan keburukan kerana darurat militer ini dikuatkuasa ke atas umat
Melayu Islam sahaja.
Para pejabat keamanan Thailand
merekomendasikan aturan darurat di Provinsi Yala, Pattani dan Narathiwat, serta
sebagian wilayah Songkhla. Bahwa Undang-undang Darurat memperluas kekuasaan
pemerintah. Yakni berwenang merazia, melarang rapat massal, menyensor berita
dan publikasi rahasia, membatasi perjalanan, menahan tersangka tanpa
pengadilan, menyita properti, dan meyadap telepon.
Bom diguncang tiga provinsi Thailand Selatan. Dalam insiden tersebut di Hatyai 3 orang tewas empat ratus luka-luka, di Yala bom juga melukai 100 lainnya dan 10 orang tewas. Terpisah, di Provinsi Pattani lagi seorang polis terluka dalam serangan bom.
Bom meledak di pusat kota
Yala ketika siang hari, saat orang-orang sedang berbelanja. Sejumlah pertokoan
dekat dengan lokasi bom terbakar. Motor dan mobil yang diparkir di sekitar
lokasi hancur akibat ledakan yang kuat tersebut.
"Sembilan korban tewas dan 112 orang yang terluka sudah dibawa ke rumah
sakit," ujar seorang perawat di unit gawat darurat rumah sakit Yala kepada
AFP, Sabtu (31/3).
Kementerian Kesehatan Thailand
mengatakan 10 orang dalam kondisi kritis akibat luka bakar. Juru bicara militer
di wilayah tersebut Kolonel Pramote Promin sebelumnya mengatakan, tujuh orang
tewas dan lebih dari 70 orang terluka.
Menurut suster di UGD rumah sakit Yala, 9 orang tewas dan 112 lagi telah
dibawa ke rumah sakit, tapi polis kemudian menaikkan angka korban tewas menjadi
10.
Gubernur Yala mengatakan, saat bom meledak di kawasan bisnis, sebagian besar
korban sedang berada di dalam mobil. Diduga pelaku meletakkan bom di bawah
beberapa mobil yang diparkir di daerah tersebut.
"Bom pertama adalah bom mobil. Sedangkan bom yang kedua dan ketiga
adalah bom yang tersembunyi di sepeda motor," ujar Promin.
Seorang polis Yala mengatakan, masing-masing bom meledak dengan jeda waktu
10 menit. Pasukan penjinak bom terlihat memeriksa puing mobil yang hancur di
lokasi kejadian. Asap terlihat memenuhi jalanan.
Sejumlah ruko di dekat lokasi ledakan terbakar dan banyak mobil dan motor
yang diparkir di sekitar lokasi rusak akibat ledakan tersebut.
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang berkobar di
sekitarnya. Petugas penyelamat membantu korban yang terluka. Mereka juga
mencari korban terluka lainnya.
Petugas tim gegana terlihat memeriksa reruntuhan mobil di tempat ledakan bom
mobil sementara regu pemadam kebakaran mematikan api di dekatnya.
Para petugas pertolongan membantu korban
yang berlumuran darah mencari orang-orang lain yang luka di tengah asap di
jalan. 10 orang dalam keadaan kritis akibat luka bakar, deminikian menurut
kementrian kesehatan umum.
Terpisah, di Provinsi Pattani lagi seorang polis terluka dalam serangan bom sepeda motor di depan
Kantor Kepolisian distrik Mae Lan.
Di tempat yang berbeda, sebuah ledakkan juga terjadi di sebuah hotel Hat
Yai, Provinsi Song Khla. Menurut laporan, Kepala polis nasional Thailand
mengatakan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi,
Minggu (01/4/2012) kebakaran yang menimbulkan korban tewas di
sebuah hotel di Thailand
selatan disebabkan oleh bom mobil yang diduga ditanam oleh gerilyawan.
Dalam peristiwa kebakaran yang terjadi di hotel menurut
AFP setidaknya menewaskan tiga orang, termasuk seorang turis
Malaysia, dan melukai empat ratus lainnya, menurut pernyataan
yang diberikan oleh gubernur provinsi.
Ledakan bom datang secara bersamaan dengan
peristiwa ledakan bom yang terjadi di lain tempat di wilayah
Yala setidaknya telah menewaskan 10 orang .
"Ya itu adalah bom mobil dan itu terkait dengan insiden (bom) di Yala dan
saya percaya bahwa itu adalah pekerjaan dari kelompok yang sama. Kendaraan yang
digunakan adalah Honda, "kata Kapolri Jenderal Priewpan Damapong.
Insiden bom di Yala merupakan yang terburuk sejak serangan bom pada Januari
tahun lalu yang menewaskan sembilan orang.
Pejuang kemerdekaan Patani di Thailand
selatan diduga bukan bagian dari gerakan jihad global, melainkan berjuang menuntut hak Hukum Internasional dan pebebasan
melawan diskrimisasi terhadap golongan etnik Melayu yang Muslim yang sudah lama
dilakukan oleh berbagai pemerintah Thailand berturut-turut.
Untuk meredam kerusuhan, pihak berwenang telah memberlakukan keadaan darurat
di wilayah itu, yang menurut para pejuang HAM pada hakekatnya memberi kekebalan
hukum kepada militer.
Militer minggu lalu mengakui bahwa tentara akhir Januari lalu menembak mati
empat orang Muslim warga desa yang sedang dalam perjalanan menuju pemakaman
gara-gara salah paham mengira mereka akan diserang kaum geriliya.
Salah satu insiden paling banyak menelan korban jiwa di kawasan itu terjadi
25 Oktober 2004, dimana tujuh orang mati ditembak selagi aparat keamanan
membubarkan protes di kota
Tak Bai, dan 78 lagi tak bisa bernafas atau terhimpit sampai mati dalam truk
sewaktu diangkut ke tempat penahanan.
Kelompok-kelompok HAM mengatakan, kegagalan pihak berwenang Thailand untuk
meminta pertanggungjawaban aparat keamanan sehubungan dengan kematian para korban
telah memicu kekerasan lebih lajut dan alienasi di wilayah selatan itu.
Jurubicara pihak berwenang lokal mengatakan kepada Kedutaan Australia di
Bangkok bahwa tidak ada warga asing yang tewas atau cedera dalam ledakan bom di
Thailand
ini.
Wilayah selatan Thailand
yang berbatasan dengan Malaysia
tersebut mengalami ketidakstabilan kondisi keamanan sejak 2004.
Selama ini, lebih dari 5.000 orang tewas sejak puluhan aksi pada Januari 2004 di daerah yang didominasi penduduk etnis Melayu,
seperti Provinsi Yala, Pattani dan Narathiwat.
Rupanya, daerah yang merupakan bagian dari Kesultanan PATANI itu
pernah dilanda aksi pemboman dan peledakkan setiap hari pada tahun 1909.
Kemudian berhasil direda oleh militer Thailand. Dan, kini insiden masa
silam itu kembali terulang.