Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Sabtu, November 23, 2013

PATANI: Saudara Yang Terus Berjuang Melawan Kezaliman

“Kabarkan pada dunia, biar mereka tahu.” Kisah Janda Mujahid di Selatan Thailand''


Kemuning senja menemani perjalanan kami, tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) kembali ke Malaysia. Mentari berjalan perlahan ke balik bukit-bukit hijau sepanjang jalan yang mengular entah dimana ujungnya. Patani, Narathiwat, Yala di Negeri Patani (kini Thailand Selatan), tak terasa harus berpisah dengannya. Rintik hujan membelai lembut jalanan di Pattani di penghujung senjanya. Tetesnya membasahi bumi, mengingatkan akan air mata yang menetes pagi tadi.

Butiran bening itu berkumpul pada sudut matanya yang sedang berkaca-kaca. Suaranya seakan berat, tertahan, “..terima kasih..” sambil menghela nafas sembari berusaha menyeka air matanya. Ucapan syukur tiada terkira, berkali-kali ucapan terima kasih itu terlafal. Linangan air mata itu tak dapat disembunyikan, ketika kami, tim JITU mengunjunginya di sudut Patani, Wilayah Narathiwa, Rusok-Jaba. Sekitar satu jam dari wilayah Yala.(baca tulisan: Doa untuk Yala: Laporan Pandangan Mata di daerah konflik, Yala, Thailand)

Hayati, wanita bercadar itu diam sejenak. Kami hanya bisa menghela nafas, mendengarkan kisahnya dengan mata berkaca-kaca. Hayati memang tak sendirian. Di sampingnya ada Syamsiah dan Murni, yang kini senasib dengannya. Beralas tikar, beratap asbes, di dalam rumah sederhana itu,  dinaungi pepohonan lebat, kami mendengar kisah mereka, kisah tentang perjuangan sang suami yang kini tak dapat bersua dengan mereka.

“Alhamdulillah…saya bahagia..suami saya insya Allah mendapatkan apa yang diinginkannya,” lirih Hayati tegar. Tak terasa, air mata ini berkumpul di sudut mata. Masih ingat dalam benaknya, 5 Oktober 2013 silam, ketika tentara rezim  Thailand itu merangsek masuk. Memberedel rumah di kampungnya dengan longsongan peluru. Mulai detik itu, status janda disandang Hayati, Murni, dan Syamsiyah. Kejadian yang sudah berlangsung berabad-abad hingga detik ini.

Abdurrahim, Sofyan, Zulkifli, dan Utsman, memilih jalan yang Allah janjikan balasan terbaik. Lihatlah wajah senyumnya menjemput maut, tak ada yang lebih indah daripada karunia syahid di jalan Allah Ta’ala. Lihatlah, ketika mereka tinggalkan istri mereka dengan suatu yang tak pernah dirasakan orang lain ketika ditinggal keluarga tercinta.

Ketika ketiga istrinya, Hayati (Abdurrahim), Syamsiah (Sofyan), Murni (Zulkifli) begitu tegar dan gembira menyambut syahidnya suami tercinta. Bulir bening itu hanya menetes dalam bahagia dan haru, ketika saudara seiman mereka datang bersua dengan mereka. “Kabarkan pada dunia, biar mereka tahu,” pesannya kepada kami.

Berkali-kali air mata ini terseka. Melihat begitu tegarnya mereka.Tak ada rasa gelisah di sana, ketika sang suami kini telah tiada. Tak ada kesedihan mendalam, hanya lara sesaat, sebagai fitrah wanita yang ditinggal suami. Setelahnya, senyum kembali tersimpul. Dikisahkan dengan tegar kepada kami kejadian yang menimpa suami-suaminya. “insya Allah kami tak menyesal memilih jalan ini,” ungkap Syamsiah.

Syamsiah, wanita berjilbab lebar, sambil memangku sang buah hati, kini tak bisa lagi mengasuh puterinya bersama Sofyan. Wanita 21 tahun itu harus berjuang sendiri mengasuh anaknya yang masih berusia tiga tahun dan 9 bulan. Pun dengan bayi mungil yang baru berusia 6 bulan dalam asuhan Hayati, tak kan bisa menatap ayahnya.

“Ayah ingin berjumpa dengan Allah nak, kini beliau sudah berjumpa,” kata Murni, menjawab tegar ketika anaknya yang berusia 10 tahun dan 7 tahun bertanya,” Ayah kemana umi?”. “Insya Allah mereka sudah paham,” kenang Murni.

Jika sang istri begitu bersyukur atas nikmat syahid (insya Allah) yang akhirnya Allah berikan pada suami mereka, begitupun sang Ayah dalam senyum lembut pun merelekan putra-putranya. “Alhamdulillah..mereka mendapatkan yang mereka inginkan,” kata Umar, ayah Zulkifli.

Matanya berkaca-kaca, dibalik lipatan kulitnya yang sudah tak lagi muda, ada rasa gembira dalam lubuk hatinya. “Perasaan kami senang, semoga perjuangan putra kami dilanjutkan,” ungkap Yaqub, mengenang Sofyan, putranya yang baru berusia 28 tahun sudah menjemput kematian dengan senyuman.

Umar, Yaqub, Murni, Syamsiah, Hayati kini tak dapat menatap lagi wajah lembut orang-orang kesayangannya. Kini, putra-putranya tak dapat memanggil “Abah” lagi. Takkan ada lagi rengekan putra Hayati memanggil kalimat ‘Abah’. Kini, tak ada lagi sosok pejuang di tengah keluarga mereka. “Setiap pagi, insya Allah saya ke kuburan ayah mereka,” ungkap Syamsiah. Mengenang itu mengingatkan. Mungkin, dengan ziarah ke makan ayahnya, mengingatkan bahwa perjuangan ini tak kan berhenti walau ayahnya telah tiada.

“Insya Allah perjuangan ini akan dilanjutkan, hingga keturunan kami,” ungkapnya. “Semoga Patani tidak ada kezaliman, tercipta kedamaian dan kebebasan,” ungkap mereka. Dalam rumah sederhana itu, tak lupa terselip doa bagi umat Islam di Indonesia, dari para keluarga syuhada (insya Allah). “Agar Indonesia semakin berjaya,” bisik mereka.

Terakhir, Toni Syarqi, perwakilan tim JITU dan Road4Peace Indonesia menyampaikan “Kami merasa turut..” ucapnya berhenti sejenak, menghela nafas. Dengan terbata, dilanjutkan harapan kami,”Barangkali kalau melihat makam mereka, kita semua sedih. Tapi di sini, kami melihat harapan, kami masih berharap umat IslamPatani nak berjaya.”

“Kami berterima kasih diterima disini, kami mohon maaf tak membawa apa-apa ke sini, tapi akan membawa pesan (berita) ini ke Indonesia. Kami tak meninggalkan apa-apa kecuali hati kami. Walau fisik kami harus berpisah, tapi hati kami bersama umat Islam Indonesia tetap di sini,” ucapan kami terakhir untuk warga Patani.

Berat memang, meninggalkan saudara kita yang terus berjuang, melawan kezaliman. Patani, bumi Nusantara silam, dimana Islam mempersaudarakan kita di bumi ini. Islam dan bahasa Melayu, ikatan kuat bangsa Melayu. Sejauh mata memandang, dari Merauke hingga Patani. Kini, tanah ini mencari kedamaian. Kuncup Syuhada bermekaran. Hingga suatu saat, bumi Nusantara kembali tersenyum, dalam pangkuan Islam. Ada doa kita yang terselip untuk Muslim Patani. 


(Lesus, Wartawan Alhikmah, tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dalam Road4Peace. Senin, 18 November 2013, Patani).*

Sumber dari: An-Najah.net 

Patani atau Pattani?

Right Of Self Determination: “hak anda untuk menentukan nasib sendiri atas wilayah yang kini di duduki asing. Alasan anda benar. Keinginan anda pasti terwujud. Insya Allah’’


PATANI atau Pattani? Dua kata ini sering membingungkan umat Islam untuk menyebut Provinsi muslim di Thailand Selatan itu. Namun, Islampos menemukan jawabannya saat melakukan liputan selama empat hari di sana.

“Sebut kami orang Patani. Karena Pattani adalah bahasa yang disematkan penjajahan Siam,” kata Zakariya aktifis Hak Asasi Manusia (HAM) Patani kepada Islampos.

Zakariya menyebutkan bahwa asal nama Patani berasal dari kata Fathony atau Fathonah yang dalam bahasa Arab berarti Cerdas.

Meski memiliki Provinsi tersendiri di Thailand, namun sebenarnya Patani lebih merujuk kepada tiga wilayah basis muslim (Melayu) di Thailand selatan yakni, Yala, Narathiwat, dan Patani.

“Masyarakat Patani menyebut ketiga Provinsi ini dengan Patani Darussalam,” terang Zakariya.

Dalam penelurusan Islampos, kata Pattani banyak dipakai untuk menyebut Patani dalam bahasa Inggris dan bahasa Thailand.

Menurut pakar Sejarah Melayu dan pengarang buku Sejarah Perjuangan Melayu Patani (1999), Nik Anuar Nik Mahmud, sejarah awal Kerajaan Melayu Patani masih diselimuti kekaburan. Dalam catatan sejarah, belum dapat dipastikan kapan sebenarnya kerajaan Melayu Patani didirikan, meski kerajaan Patani sudah memegang peranan penting di Pelabuhan Semenanjung Melayu pada abad 8 Masehi.

Sejarawan Eropa, kata Nik Anuar, percaya bahwa negeri Langkasuka yang terletak di pantai timur Semenanjung Tanah Melayu antara Senggora (Songkhla) dan Kelantan adalah lokasi asal negeri Patani. 


video
Lagu: Patani Darussalam

Sumber dari: Islampos.com

Yala Kota Perjuangan Bangsa Melayu Tertindas

Doa untuk Yala, laporan pandangan mata dari daerah konflik Yala, Thailand Selatan

YALA  - “Drr…drr…drr..”  desing Helikopter hilir mudik menggantung di langit Yala, Thailand.  Malam itu, di atas Mesjid Besar Darul Muhajirin, di jantung kota, suaranya berderu kencang. Kelap-kelip merah berputar-putar di atas kota Yala. Entah tak tahu mengapa Helikopter tentara itu terlihat mondar mandir. Tapi memang, Yala, kota yang kami datangi dalam misi perdamaian ‘Road4Peace’ medio November 2013 dikenal sebagai wilayah konflik, sejak wilayah Melayu ini jatuh ke cengkraman Siam, Thailand, akihir abad 18.

Ada duka di sana, ketika kaki harus beranjak dari tanah air, tempat kelahiran. Ada duka di sana, ketika bahasa kebanggaan mereka, Melayu tiba-tiba harus diganti dengan bahasa yang mereka tak mengerti. Ada duka di sana, ketika para pejuang itu tak tinggal diam. Diperjuangkannya rasa keadilan dalam dadanya. Mulai detik itu, perlawanan tak kan berakhir.

Yala, Pattani, Narathiwat, negeri Melayu di sudut Thailand yang selalu berkisah. Kisah tentang kepahlawanan mereka, melawan kezaliman di sana yang terus tergerus waktu. Hingga kini, ia terus berputar. Ketika kami, tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU), masuk ke wilayah Yala, dalam dua jam perjalanan dari Sadao, perbatasan Malaysia dan Thailand, begitu memasuki Yala, maka tentara-tentara Thailand  itu menyambut kami dalam pos-pos jaganya.


Tiga kali, mobil konvoi Road4Peace yang membawa misi keadamaian di Yala dan Pattani melewati kawat duri yang mengular. Tentara-tentara yang melirik ingin tahun siapa saja yang ada di dalam mobil sambil menenteng moncong senjatanya. Di simpang-simpang jalan itu, tentara Thailand bersiaga, mondar-mandir. Yala, ia selalu berkisah. Ketika mobil-mobil itu tak lagi parkir di bahu jalan, tapi malah ditengah, karena bom siap meledak entah kapan di pinggir jalanan, depan ruko-ruko itu.

Yala, ia berkisah tabung beton besar setinggi satu meter penghalang di hadapan tiap ruko di jalanan, sebagai penghalau ledakan. Ketika kawan kami, Fajar Shadiq yang sedang melakukan liputan dipukul dan dikejar orang tak dikenal. Larilah ia ke wilayah umat Islam di Yala, zona Palestina disebutnya. Sedangkan di balik rel kereta sana, tempat perlawanan kezaliman disebut zona Israel.

Kota besar ini, ditinggali majority muslim yang tertindas. Dengarlah penuturan Azman Ahmad dan Majdi Zakariya, pria asli Yala-Pattani yang menuturkan kisahnya yang tanpa sebab dimasukkan ke balik jeruji saat JITU mengunjungi sekolah Islam Terbesar di Yala, Thamabita School, atau Mahad Haji Harun. Dengan bahasa kebanggan mereka, Melayu, curahan hatinya tertutur.

“Saya tiba-tiba ditangkap tanpa tuduhan yang jelas, dengan pasal Undang-Undang Istimewa yang dinamakan Undang Poroko (Bahasa Thaliand-semacam UU Subversif_red),” kata Majdi Zakariya. Pria muda itu baru keluar tahun 2011 menghirup udara segar setelah lima tahun 10 bulan mendekam.

Majdi pun tak tahu, mengapa ia di tangkap. Dengan alasan kepemilikan senjata, ia masuk jeruji besi. Kisah Majdi selalu berulang, hingga kini, ketika JITU berada di Yala. Majdi tak sendiri, Azman Ahmad, pria muda ini dituduh akibat menolong keluarga korban penangkapan.

“Dua tahun saya ditangkap karena menolong keluarga korban yang ditangkap, yang kesulitan.” Katanya. Masih banyak, Azman dan Majdi lainnya yang bertebaran di bumi Nusantara ini. Majdi dan Azman memang lebih beruntung, dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.

Lihatlah, penuturan Abdurrahman, guru Sekolah Haji Harun yang kami temui di Jantung Kota Yala itu. “40 orang guru sekolah ini, ada yang ditembak dalam perjalanan, hilang,” kenangnya. “Bahkan murid-murid pun ada yang pernah ditembak,” lirihnya. Dan hal ini terjadi setiap hari di Yala.

Yala, ialah sebuah kisah tentang perjuangan umat Islam melawan kezaliman. Di balik duka mereka, ada senyum yang tersimpul di sana, senyum perjuangan. Wanita berjilbab yang berjalanan di sudut-sudut kota. Pria dengan sarung bercakap sepanjang jalan. Anak-anak dengan peci yang menanti masa depannya.

Yala, ialah sebuah kisah, tentang perjuangan umat Islam melawan kezaliman. Kumandang adzan magrib dalam gelap Yala menemani tim JITU, merebahkan hati, mengecupkan kening. Berkumpul penduduk muslim Yala dan kami dalam Mesjid Darul Muhajirin di pusat kotanya. Ada senyum di sana, sambutan hangat, ketika kami, dapat bertutur tentang perdamaian.

Ada rasa optimis di sana, ketika kami kisahkan tentang perjuangan umat Islam di Suriah, Mesir, Rohingya, Palestina. “Ketika Syaikh dari Suriah ke Indonesia, mereka bilang tak butuh harta kami, uang kami, kami hanya butuh doa kalian, penduduk Indonesia,” kata M. Pizaro, anggota tim JITU dalam rombongan Road4Peace.

Doa, senjata terkuat umat Islam di seluruh dunia. Kumandang adzan Isya yang menggema di langit Yala, mengakhiri pertemuan kami Ahad malam itu. Adzannya begitu syahdu. Ya Allah…ini adalah bumi-Mu, Negeri-Mu, ketika orang-orang mengecupkan keningnya karena-Mu. Panggilan Ilahi, itu terus menggema di Yala. “Mari menuju kemenangan”. Air mata Yala berganti dengan senyum optimis akan doa saudaranya.

Mari selipkan Yala dalam Doa kita. Dalam sujud-sujud kita. Dalam pinta kita. Dalam tangis kita. Selipkan doa untuk Yala.

Allahummansuril ikhwananal mujahidiina fi Yala, Allahummansuril ikhwananal mustadh’afiina fi Yala. Amiin Ya Mujibassailin


(Rizki Lesus, wartawan Alhikmah, tim Jurnalis Islam Bersatu dalam Road4Peace, Ahad 17 November 2013, Yala. Senin pagi, tim JITU akan bergerak ke Pattani.)

Sumber dari: Arrahmah.com

Selasa, November 05, 2013

Dua Tahanan Diseksa Hingga Tewas

Sekira dua tentera tewas dan empat geriliyawan Patani gugur dalam pertempuran sengit di desa Namdam Kabupaten Thung Yang Deang Provinsi Narathiwat, antara pihak keamanan Thailand dan pasukan pejuang Patani Minggu (06/10).  Menjadi tanda tanya misteruis pada ahli keluarga mangsa yang tewas. Baca lanjut di: http://dangerofpatani.blogspot.com/2013/10/bertempur-dua-tewas-empat-gugur.html, 

Selain itu dalam penyerangan, militer Thailand juga menangkap tujuh orang yang diduga sebagai anggota geriliyawan Patani di Selatan Thailand. 

Menurut ahli keluarga mangsa tahanan yang tewas, pihaknya mengamati kasus kematian tahanan keatas anaknya ini dengan sangat serius. "Kami berkomitmen untuk menelusuri setiap dugaan pelanggaran hukum yang menyebabkan kematiannya... sesuai dengan hukum yang berlaku," tegas ahli keluarganya.

Dinataranya terdapat dua orang tahanan yang tadinya ditemukan tewas di dalam kebun karet berdekatan tempat bertempur. Hasil autopsi menunjukkan bahwa kedua mangsa yang tewas karena dipukuli, dikelar dengan senjata tajam dan di tembak. Pada jasadnya ditemukan luka akibat tindak kekerasan, termasuk salah satunya luka bekas di bagian leher mangsanya.

Penyelidikan kasus kematian kedua ini berawal ketika ahli keluargaknya terang-terangan menuding tentera telah menyiksa anaknya di dalam kebun karet hingga tewas. Dua mangsa tewas ini ditangkap tentera sebelumnya di temukan tewas dalam kasus baku tembak.

Menurut ahli kedua, kedua mangsa ini sebelumnya menyerah diri kepada tentera sewaktu berlaku pertempuran, dan kedua mangsa di bawa ke kebun karet yang berdekatan tempat kejadian untuk soal siasat sehingga didapati ketemunya kedua mangsa tewas.

Patani Freedom Fighters Or Terrorists..?

An open letter to Thai Media
(Translated from a Malay article : Surat terbuka kepada media Thai )

 By: Abu Hafez Al-Hakim

Greetings

The major influence a media has in a society is undeniable. Its role is not just to deliver news and information to the public but also to influence the views or attitude of the society, through reporting and writing. Thus journalists are considered to be agents of change in a society.

In the context of political conflict in the South (Patani) the main-stream Thai media has long been responsible for propagation of news and information . We, the freedom fighters of Patani,  view  the  general opinion and the way  information and news being disseminated  by  Thai media  and  journalists as outdated . In spite of the rapid progress in the field of  information technology nothing much has changed . The  Thai media  HAS NEVER or RARELY  been fair to the Patani freedom movements in its reports. Since 50 years or so until now the situation has not improved.

In the Thai media,  Patani  freedom fighters  are often negatively portrait  as "Southern Villains or Terrorists " . This attitude reflects extreme prejudice and biased reporting. What is the justification to label persons who fight for the rights of their  own people as such, only because they violently oppose Thai suppression ?   If that is the case, King Naresuan and the King Taksin  could also be called terrorists because they also rose up ,using violence, against  the Burmese occupation of Ayutthaya in the past.

When the late Tuan Guru Haji Sulong submitted his infamous 7 petitions in 1953 , not only was he arrested and imprisoned on “revolt” charge , but was also eventually murdered . Against whom did he revolt ?  Was his intention to topple the regime in Bangkok or just simply to  demand rights and justice  for the Malay Muslims in the South?  This unjust  Label  remains  until today and continues  to be propagated by certain media in Thailand , disregarding  the sensitivity of the people of Patani Muslims who revere  him as a great ‘Ulama’( religious scholar).

The freedom fighters groups are  also called "Separatist Movements  ". It is important to stress here that   all   Patani  freedom fighters  groups are  LIBERATION MOVEMENTS, not SEPARATISTS. By   political science   definition   there is a  great  difference between a liberation movement and a separatist movement. All those labels or  terms were   intentionally   created   by the Thai Government to paint negative picture of the fighters. Unfortunately, the Thai media blindly adopted  the  label without profound  consideration nor  objective research  of the fighters' true intention , thus putting them in a disadvantage position in the eyes of Thai general public and world community.

The main principle of journalism states that : "The main task of a journalist is to report the truth and to respect the rights of people to obtain the correct  information." Apparently in the context of Patani reporting , it is not so.  Thai journalists  are  often seen tagging the security forces , or  government personnel to a location for news  coverage. This is sufficient for general public to view them as "government people" and therefore  become uncooperative and denied them vital and accurate information they badly need.   With language  barrier ,  unprofessional attitude and laziness  , they  are easily satisfied with the  "second-hand" information readily provided and “spoon-fed “ by the security forces. Thus many news reports are seen concluding typically in a “stereotype “ manner :  the authorities are still investigating the incident, believed to be carried out  by the Southern terrorists from the area.

Perhaps they have forgotten about this another principle: To seek out and disseminate competing perspectives without being unduly influenced by those who would use their power or position counter to the public interest, that is to find  and present  different views without being influenced by those who  abuse power or office contrary to the interest of people in this area. In carrying out his duties, a journalist believes in freedom to gather information and publish his reports honestly and reserves the right to make fair reviews and criticism.

Thai media also  rarely  provides space and opportunity  for  the  freedom fighters  to voice their  opinion or to communicate with  the general public throughout Thailand, to address  some important issues .  Perhaps they would be thinking : why must they  give space and coverage to villains and terrorists ? Until now the general Thai public  are still wondering : Why are the Malays in the South resisting   the Government?   Why resort to violence ?  Why do they want to secede from Thailand?  Why are there bomb explosions everywhere, involving not only the armed forces but also the public lives and  properties ? Why are teachers being  targeted ? ...and so on.

Another important Principle of Journalism is  “To give voice to the voiceless; document the unseen” . It urges the media to open space and opportunity for those who are oppressed to highlight and make their voice heard. The Thai media is expected to  document  things that are  intentionally “hidden” by the authorities , so that the truth  will be investigated  and exposed . Otherwise the Thai general public will  forever be  denied true information  and the Malay Patani  people ,  particularly  the freedom fighters, will continue to be regarded as villains, rebels  or worse as terrorists, while in reality they struggle to restore their deprived  rights.

The situation is however different with foreign journalists and media. They are very professional, with a proactive approach and produce unbiased reports. They do not expect information to be fed, but  work hard to extract  information  by adopting the "Engaging the community" approach. Though they also face constraints of language and culture like their Thai counterparts, but the professionalism and ethics they strongly adhere to in  journalism, provides them  easy access to information from  reliable and original source  (authentic). The Patani  Malays , especially villagers, are more comfortable with foreign journalists compared to  Thai journalists.

That's why we find news reports  and information  posted  by foreign media are much better and more trustworthy compared to the Thai media.  Sometimes there are great differences of facts and information between both or even contradicting to  those reported in the Thai media. A considerable number of people throughout the world, as well as over 300 millions of Malays of the Nusantara  now have  a better understanding of Patani people's suffering, plight  and their struggle , in comparison to   60 million Thai people who have yet to understand the true nature of the conflict in the South.

Another important issue  in Thai media reporting  is HISTORICAL FACTS. In the context of the history of Patani, beginning  from the era of Langkasuka  Empire to the present day, Thai media are more likely to adhere fanatically  to the historical version that is written by their own people .  The position and relationship of nation-states in the past, particularly the  Patani-Siamese political conflict, is only seen from the Thai historical point of view. This resulted in wrong assumption that Patani and the Northern States of Malaysia (Kelantan, Kedah, Terengganu and Perlis) were  initially owned by Siam. Thai history  claims that some territories that are now part of the neighboring countries such as Laos, Malaysia, Khmer and Myanmar were originally theirs. On the contrary  if we refer to the histories of the countries involved we will find that they also claim that all the mentioned areas were historically theirs but subjected to Thai domination and  expansion during certain periods.

If we study  the records written by foreign historians and travelers who had had contact with Patani in the past  such as the Chinese, the Japanese, the Dutch, the  Portuguese, the English and the Arabs, we will discover detailed records that are very much different to the ones written by the Thais. These facts are often ignored and overlooked by Thai media.

 Thai media has always labeled  the Patani freedom fighter as bandits, villains, separatists, rebels  or terrorists .  Since the Patani Malays did not have proper channels to voice their opinions, the feelings of dissatisfaction remained unheard for years. Ironically, when the Patani freedom fighters call the Thais  “PENJAJAH” (colonialist), they turn surprised and angry  . Then we find the Thai media begin to exploit the issue  in their news reports, adding more  fuel to the fire. They find it hard  to accept the fact that they were  also a " colonial"  power, or conquerer  in the region.  The history of the people in the Malay world of Nusantara has, without doubt, regarded  Siam as one of the  colonialist  along-side with the European powers of the previous centuries.

The  Kuala Lumpur  peace initiative  through  the  General Consensus on Peace Dialogue Process  dated 28 February 2013  gave a new and acceptable recognition to the fighters. They are no longer considered as villains nor terrorists but as "people who have different opinion and ideologies from the (Thai)  State "  Almost all of the world's leading foreign media pay serious attention and are optimistic for the success of  the process towards peace. Some Thai media ,on the other hand, not only  turn a cold shoulder to the peace process, disregarding their own government's effort for a peaceful solution, posing a lot of questions discrediting  the process , they go as far as turning  themselves into a bunch of anti-peace  group, or peace spoilers. If they do not want this conflict be settled by peaceful means, are there any other alternatives ?  Or does the Thai media share the same sentiment  with certain parties who prefer to see the situation as status quo, where unrest and instability rules the day, resulting in countless casualties in lives and properties ? This is similar to the attitude of certain people, the opponent of peace ,who will lose influence and material gains  from certain unlawful dealings in the event of peace. Is that  their hidden agenda ?

 Lately ,we find a small number of Thai journalists and  media start opening  their eyes and make an effort  to seek the truth  to present the general public. They no longer rely on biased " script" dictated  to them by the authorities. They are independent , hard working, doing  research and thorough investigation,  at the same time engaging the community of different language, race and culture. What they get in return is people's trust  who are ready to open their hearts for them, providing whatever information deemed  necessary. For that reason we can now read several different reports from them ,including some video documentaries, about certain important events  such as the "Tak Bai Tragedy" (rewritten) report, the death of   Mat Rosol, the stand-off  involving  Ustaz Rahim or " Black Pele", and  the latest  shooting incidence at Paku, Thung Yang Deng  District .  All those writings create  an alternative perspective and balanced news presentation and narratives for reporting  in the South. Through this the voice and views of the fighters are heard. Unfortunately these journalists are cynically referred to as the "voice" of BRN.

Indeed, there is no other option for Thai media and journalists other than making  a "Paradigm Shift" in their  reporting career , uphold The Universal Principles of Journalism and the Guiding Principles for Journalists, without fear or favour. That is the only way  people's voice will be heard , the truth will prevail ,and justice  will be served.  The Thai media and journalists will be respected for being trustworthy  and reliable , not only by the local community, but the general public throughout Thailand and the world.

With regards.

 Vinegar and Honey - from outside the fence of Patani

 Muharram/November 2013

Sumber dari: http://www.deepsouthwatch.org/jw/node/4913