Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Kamis, Juni 19, 2014

Kudeta Berpura Lupa



Kuasa, kejahatan, kekebalan dan kelicikan jenderal-jenderal 'KUDETA'.. 

Mengungkap usaha perjuangan bangsa Melayu Patani, serta masa depan penyelesaian kasus PERANG, terutama dalam kaitannya dengan konflik decade ini di Selatan Thai.

Sebab bangsa Patani bukan bagian dari kekuasaan kudeta yang terus- menerus berpura-pura lupa.


Rabu, Juni 18, 2014

Kebijakan yang Cacat..'




Membanjiri di Selatan dengan ribuan aparat tentara pun tidak membuahkan hasil. Masalahnya berakar dari kebijakan yang cacat. Pemerintah Bangkok perlu menerapkan pendekatan yang lebih bijaksana, memenangkan hati rakyat yang beretnis Melayu bukan mengandalkan aparat militer, agar rasa permusuhan dan dendam antara aparat pemerintah dan keamanan dengan warga Melayu setempat tidak terus membara di kemudian hari. Selain perlunya mewujudkan janji-janji pemerintah membangun rakyat etnis Melayu Patani di Selatan Thailand, bukan bermusuhan.

Jumat, Juni 13, 2014

Melawan Penggelapan Kebenaran


Kebisuan satu bangsa dan pembisuan korban keganasan adalah halangan terbesar kenangan akan korban.. aksi mahasisiwa dan massa merupakan gerilya kemanusiaan melawan penggelapan kebenaran.. (perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan menegakan keadilan) bangkit, bangun, melawan kuasa tirani..!





Kamis, Juni 05, 2014

Apa Penguasa Kira..?




apa penguasa penjajah Siam-Thai kira
rakyat bangsa Melayu Patani hidup di hari ini saja

apa penguasa kira
ingatan bisa dikubur
dan dibendung dengan moncong tank

apa penguasa kira
selamanya ia berkuasa

tidak! tidak!
tuntutan kita akan lebih panjang umur
ketimbang usia penguasa

derita rakyat bangsa Melayu selalu lebih tua
walau penguasa kudeta baru naik
mengganti penguasa lama 

umur derita rakyat Patani
panjangnya sepanjang umur peradaban

umur penguasa mana
pernah melebihi tuanya umur batu Gresik
yang dimuntahkan ledakan pistol dan bom?

ingatan rakyat Patani serupa bangunan pintu gerbang
kekejaman penguasa penjajah Siam-Thailand setiap jaman
terbaca di setiap sudut dan sisi
yang menjulang tinggi kekerasan, yang tidak berprikemanusiaan..!!




Rabu, Juni 04, 2014

Irredentist Patani


"Konflik Bangsa Melayu Patani yang terjadi di Thailand Selatan bukanlah sekedar konflik pembebasan diri biasa, namun terkandung elemen irredentist.  

Sifat irredentist ini ditunjukkan dengan keinginan rakyat Melayu Patani tersebut untuk melepaskan diri dari Kerajaan kolonial Thailand agar bisa bebas independen..''


Senin, Juni 02, 2014

‘Kolonialisme Internal’ di Selatan Thailand"


Melihat gerakan Melayu di Thailand Selatan sebagai bagian dari reaksi atas ‘kolonialisme internal’ di Thailand. Disparity latar belakang cultural dan sejarah yang berbeda antara pemerintah Siam-Thailand dengan etnis Melayu Patani menimbulkan tumbuhnya semangat ’pembebasan’, atau istilah ‘Perjuangan Kemerdekaan’ yang terjadi di provinsi Selatan.

Disparity ini menimbulkan kekecewaan, kecemburuan dan rasa tidak adil yang kemudian berakibat pada keinginan masyarakat Melayu untuk mengatur mereka sendiri (merdeka). 

Kesenjangan ini semakin lebar, karena pemerintah menaruh curiga atas tumbuhnya kekuatan masyarakat di wilayah ini. Disparity memiliki konsekuensi yang mendalam mengenai identity kemalayuan di Selatan. Tekanan kebijakan pemerintah Siam-Thailand berbasis keamanan yang mengancam masyarakat Melayu. Masyarakat etnis Melayu merasa tidak di ’rumah’ mereka sendiri. Dengan adanya kesenjangan inilah mula menurunkan tingkat nasionalisme masyarakat Melayu Patani di Thailand Selatan. Perbedaan yang mencolok antara Melayu di Selatan dan Siam-Thai dilihat pada keragaman etnisitasnya (sosial).

Bangsa dengan Identity dan etnik yang berbeda mendapat tantangan besar bagaimana menyatukan mereka dalam payung satu nasionalisme. Apalagi berbeda etnik, cultural dan history yang telah tumbuh dalam satu kekuatan dinamis selama ratusan tahun. Sebagian gerakan kemerdekaan muncul dari satu etnik atau identity yang mendapat kebijakan ‘diskriminatif’ dari pemerintah pusat. Kebijakan ini diciptakan untuk meredam menguatnya identity Melayu sehingga pemerintah pusat Siam-Thailand merasa terancam, atau sengaja dibuat untuk tujuan ’integrasi nasional’.

Identity Melayu di Thailand Selatan lebih dekat dengan Kelantan dan Kedah, Malaysia. Masyarakat secara tradisional lebih at home menggunakan bahasa Melayu dibandingkan bahasa Thai yang digalakkan oleh pemerintah pusat sebagai bahasa resmi negara. Keterpaksaan masyarakat Melayu di Thailand Selatan dirasakan selama puluhan tahun, sejak integrasi Melayu di selatan Thailand menjadi bagian dari Kerajaan Thailand. Penggunakan bahasa Thai wajib digunakan di kantor kerajaan, pemerintah, sekolah dan media. 

Strategi pemerintah Thailand minimal membuahkan hasil. Dalam waktu sekitar 50 tahun, ada sebagian generasi muda Melayu Patani suka berbahasa Thai dibandingkan bahasa Melayu, baik di sekolah maupun dalam pergaulan sehari-hari. Tetapi mereka ‘mempertahankan’ untuk berbicara dalam bahasa Melayu ketika mereka berkumpul dilingkungan sesama masyarakat Melayu dan ahli keluarganya. Upaya menjaga ‘Bahasa Kemalayuan’ menjadi bagian dari identity terkuat bagi warga Melayu Patani di Thailand Selatan yang berbeda dengan masyarakat Siam-Thailand.

Strategi kerajaan colonial Thailand hanyalah suatu mimpi lama, yang kini harus ditinggalkan. Sekarang pemerintah Siam-Thailand perlunya dibangun adalah memajukan, mendukung, dan menjaga stability kemalayuan masyarakat etnis Melayu di Selatan. Hal yang terakhir masih menjadi kendala bagi penciptaan perdamaian di wilayah selatan dan di rantau Asia Tenggara.

Majority Melayu tinggal di bagian Selatan Thailand, sekitar 80 persen dari total penduduk, khususnya di Patani, Yala dan Narathiwat, tiga provinsi yang sangat mewarnai dinamika di Selatan dan sebagian empat daerah provinsi Songkla. Identity Melayu di wilayah ini mengakar sejak kerajaan Sri Vijaya yang menguasai wilayah Asia Tenggara, termasuk kerajaan Patani di Selatan Thailand.

Selasa, Mei 27, 2014

Pemerintah Thai Bersikap Diskriminatif

Kebiadaban tentara Thailand terhadap umat Bangsa Melayu di Patani sebenarnya telah mengakar sejak berdirinya negeri gajah putih itu. Ini tidak hanya menyangkut soal ketegangan budaya tetapi juga soal ketegangan berbangsa. 
Bangsa Thai yang majority beragama Budha kelihatannya belum menerima orang Patani sebagai masyarakat sebangsa. Secara geografis Patani diklaim sebagai wilayah kerajaan Thai, tetapi sebaliknya secara demografis dan kultural Patani selalu dilihat sebagai bangsa lain yang kehadirannya dianggap mengganggu keutuhan bangsa itu, akibatnya mereka didiskriminasi karena berbeda ras dan berbeda etnis, dengan demikian juga beda kultur. Perbedaan itu yang membuat pemerintah Thai bersikap diskriminatif bahkan cenderung diekpresikan dengan tindak kekerasan baik yang terbatas maupun massal.

Sabtu, Mei 24, 2014

Pelanggaran HAM Berat di Thailand Selatan



HAM merupakan singkatan dari hak asasi manusia, yang berarti hak dasar yang dimiliki manusia sejak lahir dan tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya. Hal ini menandakan jika hak asasi manusia atau HAM merupakan hak dasar dan hak pokok yang dimiliki tiap manusia, tanpa terkecuali, sejak lahir sebagai anugerah dari Tuhan. Namun dalam penerapannya, banyak terjadi kasus-kasus pelanggaran HAM. Banyak terjadi penyelewengan dan penyalahan HAM yang berlaku terhadap etnis Melayu yang berbangsa PATANI di Thailand Selatan. Sebelum ini telah banyak diulas kasus pelanggaran HAM di Thailand Selatan dalam koran tempatan maupun koran di dunia internasional. Lalu kasus pelanggaran HAM apa sajakah yang masuk dalam kasus pelanggaran HAM berat terbesar di Thailand Selatan..?

Itu hanya sedikit informasi yang bisa update mengenai kasus pelanggaran HAM yang terberat. Sebagai manusia sosial, tentu kita harus menegakkan hukum HAM dengan menghormati HAM masing-masing individu dan tidak melakukan pelanggaran. Jika itu sudah dilaksanakan, maka perdamaian akan tercipta hingga tidak ada lagi yang namanya perang, konflik atau pertikaian antar negara, ras, suku atau bangsa di PATANI Selatan Thailand ini.








Kamis, Mei 22, 2014

Usul Melayu Patani Ditolak



Jika rakyat Melayu Patani pergi tinggal tempat
Ketika penguasa penjajah Siam berpidato
Penguasa harus hati-hati
Barangkali rakyat bangsa Melayu Patani putus asa
.
Kalau rakyat Melayu bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
.
Bila rakyat bangsa Melayu Patani berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa penjajah Siam
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
.
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan !!
Kibarkan 'Obor Revolusi'


Jumat, Mei 16, 2014

Kibar Spanduk Menunut HAK


Terdapat berapa spanduk dan spray warna terukir pada benteng kembali suara di Patani, Selatan Thailand, Senin (19/05/2014). Spanduk itu dikibarkan mendukung simposium perjuangan kebebasan Melayu Patani dalam mempresentasikan perjuangan masyarakat Melayu di salah satu kabupaten Thepa provinsi Songkla. Aksi itu sekaligus untuk mengecam semua bentuk pelanggaran 'Hak Pertuanan' di tanah rumpun Melayu olehi pihak pemerintah kolonial Siam Thailand

Sejumlah spanduk yang membentangkan merupakan perjuangan untuk kemerdekaan penuh bagi Patani, dalam tulisan itu bermaksud 'Hey penjajah Siam-Thailand, kembalikan hak pertuanan kepada Bangsa Melayu Patani'.

Menurut pengertian spanduk dan pamflet yang berisi tuntutan agar segera mengusut tuntas kasus pelanggaran hak kemerdekan pada bangsa yang masih dibawah pemerintahan kolonial yang terjadi selama ini di Patani.

Meskipun pengibaran spanduk yang diklaim oleh Pemerintah Thailand sebagai lambang dari perlawanan pro kebebasan Bangsa Melayu Patani, polis telah melakukan pengamanan pembentangan spanduk tersebut. Namun, suasana kabupaten Thepa tetap berjalan normal dan kondusif. 






Rabu, Mei 07, 2014

Hanya Satu Jalan 'Revolusi'




Revolusi adalah perubahan, perubahan yang cepat. Seperti Badai memporak-porandakan semua yang dilaluinya. Menghancur-leburkan semua tatanan yang lemah. Menggilas siapapun yang mencoba menantang.

Revolusi seperti Badai. Tidak akan ada seorangpun menyadarinya (bagi yang tidak merencanakannya) kapan dia datang dan kapan akan berhenti. Tidak seorangpun mengetahui bagaimana mengantisipasinya. Tidak ada seorangpun yang dapat menghadangnya.

Revolusi adalah momok bagi yang mati hatinya. Kehancuran bagi pecinta dunia, petaka bagi pengumpul harta, nestapa untuk yang miskin petunjuk.

Revolusi adalah kematian, pengorbanan dan darah. Pengujian tertinggi bagi loyality dan ketaatan. Tidak akan ada Revolusi kecuali harus ada korban karena penghambaan.

Revolusi adalah pemisah. Akan muncul jurang pemisah. Maka akan teranglah pemisah itu. Maka akan jelaslah perbedaan itu. Merobohkan yang samar dan keraguan. Memisahkan ikatan-ikatan dunia. Memisahkan Ideologi-ideologi. Memisahkan keyakinan-keyakinan.

Revolusi adalah Badai. Menghancurkan tatanan Penjajah memunculkan tatanan Hak Pertuanan. Seperti Badai setelah kehancuran dan kesedihan serta air mata juga darah, akan muncul keheningan dan damai.

Sabtu, Mei 03, 2014

Right Of Self Determination (RSD)

Memang bukan masyarakat Siam itu yang bersalah, tetapi ada yang salah dalam otak bangsa Thai, yakni kesalahan dalam memandang Comunity Melayu di wilayah Selatan, bangsa Siam ini mengaku metropolis, demokrat, tetapi dalam kenyataaannya belum bisa menerima perbedaan. Dimana ada demokrasi tanpa mengenal perbedaan pendapat, kalau tidak dalam bangsa yang masih rendah peradabannya yang belum setara dengan tuntutan demokrasi itu sendiri.