Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Minggu, Mei 24, 2015

Satu Abad Dilupakan, Tok Janggut Pahlawan Malaya-Patani

24 Mei (1915-2015) Gugur Seorang Pahlawan Malaya-Patani, Satu Abad Kita Lupakan ..

Julukan Haji Mat Hassan Panglima Munas dengan panggilan Tok Janggut yaitu satu julukan atau ejekan kepada seorang tua yang menyimpan janggut panjang ini sudah cukup untuk menutupi kebenaran sejarah perjuangan bangsa kita melawan penjajah. Jika tidak, nama baik dan martabat Inggris akan terpengaruh sebagai kekuatan besar dunia. Jadi manusia bernama Tok Janggut ini harus dibunuh dengan cara apapun dan pengaruhnya harus dihapuskan di muka bumi Melayu ini.

TOK JANGGUT atau HAJI MAT HASSAN
Kesadaran Mat Hassan terhadap agama, bangsa dan tanah air dipupuk sejak kecil lagi. Dia dilahirkan di Kampung Saring, daerah Jeram, Kelantan pada tahun 1850 an. Setelah ayahnya menjabat sebagai panglima istana, ia juga dibesarkan dalam istana Tengku Seri Maharaja Jeram. Dia belajar ilmu agama di Mekah, Beliau pernah berguru dengan Syeikh Wan Ahmad Al-Fathoni (a). Ketika berusia 52 tahun dan masih di Makkah, Patani dikuasai Siam. Gurunya, Syeikh Wan Ahmad Al-Fatoni yang berasal dari Patani anak murid kepada Sheikh Daud bin Abdullah Al-Fathoni memberi amanat agar muridnya itu pulang, berikhtiar dan berjuang untuk membebaskan koloni Patani yang dikenal sebagai 'Negeri Serambi Mekah' itu. Pada saat yang sama, Inggris mulai melebarkan penjajahannya ke negeri Melayu di Utara dan Timur Semenanjung setelah berhasil menguasai negeri di pantai Barat Semenanjung.

Perjanjian Anglo Bangkok yang disegel antara Inggris dan Siam 1909 menyebabkan Kelantan, Terengganu, Kedah dan Perlis ditempatkan di bawah kekuasaan Inggris sementara Patani, Menara, Jalor dan Setol di bawah Siam. Kehadiran Inggris di Kelantan tidak direstui oleh orang Melayu dan perubahan administrasi yang diperkenalkan penjajah ternyata menindas penduduk watan.

Setelah Perjanjian Anglo Inggris-Siam pada tahun 1909 an, pihak Inggris mengambil alih pemerintahan negeri Kelantan dari Siam dan mulai membawa berbagai perubahan khususnya dari sudut administrasi. Perubahan yang dibawa telah menyentuh isu keistimewaan tradisional negeri Kelantan.

Hj Mat Hassan pulang ke kampung halamannya di Kelantan pada tahun 1910 serta membawa amanah yang disampaikan oleh Guru Sheikh Ahmad Al-Fathoni, untuk membebaskan Patani dari penjajah Siam (Thailand), berpegang dengan amanah Gurunya itu, Inggris juga merupakan kafir harbi seperti penjajah Siam yang harus dilawan.

Tok Janggut pulang ke Kelantan tatkala Sultan dan pembesar Melayu di Kota Bharu tidak mampu melawan Inggris. Dia menawarkan diri kepada Ungku Besar Jeram untuk mendirikan barisan menentang penjajah itu.

Sebenarnya penjajah saat itu sangat takut dan takut kepada Ulama atau Haji (b) yang baru pulang dari Makkah atau negara timur tengah. Gerak gerik dan tindak tanduk mereka sering diperhatikan oleh Pengawai Inggris apalagi perhatian yang serius perlu diberikan kepada Hj Mat Hassan ini yang pulang membawa amanah jihad dari gurunya harus dihapus segera.

Pada 22 Oktober 1910, pemerintah Inggris telah membuat perjanjian dengan pemerintah Kelantan. Pemerintah Kelantan yang berada dalam kondisi terjepit akibat perjanjian Inggris-Kelantan pada tahun 1910 an dipaksa menyatakan bahwa mereka berpihak Inggris dalam perang itu. Keputusan pemerintah Kelantan pada saat itu mendukung Inggris dan bukan Turki Ottoman dalam Perang Dunia Pertama. Keputusan ini mengecewakan Tok Janggut karena bertentangan dengan fatwa Syaikhul Islam, Syaikh Khayri Effendi, yang mewajibkan umat Islam berjihad melawan Inggris dan sekutunya. Sentimen anti-Inggris meningkat ketika pemerintah Turki Utsmani menyeru umat Islam berjihad melawan penjajah Barat. Tok Janggut seruan tersebut dengan melancarkan perlawanan terhadap Inggris di Pasir Puteh, Kelantan.

Semenjak itu dimulailah intervensi pemerintah Inggris di Kelantan. Pemerintah Inggris juga memperkenalkan lembaga pemerintahan baru seperti Kantor Polisi dan Pengadilan di tingkat daerah. Antara isu sensitif yang dibawa oleh penjajah Inggris tentang peraturan pajak tanah yang baru pada 1 April 1915 turut diperkenalkan pada rakyat adalah:
a) Inggris memperkenalkan peraturan pajak tanah yang mewajibkan petani membayar pajak tanah pada tahun 1915 an.
b) Petani dikenakan berbagai pajak yang memberatkan seperti pajak pohon kelapa yang berbuah, pajak pohon pinang, pajak daun sirih dan ternak sapi serta kerbau.

Peraturan ini mewajibkan rakyat membayar pajak tanah apakah tanah yang diusahakan atau tanah tidak diusahakan. Berbeda dengan pajak sebelumnya yang menggunakan pajak berdasarkan hasil tanah, jika banyak hasil tanahnya maka banyaklah pajaknya dan jika sedikit hasil tanahnya maka sedikitlah pajaknya, atau dibebaskan langsung ke tanah yang hasilnya tidak menjadi. Tapi kali ini, apakah tanah itu diusahakan atau tidak diusahakan akan tetap dikenakan pajak yang tetap mengikuti kelas-kelas tanah dari $ 0.40 sampai $ 1.20 untuk per hektar. Selain itu, pajak pohon kelapa berbuah sepokok dikenakan 3 sen, pohon pinang sepokok isi 1 sen, sireh 5 sen sejunjung, sapi dan kerbau 20 sen untuk seekor.

Pajak ini sangat membebani rakyat karena dikenakan kepada hal kebutuhan harian rakyat, tidak seperti sebelumnya, pajak hanya dikenakan atas kelebihan kebutuhan rakyat seperti pohon pinang jika lebih dari 10 batang barulah dikenakan pajak.

Pada tahun 1914 sebelum peraturan pajak tanah dilakukan, seorang wakil Inggris (c) yang berasal dari Singapura bernama Abdul latiff diangkat menjadi Kepala Daerah di Kabupaten Pasir Putih. Salah langkah siapan agenda Inggris untuk menegakkan semua hukum pajak Kerajaan Kelantan yaitu termasuk tiap-tiap seorang dikenakan pajak.

Bangkitnya satu sosok pejuang yang juga ulama mengobarkan ruh perjuangan dalam jiwa orang kampung di jajahan Pasir Puteh, menentang penindasan yang dilakukan oleh hegemoni koloni barat. Tok Janggut hadir untuk membebaskan rakyat Pasir Puteh dari ditindas dengan berbagai pajak yang tidak adil. Karena tidak sanggup menahan derita, banyak penduduk berpihak Tok Janggut dan kesadaran untuk membela agama, bangsa dan tanah air itulah menjadi prolog kisah perjuangannya.

Rakyat menghadapi masalah kesulitan membayar pajak karena kantor pajak terletak jauh di kota. Penduduk yang gagal membayar pajak akan ditangkap dan didenda. Selanjutnya sikap biadap kantor inggris yang bertugas menimbulkan kemarahan warga terhadap Inggris.

Akibat kezaliman ini, Tok Janggut bersama teman-temannya telah memulai satu gerakan anti-hasil di jajahan Pasir Puteh dengan mengarahkan pengikutnya memboikot pembayaran pajak kepada pemerintah. Hasilnya pada April 1915, kutipan pajak di daerah Bukit Abal dan Gaal telah turun tajam dari $ 3000 ke $ 89.32. Kuasa rakyat menggugat hegemoni pemerintah koloni Inggris.

Tidak berhenti disitu, Tok Janggut melanjutkan perlawanan dengan pemerintah Inggris, dengan mengadakan diskusi dengan pengikutnya di rumah Tok Nik Bus di Kampung Tok Akid tentang strategi untuk melawan Inggris. Akhirnya keputusan diterima untuk membebaskan Pasir Puteh dari penjajahan Inggris.

Setelah berhasil menguasai Pasir Puteh, Tok Janggut diangkat sebagai Perdana Menteri dan Ungku Besar Jeram diangkat sebagai Raja di Pasir Puteh. Seruan Jihad Tok Janggut untuk membebaskan Pasir Puteh dari penjajah telah dimanipulasi oleh Inggris dan menggelar Tok Janggut sebagai pengkhianatan (d) kepada Sultan Kelantan. Tok Janggut menjelaskan bahwa ia dan pengikutnya tidak berniat memberontak pada Sultan tetapi bertujuan menghalau pemerintahan inggris yang dianggap sebagai penindas. Perjuangan Mat Hassan Panglima Munas ditolak, bahkan kata 'jihad' yang diluncurkan oleh Tok Janggut diganti dengan kata 'pengkhianatan' dan 'pemberontakan'. Orang Inggris benar-benar ingin memperburuk nama baik pejuang kebebasan menyusul dampak dan pengaruh besar Tok Janggut terhadap rakyat negeri Kelantan. Bagi pihak Inggris, jika tindakan Tok Janggut tidak diblokir, posisi mereka sebagai kekuatan dunia yang terunggul dan bangsa yang disebut cerdik akan terpengaruh. Oleh yang demikian, keputusan untuk membunuh Tok Janggut telah disepakati secara bulat oleh pihak Inggris.

Atas saran Penasihat Inggris dan muslihatnya yang licik serta dukungan Datuk Bentara Setia dan Datuk Menteri, Sultan Muhammad ke-IV memutuskan untuk menangkap Tok Janggut dan pengikutnya atas kesalahan memberontak. Sementara itu, Inggris membawa tentara Sikh untuk membakar rumah penduduk desa, tindakan itu memicu kemarahan Tok Janggut. Pada tanggal 24 Mei 1915, Tok Janggut melakukan serang Fajar waktu jam tiga pagi dengan menyerang tenda tentara Inggris di Pasir Putih.

Beberapa kantor Inggris pula memimpin tim Malay State Guides memburu kelompok Tok Janggut dan menggeledah rumah penduduk kampong. Sementara itu, tim Tok Janggut dan tentara Inggris bertabrakan di Kampung Dalam Pupoh tidak jauh dari Kampung Merbol dan dengan teriakan takbir, Tok Janggut dan pasukannya bertempur hebat.



Tabrakan terakhir antara tim Malay State Guides pimpinan kantor Inggris dan Tok Janggut di Kampung Dalam Pupuh terjadi tembak menembak, dan akhirnya Tok Janggut gugur syahid bersama banyak pengikutnya dalam pertempuran melawan penjajah. Jenazahnya dibawa dan diarak sekitar Kota Bharu, kemudian digantung secara terbalik kaki diatas kepala dibawah di Lapangan Merdeka selama 4 jam, sebelum dimakamkan di Pasir Pekan.

Bila tokoh yang juga ulama itu meninggal, Inggris menyadari bahwa aura perjuangan 'Tok Janggut juga harus dihapus untuk menghindari peristiwa yang sama berulang. Selanjutnya Inggris melancarkan perang saraf untuk memperburuk nama Tok Janggut dan pengikutnya, mencari sisa pengikut Tok Janggut untuk dihukum. Bahkan, satu penawaran turut dipublikasikan kepada masyarakat bahwa siapa yang berhasil menangkap pengikut kanannya akan menerima imbalan. Penawaran dengan harga lumayan antara $ 250 - $ 500 untuk setiap orang.

Ada dikalangan pengikut Tok Janggut dihukum tembak sampai mati, dipenjara seumur hidup, dan ada juga yang ditembak oleh orang bayaran Inggris. Tidak cukup dengan pembunuhan pejuang agama dan rakyat itu, Inggris masih belum kenyang dengan darah Tok Janggut, mereka terus dengan harapan generasi mendatang menganggap Tok Janggut dan pengikutnya sebagai pengkhianat bangsa serta negara.

Meninggalnya seorang tokoh pahlawan Malaya Tok Janggut ini umpama menutup bangkai gajah dengan nyiru, usaha itu tidak berhasil karena masyarakat sudah dapat membedakan mana kaca dan mana permata. Meskipun usaha Tok Janggut untuk melawan dan mengusir penjajah dari bumi Melayu tidak kesampaian, semangat cintakan agama, bangsa dan tanah air yang tertanam kokoh di dalam jiwa Tok Janggut menyebabkan ia disanjung hingga kini.


______________________________

(a). Syeikh Wan Ahmad Al-Fathani adalah guru agama bertaraf wali kepada hampir seluruh ulama nusantara ini pada masa itu karena Syeikh Wan Ahmad adalah Tokoh orang Melayu yang telah diakui menjadi guru agama mengajar di Makkah dengan ketinggian ilmunya. Selain itu Syeikh Ahmad ini merupakan pendiri asosiasi orang Melayu di luar negeri yaitu Jami'atul Fathaniyah di Mekah dan ditunjuk oleh Sultan Abdul Hamid II sebagai Ketua Komite Percetakan Pemerintah Utsmaniyyah. Bahkan Syeikh Wan Ahmad juga dianugerahi kewarganegaraan Utsmani pada 1889.

(b). Di Indonesia, Orientalis barat seperti Dr. Christian Snouck Hugronje telah membuat satu penelitian khusus untuk mendalami praktek agama dan adat budaya masyarakat setempat khususnya di Aceh.
Hasil dari penelitian Snock Hugronje, dapat mengatakan:
"Belanda tidak perlu takut kepada pengaruh Haji Indonesia karena mereka hanya pulang dengan sorban, yaitu simbol Haji semata-mata dan tidak selalu bersikap benci kepada orang kafir. Tapi jika mereka pulang dengan ilmu pengetahuan Islam sebagai satu cara hidup yang lengkap, termasuk politik maka kelompok Haji ini harus diawasi oleh pihak penguasa .... "
Betapa besar pengaruh orang bergelar 'Haji' ketika itu sehingga pihak Inggris memberi perintah memaksa Sultan Kelantan yaitu Sultan Muhammad IV mengeluarkan titah perintah melarang rakyat (yang diantaranya ada banyak ulama) mendukung pemerintah Turki Ottoman. Bahkan Inggris juga memaksa mufti Kelantan ketika itu mengeluarkan satu surat dukungan supaya mendukung pemerintah Inggris dalam perang.

(c). Perwakilan yang bernama Abdul Latif yang dikirim oleh Inggris khusus dari Singapura ini mungkin seorang talibarut Inggris atau mungkin hamba The Hidden Hand, semata-mata untuk memicu isu atau api kemarahan penduduk dengan memperkenalkan sistem pajak yang tinggi dan tidak wajar. Bila api kemarahan tercetus, maka senanglah Inggris menjalankan agendanya yang tersembunyi dengan alasan untuk menyelesaikan masalah pemberontakan dan dalam waktu yang sama mengambil kesempatan untuk membunuh Hj Mat Hassan atau Tok Janggut yang menjadi ancaman besar dan sangat berbahaya bagi mereka.

(d). Seketika itu Istana di Kota Bharu Sultan Muhammad IV sudah memberi jaminan tertulis kepada Inggris akan memastikan kekacauan tidak terjadi di Kelantan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar