Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Senin, Januari 16, 2012

"Roadmap to Deep-South Resolution: Government Concerns and Policy Responses 2011-2014"



Kerajaan Kolonial Thailand telah menghabiskan dana sebesar USD3,5 Milyar dalam operasi militer selama delapan tahun. Setidaknya 535 orang tewas pada tahun 2011. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari tahun 2010 yang mencapai 521.

Duta Besar Inggris untuk Thailand Asif Ahmad mengatakan: “Konflik di Selatan Thailand akan berkembang menjadi krisis keamanan internasional”. 
Dubes Uni Eropa untuk Thailand David Lipman memberikan fakta lain mengenai konflik ini: "Hampir dua orang dibunuh setiap harinya di Thailand Selatan. Ini jelas sangat mengkhawatirkan".

BANGKOK - Duta Besar Inggris untuk Thailand Asif Ahmad mengatakan, perang yang dilancarkan oleh gerilyawan Melayu Patani di Thailand selatan dapat berkembang menjadi krisis keamanan internasional. 

Konflik yang menyebabkan lebih dari 5000 orang tewas selama delapan tahun terakhir, dapat berujung pada masalah seperti halnya yang terjadi di Yaman atau Afghanistan.

"Mungkin suatu hari nanti masalah itu akan menjadi masalah regional secara keseluruhan. Dan saya berani mengatakan, masalah ini menjadi magnet bagi kelompok lainnya untuk menciptakan kekacauan di tempat lain. Kita telah melihatnya di Yaman dan Afghanistan," ujar Dubes Ahmad seperti dikutip Scoop, Minggu, (16/1/2012).

Sementara Dubes Uni Eropa untuk Thailand David Lipman justru memberikan fakta lain mengenai konflik ini.

"Hampir dua orang dibunuh setiap harinya di Thailand Selatan. Ini jelas sangat mengkhawatirkan," ujar Dubes Lipman.

Pernyataan dua Duta Besar itu disampaikan dalam pidato pembukaan forum diskusi yang berjudul "Roadmap to Deep-South Resolution: Government Concerns and Policy Responses 2011-2014" di the Foreign Correspondents Club di Bangkok.

Sejumlah pejabat militer dan politikus Thailand juga turut berbicara dalam forum tersebut.

Menurut data statistik yang dikumpulkan oleh Pemerintah Thailand, dari 59 korban tewas dalam aksi penyerangan yang dilakukan oleh gerilyawan Patani itu 38 persen diantaranya merupakan penganut agama budha.

Thailand telah menghabiskan dana sebesar USD3,5 Milyar atau sekira Rp320 Triliun (Rp 9145 per USD) dalam operasi militer untuk perang melawan pejuang kemerdekaan Patani namun pembunuhan selama delapan tahun terakhir tetap meningkat.

Setidaknya 535 orang tewas tahun lalu dalam konflik yang terjadi pada tahun 2011. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari tahun 2010 yang mencapai 521.

Pemerintah Thailand dibawah pimpinan PM Yingluck Shinawatra telah mendapatkan kritikan terkait masalah ini.

Selasa, Januari 10, 2012

Mahasiswa Muslim Mengajukan Komite House Perizinan Memakai Jilbab




Etnis, agama, maupun kultur Muslim di Thailand memang berbeda dengan majority penduduk Thailand Buhda. Persoalan bukan pada perbedaan itu sendiri, tetapi terjadi saat hak masyarakat Muslim di Thailand untuk mengekspresikan identitynya dibatasi oleh sistem yang diberlakukan oleh pemerintahan Budha Siam-Thailand.

Terdapat beberapa badan NGO dan Organisasi Mahasiswa Muslim pada tanggal 10 Januari 2012 mengajukan pengaduan dengan komite House pada urusan agama meminta Dewan untuk mempertimbangkan perizinan untuk memakai jilbab di sekolah distrik Nong Chok Bangkok.

Namun sampai sekarang Dewan ini memutuskan untuk tetap memberlakukan larangan, dengan alasan bahwa sekolah dan badan-badan negara yang terletak di kompleks Candi harus mengikuti aturan dan adat candi Budha.

Hal itu memicu perdebatan resolusi baru atas apakah siswa Muslim harus diperbolehkan untuk memakai pakaian sesuai dengan keyakinan agama mereka.







Jumat, Januari 06, 2012

Serangan di Pabrik Dua Tewas Tiga Luka Parah, Lima Senjata dilarikan


Narathiwat – Dua relawan pertahanan kolonial Thailand tewas ketika geriliya RKK (Ronda Kumpulan Kecil) bersenjata masuk ke satu pabrik pada Jumat pagi (06/01) di desa Jalan Bah, Resok, Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan, dan mulai menembak, kata polis.

Pihak keamanan menyalahkan serangan itu pada Pejuang Kemerdekaan Patani Darussalam.

Pejabat polis setempat mengatakan, sekitar 30 penyerang masuk ke kompleks pabrik pada sekitar pukul 02.45 dan menembak para relawan pertahanan itu, yang kemudian membalas serangan tersebut.

Dua relawan pertahanan tewas di tempat dan tiga orang lainnya terluka parah.

Para geriliya RKK yang bersenjata itu melarikan diri, mengambil lima senjata milik relawan tersebut, satu pucuk M.16 dan 4 laras AK serta sekotak peluru.

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa para pejuang Muslim Patani masuk kedalam pos dengan menggunting kawat listrik berduri di halaman sekitar pukul 2:30 pagi. kelompok pertama memotong kawat  listrik berduri, menembaki anggota paramiliter Thailand dan gedung, dan mengambil sebuah senapan serbu M16 dan empat AK-47 dan amunisinya.

Kelompok kedua memotong pohon-pohon untuk menghalangi jalan saat pos tersebut diserang dan membakar ban-ban untuk mencegah pasukan pendukung mencapai tempat kejadian.

Pihak kepolisian Thailand percaya serangan tersebut telah dipersiapkan dan direncanakan oleh gerliya RKK Patani dengan baik dan telah diimplementasikan sebagai sebuah serangan balik terhadap penyerbuan pasukan keamanan Thailand.

Satu peperangan gerilya Patani di tiga provinsi selatan telah berkobar sejak tahun 2004 dan wilayah tersebut telah dilanda oleh pemboman dan penembakan hampir setiap hari sejak itu.


Selasa, Januari 03, 2012

Tahun Baru 2012 di Selatan Menyambut Bom, Dua Tentara Kolonial Thailand Tewas


Patani - Dua tentara Thailand tewas ketika sebuah bom pinggir jalan meledak di dekat truk yang mereka tumpangi di Pattani, Selatan Thailand (03/01).

Kedua korban berumur 26 tahun, saat itu hendak bepergian ke Pattani setelah diundang untuk menghadiri acara tahun baru 2012. Pattani merupakan salah satu dari 3 wilayah di selatan Thailand yang mengalami konflik selama delapan tahun.
"Mereka diundang untuk bergabung dalam pesta tahun baru dengan penduduk setempat," kata seorang pejabat kepolisian di distrik Mayo, Patani. Salah seorang yang tewas berpangkat Deputi infanteri Angkatan resimen di 15312 wilayah Pattani.
Pejabat itu menambahkan, keduanya tewas di tempat setelah bom itu meledak. Salah satu yang tewas diantaranya berpangkat Deputi infanteri Angkatan resimen di 15312 Pattani.

Pejuang Kemerdekaan Patani diyakini mengubur bom di bawah jalan dan memicu ledakan ketika truk pick up tentara melewatinya.

Saat ini terhitung 4.984 orang tewas dan 8.300 terluka sejak kerusuhan yang di mulai pada tahun 2004 itu.

Pejung Kemerdekaan Patani di tiga provinsi selatan telah berkobar sejak tahun 2004 dan wilayah tersebut telah dilanda oleh pemboman dan penembakan hampir setiap hari sejak itu.

Wilayah itu dulunya adalah sebuah Kerajaan Melayu Patani sampai dianeksasi Bangkok sekitar seabad yang lalu.




Minggu, Januari 01, 2012

10 Tahun Mendatang, Pemerintah Thailand Akan Kalah Perang Melawan Pejuang Kemerdekaan Patani


Penasehat Militer Senior Thailand Memperingatkan pemerintah akan kalah perang melawan Pejuang Kemerdekaan Patani  jika dalam 10 tahun mendatang tak  bisa menemukan solusi damai.

“Kebijakan BRN- Coordinate adalah menyedar, membina dan mencetak massa semagat Nasionalis yang anti kolonialis Siam dengan terorganisir rapi dan matang.”



Seorang penasehat militer senior Thailand memperingatkan pemerintah akan kalah perang melawan pemberontak, jika dalam 10 tahun mendatang tak juga bisa menemukan solusi damai di wilayah selatan yang bergejolak.

Chaiyong Maneerungsakul anggota Administrasi dan Pengembangan Dewan Penasehat Provinsi Perbatasan Selatan Administrasi Pusat (SBPAC), menyebut pemberontakan di tiga provinsi perbatasan selatan Pattani, Yala dan Narathiwat intensitasnya terus meningkat setelah berada dibawah komando Barisan Revolusi Nasional -Coordinate (BRN-Coordinate).

Menurutnya hampir separuh rakyat di daerah operasi itu merupakan warga netral. Sementara separuh lainnya terbagi antara pro pemerintah dan pro kemerdekaan Patani “Namun gerakan Pejuang Pembebasan Patani mengambil kendali dari kelompok orang dan membuat mereka percaya pemerintah tidak dapat memecahkan masalah,” katanya.

Dengan taktik gerilya, gerilyawan akan beroperasi di bawah arah untuk menghancurkan apapun milik negara, baik itu kereta atau pos kekuasaan. Mereka melakukan penyergapan dan serangan dengan segala macam bom.

Sementara struktur BRN-Coordinate yang masih sama sekali gelap, rinciannya bahkan tidak diketahui oleh kader-kadernya.
 
Dalam sekitar 10 tahun, jika perang gerilya masih tetap kuat, pemerintah akan menjadi pecundang karena orang di daerah yang bermasalah tidak akan lagi mentolerir penderitaan dan akhirnya mendesak pemerintah untuk mengakui kekalahan.

“Penganut buddha Thailand di wilayah itu telah dipindahkan, termasuk banyak Muslim Thailand telah mengambil tindakan yang sama,” kata Chaiyong.

Di tiga provinsi itu BRN-Coordinate juga telah ditunjuk pemerintah bayangan seperti kepala desa, tambons, kabupaten dan kepala provinsi.

Lebih dari 5.000 orang telah tewas dan sekitar 9.000 cedera di tiga propinsi perbatasan sejak gerilyawan Kemerdekan Patani memulai lagi aksi kekerasan di Januari 2004.