Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Sabtu, September 14, 2013

Sepuluh Aparat Kolonial Thailand Tewas

Kolonel polis Wasant Phuangnoi mengatakan sekitar delapan tersangka geriliyawan menembaki empat tentara kolonial Thailand sebuah jalan di desa Kolong Mai daerah Yarang, provinsi Pattani, Thailand, dari dalam truk pick-up, menyebab tiga tentera tewas, Kamis (12/9).

Wasant mengatakan kelompok bersenjata tersebut menyita tiga laras senapan M-16 dari tentara tersebut dan melarikan diri dari tempat itu.




Insiden tersebut terjadi satu hari setelah lima polis tewas dalam serangan serupa di provinsi tetangganya, daerah Thung Yang Deang, Pattani.





Lima petugas polis Thailand tewas pada Rabu 11/09, setelah kendaraan yang mereka tumpangi diserang geriliyawan pembebasan etnis Melayu, di PATANI, Selatan Thailand. Selai membunuh polis para geriliyawan juga menrampas lima senjata yang digunakan petugas.

Sementara, berlaku dua bom meledak di sebuah sekolah di kawasan ibu kota provinsi Yala, Selasa 10/09, menewaskan dua tentara dan melukai sedikit ringan seorang siswa.

Pihak berwenang mengatakan bom pertama diledakkan untuk mengundang tentara datang dan setelah itu baru bom kedua meledak.

"Bom diletakkan di bawah bangku di depan pos penjagaan di dalam sekolah," tutur salah seorang juru bicara militer, Kolonel Pramote Promin.

Dia menuding geriliyawan yang menamakan diri Barisan Revolusi Nasional, BRN, yang mengatur serangan di provinsi Selatan ini.


"Itu pekerjaan BRN yang memiliki obsesi atas serangan," tambahnya.




Lebih dari lima ribu orang telah tewas di tiga provinsi selatan yang majority etnis Melayu sejak pecahnya 'Obor Revolusi' angkatan bersenjata memperjuangkan pembebasan Melayu Patani dari cekaman pemerintah kolonial Siam-Thailand pada tahun 2004.

Perjuangan Pembebasan diri umat Melayu Patani di perbatasan Selatan yang berpenduduk majority etnis Melayu yang dianeksasi kerajaan kolonial Budha Thailand pada 1902 telah ada sejak beberapa dekade.

Hatta, Pemerintah Thailand telah memasuki proses perdamaian dengan kelompok pejuang Barisan Revolusi Nasional (BRN) tahun ini.

Tapi pertumpahan darah selama gencatan senjata selama bulan suci Ramadhan tidak banyak berbuat untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam pembicaraan yang telah macet dalam beberapa pekan terakhir.
Lihat, http://dangerofpatani.blogspot.com/2013/07/gencatan-senjata-ramadhon-berdarah.html,

Pemerintah Thailand mengatakan pihaknya sedang mengkaji tuntutan yang disampaikan secara tertulis oleh BRN dan pembicaraan akan dilanjutkan bulan depan. Lihat, http://dangerofpatani.blogspot.com/2013/05/putaran-kedua-brn-daftar-lima-poin.html,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar