Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Minggu, Maret 01, 2015

The Land of Smile, We are at War

Right Of Self Determination: “hak anda untuk menentukan nasib sendiri atas wilayah yang kini di duduki asing. Alasan anda benar. Keinginan anda pasti terwujud. Insya Allah’’

"siang lempar senyum, malam lempar peluru''
 the land of smile.




Kerajaan kolonialis Siam menunding konflik di Selatan perang melawan teroris, pengganas, militant dan sepratis.

Patani Bukan Bangsa Teroris
We are at War..!!

Di Thailand Selatan konflik yang muncul dipicu ketidakinginan masyarakat Melayu Patani tunduk di bawah pemerintah kolonial Siam-Thai Budhha.

Dapat dikatakan bahwa konflik yang terkait dengan Melayu Patani selalu dikaitkan dengan etnisitas. Bahkan dalam konflik tersebut istilah yang digunakan bukanlah teroris, melainkan memperjuangkan bangsa yang tertindas dan independent.

Patani Selatan Thai, Konflik yang terjadi di negara Thailand bahgian provinsi Selatan sudah berlangsung selama puluhan tahun. Inti dari konflik ini adalah etnik Melayu yang majority berbangsa Melayu tidak mau menggabungkan diri di bawah pemerintahan colonial Thailand yang majority yang berbangsa Siam beragama Budhha. Hanya saja, konflik di Thailand Selatan tidak lagi hanya memperjuangkan hak-hak kaum Melayu, melainkan ada isu-isu nasional dan internasional yang telah bercampur di dalamnya.

Muncul Kerajaan Melayu Patani Darussalam, yang sangat terkenal dalam sejarah Asia Tenggara. Sejarah kemegahan ini dipicu oleh adanya aktiviti perdagangan yang menyebabkan tidak hanya kerajaan Thai yang ingin menguasainya, tetapi juga Belanda, Inggris, Perancis, dan Portugis.

Raja Rama I mencoba menguasai kawasan ini pada tahun 1785 sampai dengan Kesultanan Kedah, Kesultanan Kelantan dan Terengganu. Dalam kenyataannya, kawasan Melayu ini masih menjadi sebuah negeri yang merdeka. Namun sejak tahun 1791, Terengganu dan Pattani dikuasai dibawah Kerajaan Songkhla. Adapun Kelantan dan Kedah dibawah kontrol pemerintahan dari Nakhon Sri Thammarat.

Inilah awal babak sejarah perlawanan masyarakat Melayu di empat propinsi di Thailand Selatan. Upaya paksa Kerajaan Siam yang menguasai Wilayah Melayu Selatan dan Utara Malaysia menyebabkan terjadinya berbagai pertempuran dan konflik hingga hari ini. Menurut sejarah, puncak kebangkitan perlawanan Melayu di kawasan Patani adalah pada tahun 1902 ketika kawasan ini secara formal diserahkan kepada Kerajaan Thai. Formalisasi ini sering dirujuk pada Anglo- Siamese Treaty.

Pada tahun 1909 dimana Thailand menyerahkan Kedah, Perlis, Kelantan, dan Terengganu pada British. Keempat negeri ini kemudian menjelma menjadi bagian dari pemerintahan Malaysia kemudian yang merdeka pada tahun 1957. Namun demikian, masih menurut sejarah, Kerajaan Thai juga pernah memberikan kawasan Timur mereka pada 1893 kepada Perancis.

Politik memberikan ‘daerah jajahan‘ oleh Kerajaan Thai ini merupakan salah satu strategi untuk mengamankan pemerintahan mereka dari penjajah Eropa. Upaya paksa ini tentu mendapat perlawanan dari para pemimpin Melayu disana. Ini terkait dengan program Thainisasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat di KrungThep (Bangkok).

Namun untuk kawasan empat propinsi tetap mendefinisikan diri mereka sebagai ‘orang Melayu‘ yang lebih dekat hubungan emosional mereka ke Kelantan dan Terengganu, ketimbang ke Bangkok.

Harus diakui bahwa konflik yang muncul di Patani bahgian provinsi Melayu Thailand Selatan tidak berhubungan sama sekali dengan teroris. Melainkan memperjuangkan bangsa yang tertindas dan independent dari pemerintah kolonial Siam-Thailand. Bangsa Melayu Patani yang terjajah itu, terus berjuang melepaskan dari penjajahan Siam Thailand.

Entah sudah berapa banyak kematian. Entah sudah berapa kali bangsa Melayu Patani mengalami ‘genoside’ (pembantaian massal) oleh Siam? Entah sudah berapa kali bangsa Melayu Patani mengalami serangan militer atau invasi militer oleh kolonial gajah putih?

Entah berapa banyak tokoh Patani yang dibunuh pemerintah Siam? Entah sudah berapa banyak anak-anak tidak berdosa ikut juga terbunuh? Semua itu tak menyurutkan perjuangan mereka membebaskan bangsanya dari cengkaraman kolonial Siam Thailand.

Perjuangan ini belum lagi selesai..






















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar