Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Sabtu, Januari 12, 2013

Bom Tewas Dua Tentera Patroli, Tiga Polis Tewas Ditembak


Penyatuan tanpa memandang sejarah kawasan, budaya, dan keinginan etnis yang bersangkutan menjadi penyebab timbulnya masalah di tengah kondisi sebuah 'Bangsa Patani' di Asia Tenggara yang akhirnya konflik berkembang hingga sekarang.
 






Dua tentara yang menyediakan keamanan tewas dan dua lainnya terluka oleh ledakan bom Pejuang Kebebasan Patani di desa Banae Pinag jalan di distrik Yarang provinsi Patani pada Jumat (11/01/) 09.12 pagi waktu tempatan.

Tentara dari pasukan khusus No 21 Pattani berpatroli jalan pedesaan di
Banae Pinag di  distrik Yarang ketika sebuah bom rakitan yang dikubur meledak di bawah kendaraan mereka.

Penyelidikan awal polis mengungkapkan bahwa para pejuang Patani telah menempatkan bahan peledak di gorong-gorong air di bawah jalan dekat pintu masuk ke Ban Baka dan kemudian bersembunyi di sebuah perkebunan karet di dekatnya dengan dihubungan listrik sepanjang lebih dari 100 meter untuk memicu bom.

Para korban tewas diidentifikasi sebagai Sersan Sahathep Pithaisong dan Sersan Anurak Sunthornpak.




Sementra pada hari yang sama Provinsi yang sama di desa Kalapho Daerah Saiburi tiga orang polis ditembak mati dalam serangan pinggir jalan di desa Kalapho provinsi Pattani diduga oleh Pejuang Kemerdekaan Patani di Thailand Selatan yang bergolak.

Insiden itu terjadi Jumat larut malam 21.30 waktu tempatan ketika polis sedang melakukan patroli di atas jalan raya.

Kepolisian Pattani dan Unit Penjinak Peledak (EOD) bergegas ke tempat kejadian setelah menerima laporan.

Penyidik mengatakan para polis sedang dalam perjalanan mereka untuk berpatroli di atas jalan raya. Serangan dilakukan seramai lima orang dari atas mobil pickup Toyota yang dinaiki menyerang menembaki mereka.

Polis yang tiba di lokasi menemukan selongsong kosong dari peluru-peluru senapan sejenis M16.

Lebih dari 5.000 orang telah tewas dan lebih dari 9.000 terluka dalam lebih dari 11.000 insiden, atau sekitar 3,5 insiden dalam sehari, di tiga provinsi di wilayah perbatasan selatan dan empat distrik di Songkhla sejak perjuangan kebebasan diri umat Melayu Patani dari kerajaan kolonial Buddha Siam-Thailand meletus lagi pada Januari 2004.
 


Hampir setiap hari terjadi ledakan dan penembakan. Para penyerang menargetkan pangkalan dan tentera militer. Selain itu para gerakan geriliya Patani juga menggunakan bahan peledak, Ledakan tersebut menghantam kendaraan musuh yang sedang dalam perjalanan yang diletakkan di pinggir jalan saat berpatroli.

Thailand Selatan sebelumnya merupakan sebuah Kesultaanan Melayu Patani sampai akhirnya di rebut oleh Kerajaan kolonial Budha Thailand pada tahun 1902.

Kelompak geriliya ini menuntut kemerdekaan untuk kawasan yang secara historis disebut PATANI, yang dianeksasi oleh kerajaan Thailand sekitar seabad yang lalu. 

Penyatuan tanpa memandang sejarah kawasan, budaya, dan keinginan etnis yang bersangkutan menjadi penyebab timbulnya masalah di tengah kondisi sebuah 'Bangsa Patani' di Asia Tenggara yang akhirnya konflik berkembang hingga sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar