Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Senin, Juni 02, 2014

‘Kolonialisme Internal’ di Selatan Thailand"


Melihat gerakan Melayu di Thailand Selatan sebagai bagian dari reaksi atas ‘kolonialisme internal’ di Thailand. Disparity latar belakang cultural dan sejarah yang berbeda antara pemerintah Siam-Thailand dengan etnis Melayu Patani menimbulkan tumbuhnya semangat ’pembebasan’, atau istilah ‘Perjuangan Kemerdekaan’ yang terjadi di provinsi Selatan.

Disparity ini menimbulkan kekecewaan, kecemburuan dan rasa tidak adil yang kemudian berakibat pada keinginan masyarakat Melayu untuk mengatur mereka sendiri (merdeka). 

Kesenjangan ini semakin lebar, karena pemerintah menaruh curiga atas tumbuhnya kekuatan masyarakat di wilayah ini. Disparity memiliki konsekuensi yang mendalam mengenai identity kemalayuan di Selatan. Tekanan kebijakan pemerintah Siam-Thailand berbasis keamanan yang mengancam masyarakat Melayu. Masyarakat etnis Melayu merasa tidak di ’rumah’ mereka sendiri. Dengan adanya kesenjangan inilah mula menurunkan tingkat nasionalisme masyarakat Melayu Patani di Thailand Selatan. Perbedaan yang mencolok antara Melayu di Selatan dan Siam-Thai dilihat pada keragaman etnisitasnya (sosial).

Bangsa dengan Identity dan etnik yang berbeda mendapat tantangan besar bagaimana menyatukan mereka dalam payung satu nasionalisme. Apalagi berbeda etnik, cultural dan history yang telah tumbuh dalam satu kekuatan dinamis selama ratusan tahun. Sebagian gerakan kemerdekaan muncul dari satu etnik atau identity yang mendapat kebijakan ‘diskriminatif’ dari pemerintah pusat. Kebijakan ini diciptakan untuk meredam menguatnya identity Melayu sehingga pemerintah pusat Siam-Thailand merasa terancam, atau sengaja dibuat untuk tujuan ’integrasi nasional’.

Identity Melayu di Thailand Selatan lebih dekat dengan Kelantan dan Kedah, Malaysia. Masyarakat secara tradisional lebih at home menggunakan bahasa Melayu dibandingkan bahasa Thai yang digalakkan oleh pemerintah pusat sebagai bahasa resmi negara. Keterpaksaan masyarakat Melayu di Thailand Selatan dirasakan selama puluhan tahun, sejak integrasi Melayu di selatan Thailand menjadi bagian dari Kerajaan Thailand. Penggunakan bahasa Thai wajib digunakan di kantor kerajaan, pemerintah, sekolah dan media. 

Strategi pemerintah Thailand minimal membuahkan hasil. Dalam waktu sekitar 50 tahun, ada sebagian generasi muda Melayu Patani suka berbahasa Thai dibandingkan bahasa Melayu, baik di sekolah maupun dalam pergaulan sehari-hari. Tetapi mereka ‘mempertahankan’ untuk berbicara dalam bahasa Melayu ketika mereka berkumpul dilingkungan sesama masyarakat Melayu dan ahli keluarganya. Upaya menjaga ‘Bahasa Kemalayuan’ menjadi bagian dari identity terkuat bagi warga Melayu Patani di Thailand Selatan yang berbeda dengan masyarakat Siam-Thailand.

Strategi kerajaan colonial Thailand hanyalah suatu mimpi lama, yang kini harus ditinggalkan. Sekarang pemerintah Siam-Thailand perlunya dibangun adalah memajukan, mendukung, dan menjaga stability kemalayuan masyarakat etnis Melayu di Selatan. Hal yang terakhir masih menjadi kendala bagi penciptaan perdamaian di wilayah selatan dan di rantau Asia Tenggara.

Majority Melayu tinggal di bagian Selatan Thailand, sekitar 80 persen dari total penduduk, khususnya di Patani, Yala dan Narathiwat, tiga provinsi yang sangat mewarnai dinamika di Selatan dan sebagian empat daerah provinsi Songkla. Identity Melayu di wilayah ini mengakar sejak kerajaan Sri Vijaya yang menguasai wilayah Asia Tenggara, termasuk kerajaan Patani di Selatan Thailand.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar