PATANI Derita Yang Tak Kunjung Usai (Right Of Self Determination)

Jumat, Juni 15, 2012

Budaya dan Dialek Melayu Patani


“…Untuk apa kita menyeberang pada budaya orang lain. Jika ada ladang yang terlantar, mengapa kita harus mengerjakan ladang orang lain”

Suatu seni budaya Melayu Patani dapat kita bertahan dan berkembang maka warisan seni budaya dapat dipelihara dan dihayati dari generasi kegenerasi berikutnya.  

Kenyataan itu seyogianya tidak dibiarkan begitu saja. Jika kita biarkan, itu berarti kita rela mengikis kekayaan budaya kita satu demi satu, sehingga akhirnya kita tidak punya budaya lagi sebagai jati diri. Buat sementara, kita mungkin kelihatan maju oleh budaya (Siam-Thailand) yang bersifat materialistis, individualistis dan hedonis itu. Tapi, sesungguhnya budaya itu tak punya makna. Sementara kita hidup bukan hanya sebatas mencari benda dan memuaskan nafsu, tetapi lebih-lebih mencari makna kehidupan. 

Jika seni budaya seperti sastra lisan Melayu tidak lagi dikenal dan terlepas dari medan budaya generasi muda, maka besar kemungkinan seni budaya itu akan terputus dari sejarahnya, lalu tenggelam dalam perjalanan puak atau suku bangsa (Siam-Thailand) tersebut. Inilah yang menyebabkan punahnya beberapa jenis budaya tradisional jati Melayu Patani. Menimbang jalan sejarah yang demikian, maka sastra lisan Melayu Patani juga dapat mengalami nasib serupa itu.  

Jika ada pembendaharaan budaya Melayu kita yang cukup potensial, untuk apa kita menyeberang pada budaya orang lain. Jika ada ladang yang terlantar, mengapa kita harus mengerjakan ladang orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar