Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Kamis, Maret 17, 2016

ANGKHANA

Angkhana Neelapaijit
WANITA bernama Angkhana Neelapaijit berusia 60 tahun ini layak diberi gelaran sebagai wanita waja (iron woman), yang muncul dari 'perut' kota metropolitan Bangkok, Thailand. Wajahnya yang kuning bersih, terkesan sebagai pribadi yang lembut. Dia adalah istri Somchai Neelapaijit, pengacara kondang yang dilabel sebagian petinggi dan media Thailand sebagai 'Thanai Chon' alias 'Bandit Lawyer' atawa pengacara (peguam) teroris. Ternyata Angkhana tidak demikian dalam kehidupan sehari-harinya.

Sejak Somchai raib diculik sekelompok orang pada 2004, Angkhana tidak pernah tinggal diam dalam upaya mencari tahu ihwal keberadaan suaminya. Juga menuntut keadilan yang menjadi haknya, kalau masih ada. Sampai kini sudah selusin tahun dia berjuang untuk mendapatkan kejelasan tentang kematian -- kalau bisa disebutkan begitu -- suaminya.

Somchai Neelapaijit
Somchai Neelapaijit, pengacara papan atas Thailand itu banyak menangani kasus yang melibatkan simpatisan dan gerilya pembebasan bangsa Melayu Patani yang diperlakukan sewenang-wenang oleh aparat keamanan Thai (baca: penjajah). Bahkan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra juga menyebut Somchai sebagai 'Thanai Chon' alias 'Bandit Lawyer'. Bangsa Thai yang menjajah bangsa Melayu di bumi Patani (Thailand bagian selatan) menggelar para gerilya yang menuntut kemerdekaan negerinya sebagai bandit, teroris atau istilah lain yang terkesan jahat.

Menjelang kehilangannya, Somchai mengadvokasi sejumlah pemuda Melayu Patani yang diperlakukan secara tidak manusiawi oleh aparat kepolisian. Seperti dituturkan Angkhana, beberapa orang anggota polisi yang diperkarakan suaminya dalam kasus penderaan pemuda Melayu Patani itulah diduga terlibat dalam komplot menculik (dan mungkin membunuh) Somchai.

Misteri kehilangan Somchai kayaknya seperti awan tebal yang menyelimuti raibnya pesawat MH375, milik Malaysia. Tak gampang, memang. Selama dua belas tahun ini Angkhana menempuh berbagai cara dan jalur untuk menguak skenario di balik kehilangan suaminya. Pertama dia mendirikan Justice for Peace Foundation (JPF) dalam upaya membantu masyarakat Islam yang diperlakukan sewenang-wenang oleh aparat negara. Berkat kegigihannya, selama 1 dekade, JPF berhasil mendokumentasikan 40 kasus manusia hilang dan penderaan fisik serius oleh aparat keamanan.

Dia pun sering tampil di forum-forum yang terkait dengan hukum dan hak-hak asasi manusia, baik lokal maupun internasional. Belum lama ini wanila yang selalu tampil dengan jilbab hitam itu terpilih sebagai anggota Komisi Hak-hak Asasi Nasional Thailand.




Penulis Ahmad Latif seketika berada di Hatyai Town. Pada 16hb Mac jam 2.33 ptg· Amphoe Hat Yai, Thailand·

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar